
Keizo sedikit meremat lengannya. "Hazel bilang dia akan menampungku di sini, jadi aku tidak akan kembali."
Hazel yang mendengarnya melotot seraya melepaskan cengkraman laki-laki itu dan berbalik dengan tatapan tajam. "Aku tidak bilang seperti itu?!"
Sedang si laki-laki meringis lalu berusaha mendekat lagi meskipun Hazel menolak. "Aduh ... tolong aku dulu, aku tidak ingin dihukum membersihkan seisi mansion hanya karena kesalahan kecil."
"Ya itu urusan kamu, kamu berani berbuat berani bertanggung jawab. Mau tidak sengaja atau sengaja kalau kamu salah kamu harus melakukan hukumannya," kata Hazel kesal. Ia menarik Keizo maju dan mendorongnya dengan paksa. "Silahkan, dia tidak lecet sedikitpun."
Keizo panik saat para pelayannya itu menariknya, ia berusaha melepaskan diri dan meminta bantuan lagi kepada Hazel. "Hei! Aku tidak mau pulang!"
Sementara Hazel hanya diam memperhatikan, yang benar saja alur ceritanya begini. Lagipula, apa yang dia lakukan sampai dia dihukum seperti itu?
"Memang benar-benar seperti yang orang-orang katakan, kamu ini memang jahat. Kamu bahkan tidak mau membantuku sama sekali," ujarnya tiba-tiba.
Hazel yang tadinya tidak berpikir apapun, pandangannya berubah datar. "Apa? memangnya kamu tahu apa? kamu berarti juga sama saja seperti orang-orang yang tahunya mengomentari orang lain tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak punya pendirian, aku benci orang-orang seperti itu.
Entah kenapa rasanya seperti ada emosi membara yang terus ingin keluar, Hazel diam sebentar sembari menatap Keizo yang juga tengah menatapnya. "Lagipula, harusnya kamu berpikir dan tahu kalau masuk ke kediaman orang lain tanpa izin bahkan masuk melewati balkon itu tidak sopan, Keizo Monio Heriga."
Merasa hawa berubah, pelayan itu memilih untuk kembali menarik Keizo. "Mohon maaf kami sudah mengganggu istirahat Nona Hazel, terima kasih atas kerja samanya. Kami izin pamit."
Hazel mengangguk sebagai balasan tanpa senyum karena moodnya benar-benar turun, kereta kuda itu pergi meninggalkan kediamannya dan menghilang di dinginnya malam.
"Kamu tidak apa?" tanya Celsa setelah pelayan yang lain menutup pintu. Gadis itu masih diam menatap ke arah pintu utama dengan tangan yang mengepal membuat Celsa harus menatap Evie karena bingung harus bagaimana.
Hembusan nafas kasar terdengar dan Hazel berbalik begitu saja menuju kamarnya. Ia naik ke kasur dan langsung berbaring dengan selimut yang ia tarik hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya itu.
.
.
__ADS_1
.
.
"Hazel, kamu masih belum bangun?" Suara itu serta tangan yang memegangnya membuatnya sedikit terusik. Hazel berbalik dan mulai membuka matanya secara perlahan, seorang gadis dengan rambut hitam cantik adalah yang pertama ia lihat.
"Morra?" tanya Hazel memastikan karena pandangannya belum cukup jelas. Juga sosok laki-laki di belakang Camorra membuatnya mengernyit. "Matteo?"
"Maaf menganggu kamu, kami sebenarnya ingin menunggu kamu bangun tapi kata pelayan kamu itu kamu belum bangun dari pagi," jelas Camorra.
Hazel bangun lalu mengusap wajahnya. "Memangnya ini jam berapa?"
"Set sepuluh."
Meski bangun matanya masih tertutup, Hazel bergumam. " Ayah dan Ibu belum pulang ya?"
"Iya, Paman dan Bibi belum pulang, mungkin sedang di perjalanan, ayo bangun dan bersiap kamu belum sarapan dan hari sudah siang," kata Camorra.
Camorra menelisik, lantas bergeser dan memegang baju Hazel. "Kamu kenapa?"
Hazel terdiam lagi, ia teringat jika semalam menangis karena kata-kata Keizo hingga akhirnya terlelap sendiri. "Ah, aku tidak apa-apa." Dia berusaha untuk membuat kedua sahabatnya itu tidak khawatir, kalau dipikir lagi kenapa dia harus sesakit hati itu mendengar kata-kata Keizo?
"Aku tunggu kamu di bawah, biar Camorra membantu kamu." Matteo beranjak kemudian Evie dan Celsa masuk lalu mereka menutup pintu.
"Bantu Hazel mandi, aku akan menunggu untuk menyiapkan pakaiannya," suruh Camorra yang langsung diangguki kedua pelayan Hazel. Gadis itu menurut saja saat keduanya membantunya menuju ke tempat berendam.
Sebenarnya dia ingin bertanya kenapa Camorra dan Matteo datang sepagi ini dan masuk ke kamarnya. Ya tidak masalah, maksudnya mungkin memang mereka sudah terbiasa seperti itu. Sepertinya persahabatannya memang sangat dekat sekali.
Hazel tidak berendam terlalu lama karena takutnya membuat Camorra dan Matteo menunggu, dia segera mengenakan pakaian yang sudah Camorra bantu pilihkan. Lantas berdandan sedikit lalu segera turun untuk segera sarapan. Matteo juga sudah menunggunya di bawah.
__ADS_1
"Aku ingin membawa makanannya ke meja belakang," pinta Hazel yang langsung dituruti oleh para pelayan. Semua persiapan untuk Hazel sarapan segera di pindahkan ke meja belakang yang cukup teduh di tepi taman yang cukup luas.
Hazel makan dengan baik sembari melihat pemandangan di depan sana, Camorra juga terus bercerita dan ia dengarkan. Sementara Matteo seperti biasa hanya menyimak, kali ini sepertinya sambil memastikan sarapannya ia habiskan.
"Katanya kemarin kami ke rumah Arzhel?" tanya Camorra tiba-tiba. Hazel meneguk dulu minumannya setelah makan lalu mengangguk.
"Lalu bagaimana? Apa ada Alexa juga?"
"Tidak, Paman dan Bibi Mageo bilang kalau berani Arzhel keluar untuk menemui Alexa kemarin dia tidak usah kembali lagi," kata Hazel. "Lalu aku ingin pergi ke kamar mandi dan Arzhel menawarkan diri untuk mengantar," lanjutnya.
Camorra mengernyit. "Aneh sekali."
"Ya memang aneh, ternyata setelahnya dia berbicara dan meminta aku juga kamu untuk minta maaf pada Alexa." Saat kalimat itu keluar Camorra langsung memasang raut malas dan kesal sekaligus.
"Semenjak bersama gadis itu, Arzhel terus saja menyuruh orang-orang untuk meminta maaf meskipun kesalahan yang dilakukan adalah salah Alexa. Dia membelanya habis-habisan, dasar orang gila," caci Camorra meluapkan rasa kesalnya.
Sementara Matteo tampak berpikir. "Kamu masih mau melanjutkan perjodohannya?"
"Aku menghargai keputusan Ayah dan Ibu," jawab Hazel. Lagian kalau dia langsung menyerah bagaimana seterusnya alur cerita ini? Takutnya memang sebenarnya dia tetap harus mengejar Arzhel. Haduh, itu yang sampai sekarang membuatnya ragu untuk bertindak semaunya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat dan membuat mereka langsung menoleh. Di sana Celsa berdiri di temani Evie dibelakangnya. "Nona ada tamu."
"Siapa?"
"Tuan Muda Heriga, Tuan Keizo yang semalam masuk ke balkon."
Hazel mengernyit. "Mau apa?"
"Katanya ingin berbicara langsung dengan Nona, tapi kali ini datang dengan Tuan Arzhel yang juga membawa Alexa, Nona Hazel."
__ADS_1
Wah, mau mengajaknya bertengkar ya?