
"Persilahkan mereka masuk," kata Hazel yang membuat Camorra tampak tak setuju, dia langsung berdiri dan kedua sahabatnya itu langsung mengikuti.
Dilihatnya Keizo yang sudah duduk lebih dulu di sofa, sementara Arzhel dan kekasihnya itu hanya berdiri. Hazel menatapnya keduanya. "Mau berdiri sampai kapan? duduklah."
Arzhel tanpa ekspresi langsung duduk untuk mengajak gadisnya tapi malah menolak dan menatap ke arah Hazel yang sudah duduk bersama Camorra dan Matteo di sofa sebrang. "Aku boleh duduk di sofa juga?"
Ck, Hazel benar sedang tidak mood.
"Ya, lalu kamu mau duduk di mana lagi? mau aku pangku? duduk saja," kata Hazel lagi menahan rasa kesalnya. Namun Alexa masih tetap berdiri dan itu membuatnya makin kesal.
"Aku takut mengotori sofamu," cicit Alexa, sementara Arzhel masih tetap berusaha menariknya untuk duduk tanpa terus peduli tanggapan Hazel.
Ya ampun ....
"Kamu tidak habis bermain lumpur bukan? aku tidak melihat ada yang kotor jadi duduk saja." Hazel memberi gestur agar Alexa duduk dan akhirnya menurut juga.
"Apa hubungan kamu dengan dia?" tanya Hazel pada Arzhel. Ya aneh saja, kenapa mereka bisa datang bersama.
"Dia sepupuku, semalam kabur ke balkonmu, kan? Nanti Tuan dan Nyonya Heriga akan datang tapi menyusul ingin meminta maaf langsung kepada Paman dan Bibi. Aku disuruh menemaninya," jelas Arzhel.
"Baiklah, apa Tuan dan Nyonya Heriga tidak akan marah kamu membawa Alexa?" Hazel bertanya lagi.
Arzhel menggeleng. "Mereka tidak akan ikut campur."
"Oh, ya baguslah."
"Hazel kamu habis menangis ya? Mata kamu bengkak, kamu tidak apa-apa?" Alexa bertanya yang membuat semua orang langsung melihat ke arahnya, ia menunduk karna takut dan memegang lengan Arzhel. Apa dia salah karena bertanya?
"Ah, ya. Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah bertanya," jawab Hazel yang membuat semuanya tertegun bingung, Camorra terlihat tidak percaya sama sekali dengan apa yang ia dengar. Hazel akhir akhir ini aneh sekali.
Alexa tersenyum senang karena Hazel membalasnya. "Sama-sama," ia menjawab gugup.
Hazel mengangguk, tak peduli dengan raut wajah yang lain yang begitu bingung ia beralih menatap Keizo. "Tidak ada yang mau kamu bicarakan?"
"Aku minta maaf atas semuanya, kejadian di balkon bahkan kata-kataku semalam, harusnya aku tidak seperti itu, maaf merepotkan," kata Keizo lumayan pelan tak seperti nada bicaranya yang semalam.
__ADS_1
"Dia masuk ke balkon?!" tanya Camorra baru paham.
"Iya, kabur dikejar pelayannya. Katanya tidak mau dihukum," jelas Hazel.
Keizo cemberut. "Boleh tidak dibongkar saja tidak?"
Hazel tersenyum kecil. "Aku baru tau kamu dan Arzhel adalah sepupu."
"Sepupu jauh, aku baru berkunjung lagi ke sini jadi sekalian aku kabur saja."
"Hm, ya. Seperti anak kecil," kata Hazel santai yang langsung dihadiahi tatapan kesal. Matteo di sebelah Camorra terus memperhatikan Arzhel yang kali ini tidak tahu kenapa terus menatap ke arah Hazel.
Laki-laki bodoh yang sudah menyia-nyiakan berlian demi batu.
"Arzhel," panggil Alexa setengah berbisik agar yang lain tidak terganggu, itu langsung menarik perhatian laki-laki itu kembali. Dia sadar jika Arzhel terus menatap Hazel sejak tadi. Tepatnya setelah dia bertanya Hazel menangis dan tatapan Arzhel seperti menunjukkan kekhawatiran. Apa dia mulai tertarik pada Hazel?
"Ya, kenapa?" tanya Arzhel yang langsung memegang tangannya.
"Boleh antar aku pulang? Aku takut Tuan dan Nyonya Betrix akan segera pulang dan tak menyambutku," kata Alexa.
Ah ... tidak bisa dibiarkan.
.
.
.
.
Hazel diam duduk mendengarkan Tuan Heriga yang tengah berbicara dengan Ayahnya, begitupun Keizo disebrang sana yang terus menunduk. Tadi selang beberapa menit setelah mereka berbincang, orang tuanya pulang bersamaan dengan kedatangan Tuan dan Nyonya Heriga.
Arzhel, Alexa, Matteo dan Camorra ia pinta untuk pindah terlebih dahulu ke ruang santai agar mereka tidak merasa sungkan.
"Kami mohon maaf sekali lagu terkhusus untuk kau ya, Hazel. Maaf Keizo tidak sopan sudah masuk sampai ke balkonmu, itu memalukan karena benar-benar tidak sopan," kata Tuan Heriga, Nyonya Heriga mengangguk dan tersenyum teduh padanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tuan Heriga. Keizo juga sudah meminta maaf," jawab Hazel sembari membalas senyum itu.
"Panggil kami Paman dan Bibi saja, Hazel. Biar lebih dekat," kata Nyonya Heriga diselingi tawa kecil dan tentu saja Hazel tanpa ragu mengangguk setuju.
"Sering-sering saja berkunjung ke sini, lain kali kita adakan pesta kecil bersama," ujar Theodore. Dern Haner Heriga dan Claire Rega Heriga lantas mengangguk setuju mendengarnya.
Hazel menunduk dengan jari jemarinya yang bertaut, ia terpikir bagaimana keadaan di ruang santai karena jaraknya ke sini memang cukup jauh. Lantas ia mendongak untuk melihat keizo yang juga tampak bosan.
"Ibu, Ayah, Paman, Bibi. Aku dan Keizo izin pergi ke ruang santai menemui yang lainnya."
.
.
.
.
"Awasi gadismu itu, Arzhel. Jangan biarkan dia mengotori apa-apa lagi," kata Camorra. Arzhel yang sejak tadi diam langsung menoleh dan menghampiri Camorra. Matteo sedikit maju jika saja terjadi sesuatu.
"Maksud kamu apa? Alexa bahkan hanya diam," jawab Arzhel dengan nada naik. Alexa bersembunyi di belakangnya dengan wajah khawatir.
"Arzhel lebih baik kita pulang saja," cicit Alexa.
Camorra jelas masih menatap tidak bersahabat ke arah gadis itu, ia kembali menatap tajam Arzhel. "Kamu ini memang manusia bodoh, bisa-bisanya membuat berlian untuk sebuah batu. Buta ya?"
"Kamu bisa jaga mulutmu tidak? Kamu seorang dari keluarga terpandang tapi tidak bisa sopan," jawab Arzhel.
Matteo terusik. "Lalu, apakah menurut kamu mempermalukan seseorang yang ingin mengambil haknya di depan semua orang itu termasuk hal yang sopan?" kata Matteo sembari melihat ke Alexa. Ia lalu melanjutkan," Apalagi seseorang itu adalah seorang perempuan. Apakah menurut kamu itu pantas dilakukan?"
Camorra tersenyum miring, ia lalu menunjuk Alexa tanpa rasa takut. "Kamu juga jangan bertingkah seolah olah dunia jahat, bukan sekali duakali aku menemukan orang yang ingin naik derajat tanpa lelah dan mencari jalan pintas. Jangan berlindung dibalik wajah polosmu yang palsu itu."
Terdengar tangisan kecil dan Arzhel langsung menoleh, panik melihat Alexa yang menangis. "Lihat apa yang susah kamu lakukan! Alexa bukan orang seperti itu, aku tidak meminta restu dari kalian, jadi kalian diam saja."
"Terserah saja, yang pasti kamu juga harus meminta maaf kepada Hazel atas sikap tidak sopanmu itu. Kalau bisa, Alexa juga harusnya meminta maaf karena sudah merebut milik orang lain tanpa tahu malu-"
__ADS_1
"CAMORRA ZAROW ROAYENE!"