Antagonis?

Antagonis?
9. Hal lain


__ADS_3

Bukannya takut mendapat bentakan, Camorra justru menatap nyalang ke arah Arzhel untuk membalas tatapan laki-laki itu. Mungkin dia pikir Camorra akan takut, tapi dia tidak selemah itu hanya karena seorang laki-laki. "Apa?" tanya Camorra tanpa mengalihkan tatapannya.


Arzhel tentu makin dibuat emosi, ia ingin berbicara lagi tapi tanpa ia duga Alexa maju dan menampar Camorra. Tentu itu membuat Matteo terkejut, Begitupun dengan Arzhel yang mengira jika Alexa tak akan pernah melakukan hal seperti itu.


"Apa seorang gadis dari kalangan bawah mencintai yang lebih di atasnya adalah sebuah kejahatan? Aku bisa tahan mendengar kalian terus menghinaku, tapi tidak dengan Arzhel. Arzhel tidak salah apa-apa," tutur Alexa dengan tangan yang terlihat gemetar, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar pertanda jika dia takut, tidak seberani itu.


Camorra masih memegangi pipinya, tak percaya jika gadis itu berani menamparnya. "Wajah mengemismu itu tidak akan pernah mempengaruhiku. Dengar, walaupun banyak orang mendukung kalian, tidak sedikit orang bisa menilai mana yang berlian dan batu."


"Kamu merebut milik orang lain tanpa tahu malu, muncul tanpa peduli orang lain karna kamu berpikir Arzhel sudah menjadi tamengmu, tidak akan ada yang berani menyentuhmu." Camorra tertawa kecil. "Terus saja hidup dalam bayang-bayang, Alexa Hazetta."


"Camorra-" Belum juga kalimat itu selesai, seseorang datang dan langsung menampar Arzhel cukup keras. Itu Hazel, sejak tadi dia melihat bagaimana Alexa menampar sahabatnya.


"Tidak usah bicara lagi dasar mulut sampah, laki-laki tidak punya sopan santun dan tahunya hanya membela diri tanpa tahu bagaimana cara meminta maaf," ucap Hazel dengan nada menekan. "Bisa saja aku menampar Alexa, tapi nanti aku akan lebih dipermalukan bukan?"


"Temanmu itu salah, Hazel," jawab Arzhel geram.


"Kamu yang tidak bisa menerima fakta, di saat orang itu menyampaikan fakta kamu akan membuat mereka terlihat bersalah dan kamu juga semakin tidak tahu diri," balas Hazel, ia lalu menatap pada Alexa. "Tamparanmu kepada Camorra akan selalu aku ingat, suatu hari siapa yang benar akan terlihat."


Alexa sedikit tersentak, sementara Arzhel ingin maju lagi tapi Matteo dengan cepat langsung menghalanginya. "Jika kamu bukan pengecut, segera mundur."


Hembusan nafas kasar terdengar, Hazel merentangkan tangan kanannya menunjuk ke pintu. "Pintu keluar ada di sana."


"Kamu berani mengusirku?" tanya Arzhel tak percaya. Camorra dan Matteo saling menatap dengan netra membelalak.


"Aku tidak bilang begitu, tapi memang lebih baik seperti itu bukan? lebih bagus agar tidak ada yang menyakiti gadismu yang polos seperti kertas tak ternodai," sarkasnya. "Celsa, antarkan mereka berdua karena aku lelah tidak bisa mengantar."


Celsa lebih memilih untuk melakukan yang Hazel katakan, ia berjalan lebih dulu. "Mari Tuan Arzhel dan Nona Alexa."

__ADS_1


Arzhel menatap Hazel yang raut wajahnya benar-benar seperti tidak ingin melihatnya lagi, aneh. Ini jelas bukan Hazel yang dia kenal, dia termenung. Namun Alexa menarik lengannya membuat pikirannya buyar, ia lalu memilih untuk pergi dari sana agar Alexa tenang. Sedang Keizo yang sejak tadi hanya menyimak, dia bingung harus bagaimana.


Hazel berbalik dan menyentuh pipi Camorra. "Kamu baik-baik saja, Morra?"


Camorra sedikit meringis, ia melihat telapak tangannya dan ternyata ada noda darah yang samar di sana. "Sial, dia sampai menggunakan kuku ternyata, pantas saja pipiku sakit sekali."


Evie yang tau situasi sejak tadi sudah mengambil kotak obat lebih dulu dan memberikannya pada Matteo. Keizo lalu mendekat. "Aku kira kamu tidak benar-benar dijodohkan dengan Arzhel."


Hazel berdecak. "Jangan bahas sepupumu itu, kalau mau tetap di sini berhenti dan jangn membahas dia."


"Tenang, sejak dulu pola pikir Arzhel memang kurang aku sukai. Lagipula aku tidak akan memihak siapapun karena aku belum sepenuhnya tahu," jawab Keizo setelah ikut duduk di kursi taman yang teduh.


Matteo mengobati Camorra dengan telaten, sementara Hazel hanya menyender sambil melihat ke atas. Dia tidak mengira jika Arzhel sebajingan itu, andai dia bermain dari awal cerita, Hazel pasti akan menolak perjodohannya dan membuat Hazel membenci laki-laki itu.


Lagipula aneh sekali, kenapa dia bermain bukan dari awal.


Camorra dan Matteo langsung menoleh, mereka menatap Hazel yang masih tak bergerak. "Tidak apa, lupakan. aku sudah tidak peduli."


"Kamu bicara apa?" tanya Camorra dengan nada yang susah tinggi, siap akan memarahi bila mendengar jawaban Keizo.


"Keizo jangan jawab Morra jika kamu tetap ingin tenang, lupakan saja, semalam aku hanya hanya lelah." Barulah Hazel membetulkan cara duduknya, suasana cerah tapi teduh ini sedikit membuat Hazel tenang.


"Kata-kata kamu keterlaluan ya?!" sungut Camorra yang langsung berdiri, Keizo yang peduli pada tubuhnya langsung mundur sedikit dengan wajah panik.


"Aku tahu, maaf. Semalam aku tidak berpikir panjang karena sangat tidak mau pulang," ujar Keizo.


"Biarkan saja, Camorra. Hazel sudah bilang tidak apa-apa," timpal Matteo menenangkan Camorra yang saat ini berkacak pinggang sembari menatap Keizo dengan tajam.

__ADS_1


"Hazel, temanmu ini tidak akan membunuhku bukan?" tanya Keizo sedikit maju lagi untuk menarik lengan baju gadis itu.


"Tidak tahu, biasanya dia memang senang menerkam orang tiba-tiba."


"Hazel!"


.


.


.


>> Arzhel Agnan Mageo <<


Sejak pergi dari kediaman keluarga Betrix, Arzhel terus termenung memikirkan bagaimana Hazel dengan berani menampar dan mengusirnya. Dia bahkan memilih untuk mengantar pulang Alexa terlebih dahulu dengan alasan ada hal yang harus ia urus, awalnya gadis itu tidak setuju serta bertanya urusan apa siapa tahu dia bisa membantu. Namun Arzhel meyakinkan hingga akhirnya Alexa mengerti meski dengan berat hati.


Dia mencintai Alexa, sangat. Bahkan ingin membatalkan perjodohannya dengan Hazel hanya agar bisa memperjuangkan Alexa kepada keluarganya yang terus menentang hingga ia bisa menikah dengan pujaan hatinya.


Selama ini Hazel terus mengganggunya, benar-benar muak. Sampai suatu hari ia mempermalukan Hazel di depan banyak orang demi Alexa, dia benar-benar tidak bermaksud tapi Hazel terus menyakiti Alexa bersama Camorra. Ya, Matteo juga mendukung ia tahu tapi dia tidak banyak bertindak saja.


Namun sejak Hazel dikabarkan jatuh dari tangga, keesokan harinya gadis itu berubah. Seperti bukan Hazel yang ia kenal selama ini, gadis mewah si pusat perhatian, kasar, dan angkuh itu hilang total. Ya hampir, tidak total juga.


Bahkan ya, memang baru beberapa hari tapi Hazel tak menyakiti Alexa lagi. Ya ampun ... apalagi yang terjadi? Semuanya terus saja berubah ubah membuatnya bingung bukan main, tak ada petunjuk, hanya kalimat-kalimat di atas kepala setiap orang hanya berisi informasi singkat.


Semuanya seakan selalu berubah setiap waktu, dia tidak punya petunjuk apa yang harus ia lakukan dan dia tidak boleh gegabah. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya tetap melindungi dan memperjuangkan Alexa karena begitu bukan seharusnya peran utama laki-laki dan perempuan?


Antagonis tetaplah antagonis yang tidak pantas mendapatkan cinta si peran utama. Entahlah, lagipula dia benar-benar mencintai Alexa. Gadis yang menurutnya benar-benar sempurna.

__ADS_1


Semoga, apa yang ia lakukan tidak berdampak apa apa lagi. Dia tetap berjalan di jalannya.


__ADS_2