
Matteo hanya memperhatikan bagaimana Hazel dan Camorra yang tengah berbincang, seperti biasa dia hanya menyimak. Bedanya kali ini dia menjadi lebih bersemangat dengan perubahan yang sangat kentara. Senyumnya bahkan seakan tidak akan pernah luntur.
"Matteo, kamu tidak suka biskuitnya?" tanya Hazel yang bingung karena sejak tadi Matteo hanya menatapnya, dia bahkan belum menyentuh hidangannya sama sekali sejak tadi.
Matteo menggeleng dengan tenang, dia lalu mengambil salah satu biskuit coklat itu untuk dia makan. "Aku suka," jawabnya singkat.
"Biarkan saja, Hazel. Dia memang aneh bahkan sebelum kami sampai ke sini, tidak tahu apa yang membuat dia senang sampai begitu," ujar Camorra yang masih tidak paham.
Sementara yang menjadi pertanyaan malah diam dengan santai, membalas dengan senyuman seraya terus melahap biskuit yang disediakan. Hazel tersenyum kecil lalu menggeleng pelan karena tak habis pikir, ia menatap ke arah langit cerah hari ini yang sedikit berawan dan tampak indah jika terus di pandang.
"Kalian ingin mengunjungi tempat lain atau tetap di sini? lukaku yang kemarin belum sembuh, terasa sakit jika berjalan lama." Penuturan Hazel membuat kedua sahabatnya mengernyit, Camorra bahkan langsung melihat ke arah Hazel. Seakan mengerti, Hazel Langsung menyingkap gaunnya. Di sisi lain Matteo bangun dan ikut melihat luka Hazel yang masih dibalut perban.
"Ini- kamu kenapa?" Hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, netranya mengarah ke kiri atas karena berpikir bagaimana menjelaskannya. Sebenarnya simple saja karena dia terjatuh, bukan karena Arzhel atau Alexa. Seharusnya tidak akan menjadi masalah bukan?
Hazel bergumam. "Kemarin Arzhel mengirimiku surat dengan permintaan aku untuk membantunya menjalani hari kemarin karena dia akan diikuti orang suruhan ibunya, itu karena dia selalu berbohong mau menemui aku nyatanya malah menemui Alexa."
"Itu namanya karma, tidak aneh kalau dia sampai di keluarkan dari kediaman Mageo," cibir Camorra. Matteo hanya menyimak karena dia tahu Hazel belum selesai.
"Arzhel mengajak aku ke suatu restoran dekat danau, saat kami berasa di gazebo, Alexa tiba-tiba datang. Daripada aku memperpanjang masalah, aku memilih pergi tapi Arzhel memilih Alexa dan tidak mengejarku. Aku berniat pulang, tapi aku dan Celsa dari awal dijemput oleh kereta Arzhel, beruntung Vozie memilih untuk mengantarkan kami lebih dulu, tapi Vozie mengajak mengunjungi suatu tempat. Lalu karena tidak berhati-hati aku terjatuh."
__ADS_1
Camorra mengernyit, ia lalu menatap Matteo. "Tetap salah Arzhel tidak sih?"
Ya ampun ...
.
.
.
.
Setelah memakai perlengkapan, mereka memilih untuk melihat Matteo lebih dulu. Hazel memperhatikan bagaimana Matteo menutup matanya untuk memastikan dari mana arah angin dan membuka matanya kembali. Ia menarik busur dengan yakin, serta tatapannya yang tajam mengarah ke target.
Tanpa Hazel ketahui, Matteo justru gugup setengah mati. Gadis itu tiba-tiba bergerak dan sekarang berada dekat dengan dirinya serta memperhatikan dengan seksama. "Biar aku lihat lebih dekat, tadi tidak terlalu jelas," ucapnya santai.
Astaga, Hazel ....
Matteo menghembuskan nafasnya dengan lembut agar tetap terlihat tenang. Saat panah di lepas, mata mereka tertuju ke panah itu, dan sesuai perkiraan panah tepat menusuk di tengah.
__ADS_1
Hazel bertepuk tangan serta dengan wajahnya yang tampak kagum. Sementara Camorra malah berdecak, dia juga bisa kok. "Aku juga bisa tahu!"
"Silahkan."
Camorra menarik busur dengan asal, tanpa menunggu apapun ia melepaskan panahnya yang ternyata hanya mengenai jauh bagian luar. Ia menggerutu lantas berbalik dengan kaki yang sedikit dihentakkan lalu melangkah. "Aku mau duduk saja!"
Hazel tertawa kecil lalu menaruh atensinya pada Matteo lagi. "Boleh tolong ajari aku?"
Matteo tanpa ragu mengangguk, Hazel lantas berdiri di depan Matteo dengan posisi siap menunggu laki-laki itu untuk mengajarinya. Matteo menarik dan menghembuskan nafasnya dengan teratur untuk membuatnya tetap tenang karena dia gugup lagi.
Hazel dengan polosnya hanya mengikuti Matteo yang sekarang tengah membantunya dari belakang, bahkan nyaris memeluknya. Sementara Camorra yang tengah memperhatikan tersenyum miring melihat hal itu. "Matteo ini, kasihan sekali."
"Tegakkan badanmu, Hazel. Tentukan arah mata angin dari mana karena itu mempengaruhi, lalu tarik busur dengan yakin setelah kamu menentukan target," jelas Matteo.
Hazel mengangguk, membiarkan Matteo menuntunnya. Ia melihat ke arah target dengan seksama tanpa mengalihkan perhatiannya. "Kamu sudah yakin?" tanya Matteo.
Gadis itu mengangguk dengan hati-hati sebagai balasan. "Dalam hitungan ketiga, kamu lepaskan," ujar Matteo, laki-laki itu mulai menghitung dan saat hitungan ketiga Hazel melepaskan tangannya.
Panah mengenai angka 7, permulaan yang cukup bagus. Hazel tersenyum, saking senangnya ia meloncat-loncat lalu berbalik dan tanpa sadar memeluk Matteo erat sampai Camorra melotot. Matteo bingung, ia senang tapi juga bingung harus melakukan apa, dengan gugup ia membalas.
__ADS_1
Matteo bahkan tanpa sadar ikut melompat kecil, wajahnya terlihat memerah dengan Hazel yang terus memeluknya sampai mereka melompat bersama. Camorra memegangi keningnya tak habis pikir. Apa Hazel tidak tahu ya kalau Matteo menyukainya sudah dari lama?