
Setelah melalui hari yang cukup panjang ia habiskan di kediaman keluarga Mageo, disertai lirikan tajam yang terus ia dapat dari Arzhel, Hazel memutuskan untuk pulang meskipun Georgina dan Saga terus memintanya untuk menginap saja berhubung kedua orang tuanya akan pulang besok.
Namun terima kasih, Hazel lebih memilih untuk pulang daripada saat malam kamarnya dibobol oleh Arzhel untuk sebuah permintaan maaf lagi kepada gadis tercintanya itu.
Hazel sekarang sudah menyandarkan diri di keretanya ditemani Celsa, Evie katanya sedang melakukan pekerjaan lain jadi tidak ikut menjemputnya. Hembusan nafas lelah yang terdengar membuat Celsa mengernyit.
"Ada apa?" tanya Celsa.
"Aku lelah sekali, Ayah dan Ibu Arzhel sangat baik tapi tidak dengan dia, aku lebih baik berkunjung saat Arzhel tidak ada," jawab Hazel, wajahnya benar-benar terlihat lelah dan pusing.
"Bukannya kamu menyukai Tuan Arzhel?" Celsa bingung, kemana perginya Nona Muda dia yang sering mengejar laki-laki itu karena cinta mati? bahkan beritanya menyebar hingga ujung, bagaimana Nona Mudanya itu sering berbuat jahat pada si gadis perebut yang orang lain lihat sebagai gadis polos yang berhak mendapatkan cinta tanpa memandang status.
Hazel bergumam. "Duh, bagaimana ya?" Dia membenarkan duduknya agar agak tegak. "Aku berusaha menyukai Arzhel karena menghargai pilihan Ayah dan Ibu. Namun ternyata dia menyukai gadis lain, dia bisa menolakku dengan baik dan aku tidak akan bertingkah."
"Tapi dia malah memilih untuk mempermalukanku di depan semua orang dengan mengatakan bahwa dia menyukai gadis lain, itu membuat aku gila. Entah kenapa juga aku merasa ada yang aneh dengan Alexa," kata Hazel. Ia terdiam sejenak setelah mengatakan itu semua lalu mengernyit saat sadar jika dia tidak mengalami kejadian itu.
Apa Glio memberikan ingatan Hazel yang sebelumnya? Baguslah, setidaknya dia tidak selalu harus seperti orang hilang ingatan, beruntung dia selalu selamat karna pintar membuat jawaban yang meyakinkan.
Celsa duduk dengan tegak seperti biasanya, siap jika saja Nona nya itu membutuhkan sesuatu. Ia tersenyum kecil. "Alexa memang cantik, tapi menurutku tidak semenarik itu. Awalnya aku bingung mengetahui kamu seperti tidak ingin mengejar Arzhel lagi, tapi menurutku justru bagus. Selama ini kamu melupakan diri kamu sendiri demi mendapat cinta dari orang yang tidak mencintaimu kembali, kamu bahkan rela dihina, dicaci, dikatai apa saja yang mereka sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan itu semua kamu lakukan demi seorang laki-laki yang menurutku tidak pantas mendapatkan cinta kamu."
Hazel terdiam mendengar itu, Nah ... dengar itu Hazel Adamina Betrix, batinnya.
"Kamu benar, kali ini aku juga akan memikirkan diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Ayah dan Ibu karena sepertinya mereka ingin sekali aku menikah dengan Arzhel," jawab Hazel dengan pandangan yang mengawang entah kemana.
__ADS_1
Hanya karena tidak mau mengalah pada si perempuan peran utama ia menjadi seorang antagonis. Padahal, itu adalah haknya karena mereka sudah dijodohkan dan yang harusnya mendapatkan tittle antagonis adalah Alexa yang merebut miliknya.
Namun, pasti sebagian besar pembaca meskipun orang tersebut sejahat apa mereka akan tetap mendukung karena orang itu mendapatkan tittle peran utama. Haha, memang dikiranya seseorang berubah menjadi jahat tanpa sebab? dasar.
Sesampainya di kediaman Betrix, Hazel langsung masuk ke kamarnya berhubung hari juga sudah menuju malam. Ia membersihkan diri, menyuruh Celsa untuk pergi setelah menyiapkan semuanya karena ia mau sendiri dulu.
Setelahnya ia pergi untuk diam di balkon, ditemani secangkir teh hangat ia memandangi langit malam yang bertabur bintang. Cukup membuat pikirannya tenang. "Glio bikin susah saja, bagaimanapun alur yang sudah kamu buat, sebagai antagonis aku tidak ingin menderita. Karena kamu bilang lakukan sesukaku, itu berarti hal baik apapun yang akan aku lakukan tetap tidak akan mengubah peranku sebagai seorang antagonis yang hina."
Tepat setelah Hazel mengatakan itu, terdengar suara dari sebelah kiri. Ia mengernyit lalu memutuskan menoleh dan melihat seorang laki-laki tengah berusaha masuk ke balkonnya, bahkan sudah hampir sampai. Refleks, Hazel menjerit dan mundur hingga menabrak dinding.
"S-siapa kamu?! sejak kapan kamu ada di sini?!" tanya Hazel was-was menatap laki-laki dengan penampilan acak acakan yang akhirnya berhasil naik ke balkonnya. Ia terduduk dengan nafas terengah, lalu mendongak untuk mengulurkan tangannya dengan mulut seperti menunjuj sesuatu.
Hazel mengernyit dan melihat ke mana arah yang ditunjuk dan ternyata tepat ke cangkir teh yang masih berisi itu. Dia berpikir sejenak, lalu sadar jika laki-laki itu meminta minum.
"Jawab," kata Hazel tanpa mengulang pertanyaannya. Sedang laki-laki itu menyender ke dinding sambil mengatur nafasnya.
"Tolong ... jangan beri tahu siapapun. Aku ingin kabur," jawabnya sedikit merengek.
Alis Hazel tiba-tiba menukik tajam. "KAMU BURONAN YA?!"
Panik, laki-laki itu menggeleng cepat. "Tidak-tidak! aku bukan, aku- anu, aku dari wilayah timur, namaku Keizo Monio Heriga. Aku bukan penjahat, tapi tolong bantu aku dulu aku kedinginan ..."
Kebetulan pintu terbuka Celsa dan Evie langsung masuk. "Maaf, Hazel. kami lancang langsung masuk. Ada apa? teriakan kamu terdengar hingga ke dapur."
__ADS_1
Hazel menujuk ke arah laki-laki bernama Keizo itu. "Haduh, tolong urusi dia dulu dan beri baju hangat. Lalu bawa di ke ruang utama, aku akan menunggu di sana."
Celsa dan Evie terkejut saat mengikuti ke arah yang Hazel tunjuk dan mendapati seorang laki-laki acak-acakan. Walaupun takut, mereka tetap melakukan apa yang Hazel suruh hingga akhirnya laki-laki itu bersih dan sudah berada di ruang utama.
"Rumahmu di mana? biar nanti orangku yang antar," kata Hazel.
Laki-laki itu menggeleng. "Aku tidak mau pulang, maaf berlebihan tapi boleh tidak aku pinjam uangmu dulu. Jika kamu tidak mau menampungku di sini, aku akan pergi untuk mencari penginapan."
"Aneh, kamu benar buronan ya?" tanya Hazel lagi.
"Ya ampun ... memang mukaku terlihat seperti buronan ya?" ia balik bertanya dengan nada sedih, Hazel memutar bola matanya malas sebagai balasan.
"Aku serius," ujar Hazel lagi.
"Aku juga serius, aku butuh uang."
"Kamu ini diusir atau bagaimana?" Hazel suda tak habis pikir, ia tidak ingin menampung laki-laki di rumah ini tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunya. Dia juga tidak tahu siapa laki-laki itu, ck.
Pintu utama tiba-tiba di ketuk, Hazel menoleh lalu bangun tapi Evie dengan cepat inisiatif untuk membuka. Dilihatnya beberapa orang berpenampilan rapi berdiri di sana. "Selama malam, Nona muda Betrix."
Belum sempat menjawab, Keizo berdiri dan langsung berlindung di belakang punggungnya. "Kamu- apa yang kamu lakukan?!"
"Maaf mengganggu waktunya, Nona Hazel. Namun laki-laki di belakang Nona adalah Tuan Muda kami yang kabur dari hukuman. Mohon izin untuk menjemput kembali, Nona." Si kepala bicara menjelaskan maksud serta tujuannya.
__ADS_1
Oh, bukan buronan ternyata.