
Jarak yang tinggal beberapa inci lagi malah membuat mereka sama-sama diam. Sementara Vozie dan Celsa yang tengah memperhatikan menunggu setengah mati apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya orang yang mengawasi sudah memotret dan sama dengan mereka tengah menunggu momen selanjutnya.
"Apakah mereka akan berciuman?" tanya Vozie, Celsa tak melepas tatapannya dari sana dengan jari telunjuknya yang ia gigit hingga merah.
"Tidak tahu, menurutku tidak mungkin akan berciuman juga bukan?" ujar Celsa, yakin tidak yakin sih sebenarnya. Sedikit tidak rela jika Hazel berciuman setelah apa yang Arzhel lakukan selama ini, tapi itu juga pasti apa yang Hazel mau. Apakah ini akan menjadi awal yang bagus untuk hubungan mereka?
Namun tanpa mereka duga, seorang gadis datang dan langsung menarik Arzhel menjauh. Kejadian tidak terduga yang membuat Hazel belum sempat menahan diri hingga akhirnya ia jatuh terduduk di kursi gazebo untungnya.
"Arzhel, apa yang kamu lakukan?" tanya Alexa dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar. Gadis itu datang entah dari mana membuat Arzhel terkejut, bukannya menjawab dia malah berbalik dan menatap Hazel. Ia segera mendekat karena panik dan membantu Hazel untuk kembali berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?"
Alexa yang melihatnya hanya tertegun, air matanya juga jatuh melihat bagaimana Arzhel berubah dengan cepat hanya dalam waktu malam saja. Sebelumnya dia menunggu Arzhel di tempat biasa mereka bertemu, tapi sudah dua jam yang ia tunggu tak kunjung menampakkan entitasnya. Jika memang ada sesuatu, pasti Arzhel akan mengirim surat yang kemudian diantar oleh Vozie.
Awalnya Alexa berniat untuk memeriksa ke kediaman Mageo, tapi dia tahu jika akan menimbulkan masalah. Maka dari itu ia berpikir untuk mencari Arzhel ke tempat yang mungkin ia kunjungi dan ini salah satunya, siapa sangka yang ia lihat adalah kekasihnya yang hampir berciuman dengan gadis lain jika saja ia terlambat.
Hazel menggeleng meskipun sembari meringis kecil. "Aku baik-baik saja." Agak aneh juga kenapa Arzhel tak meladeni Alexa meski gadis itu sudah menangis, bingung sedikit tapi ia menyadari kemudian jika mungkin orang yang mengawasi masih ada di sana.
"Arzhel!" seru Alexa, gadis itu menangis seketika membuat Arzhel maju tapi terhenti. Laki-laki itu menjambak rambutnya lalu melihat ke arah Vozie.
Vozie tak mengerti dengan raut wajah Arzhel yang tampak bertanya-tanya hingga begitu frustasi. Celsa menarik lengan bajunya lalu berbisik, "Arzhel bertanya apakah orang yang mengawasi masih ada atau tidak."
Seketika mulut itu terbuka, Vozie menoleh ke tempat yang sebelumnya dijadikan tempat persembunyian oleh si pengawas. "Masih ada." Ia berisyarat.
Hal itu membuat Celsa mengernyit, padahal orang yang mengawasi sudah pergi sejak tadi setelah memotret Arzhel dan Hazel yang hampir berciuman. Untunglah setelahnya Alexa baru datang sehingga mungkin Arzhel akan aman. "Kenapa kamu berbohong?"
__ADS_1
"Kamu tidak ingin lihat bagaimana Alexa dicampakkan?"
Kok jadi serasa dia dan Vozie yang antagonis sih.
"Alexa, kenapa kamu ada di sini?" tanyanya mencoba untuk tenang, sementara Alexa malah mendekat dan menarik Arzhel agar berada di di sisinya. "Alexa-"
"Pasti kamu bukan yang memaksa Arzhel?" serangnya tiba-tiba, Hazel mengernyit. Padahal yang ia lakukan agar hubungan Arzhel dan Alexa bisa tenang ke depannya. Namun kenapa dia jadi kena tuduh begini?
"Hazel, aku tahu kamu mencintai Arzhel, tapi dia sudah memilih aku sebagai gadisnya, Hazel." Alexa berkata seolah dia yang paling tersakiti. "Aku minta maaf jika kamu marah karena kemarin aku menampar Camorra, tapi perkataan dia begitu menyakitiku."
"Aduh, terserahmu saja. Tanyakan saja pada Arzhel mengenai hari ini," kata Hazel yang kesal, ia kemudian pergi dari sana. Celsa yang bingung kemudian menatap Vozie yang menggeleng mengisyaratkan jika dia harus mengikuti Hazel saja.
Arzhel justru berlari untuk mengejar Hazel, Alexa yang tidak menyangka pun segera menyusul. Dia berhenti terlebih dahulu lalu memegang bahu Vozie yang terlihat bingung harus melakukan apa. "Dia sudah tidak ada ya?"
Lho, jadi niatnya bukan mau mengejar Hazel ya?
Arzhel mengucap maaf berkali kali sampai tangisnya berhenti tapi masih tersedu-sedu. Vozie memutar bola matanya malas. "Kamu selesaikan urusanmh dengan Alexa, aku akan pergi untuk minum teh. Kamu bayar nanti," katanya santai seraya pergi masuk ke dalam restoran. Malas sekali harus melihat kemesraan mereka berdua.
.
.
.
Hazel berjalan dengan cepat dan menyalurkan amarah pada langkahnya sehingga terdengar bunyi nyaring setiap sepatunya menyentuh jalan. Celsa mengikuti tapi tak bertanya sama sekali, ia berniat untuk membiarkan Hazel tenang terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia tidak masalah Arzhel yang tidak mengejarnya, tapi Alexa yang langsung menuduh membuatnya kesal. Hazel kira Arzhel sudah memberi tahu gadis itu terlebih dahulu, dia yang mau berhubungan dengan tenang, dia juga yang merusaknya. Dasar gila.
"Aku ingin pulang," kata Hazel dengan raut wajah kesal, ia cemberut dengan mata yang sedikit menyipit karena sinar matahari.
Celsa meringis mendengarnya. "Tapi kita tidak membawa kereta kuda, Hazel."
Hazel berdecak mendengarnya, ia baru ingat jika pagi Arzhrl yang menjemputnya sehingga ia tidak membawa kereta kuda. Rasanya ingin berteriak, Hazel berpikir untuk berjalan saja sekalian daripada diam saja. Dia juga tidak mood untuk meminta tolong.
Namun, terdengar suara kereta kuda dari arah belakang yang kemudian berhenti di samping mereka. Itu kereta kuda Arzhel, tapi saat pintu terbuka Vozie keluar dari sana. "Ayo, kalian aku antar pulang terlebih dahulu. Atau mau sekalian berjalan-jalan? aku tahu tempat-tempat bagus."
"Lho, lalu Arzhel?"
"Biarkan mereka berjalan saja, biar mandiri. Ayo naik, biar aku bantu," ujar Vozie. Hazel tertawa kecil mendengarnya, lalu ia segera naik dibantu oleh Vozie dan Celsa pun. Pelayan setia Arzhel itu naik terakhir lalu menutup pintu kereta dan kereta pun mulai berjalan.
"Kamu tidak takut dimarahi Arzhel?" tanya Hazel.
Vozie menggeleng. "Tidak, biar aku marahi balik." Lalu Hazel pun tertawa lagi mendengarnya, ia senang karena ternyata Vozie orang yang santai dan tidak kaki seperti pelayan pria pada biasanya.
"Kamu panggil aku Hazel saja biar akrab, aku boleh memanggil kamu Voz?" tanya Hazel. Netra hitam laki-laki itu berbinar mendengarnya dan tampak setuju.
"Itu, bagus! aku suka," ucapnya bersemangat.
Sementara di dunia sebenarnya, Glio tengah memperhatikan halaman-halaman buku yang terus terisi dengan sendirinya. Senyuman puas terpatri jelas sembari membaca setiap kata pada halaman buku.
"Semua karakter berkembang setelah Hazel datang, ini bagus dan ini yang aku harapkan." Ia membayangkan bagaimana cerita ini akan berakhir, dia menyampaikan cerita ini pada tangan yang benar-benar tepat menurutnya.
__ADS_1
Jadinya mengetuk-ngetuk meja dengan teratur. Mereka semua tidak tahu, meskipun ia bilang untuk bertindak sesuai keinginan mereka, status mereka bisa berubah. Naik atau turun ditentukan oleh tindakan yang mereka pilih.
Glio tertawa, ia hanya mau mereka terus terkejut.