Antagonis?

Antagonis?
21. Balasan di Malam Hari


__ADS_3

Setelah mengobrol tadi dengan Arzhel, Hazel terus diam dengan wajahnya yang tertekuk, ia cemberut sejak tadi dan jika Arzhel bertanya maka ia akan menjawab sinis. Namun Arzhel justru dibuat tersenyum beberapa kali oleh tingkahnya, kenapa Hazel jadi terlihat lucu ya?


Sampai tiba untuk Arzhel dan keluarganya pulang karena hari sudah semakin sore. Mereka berpamitan, Arzhel juga memberi hormat padanya begitupun dengan Hazel yang membalas.


"Theo, kami harus pulang sekarang. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi dan mungkin mengadakan acara kecil-kecilan?" ujar Saga seraya tertawa kecil, Theodore tersenyum dan mengangguk sebagai balasan lantas mereka berjabat tangan.


Setelah berpamitan mereka segera naik ke kereta kuda yang akan membawa mereka kembali ke kediaman asal. Ada dua kereta kuda, kereta pertama dinaiki oleh Tuan Saga dan Nyonya Georgina, kereta kedua adalah kereta yang dinaiki Arzhel dan Vozie.


Saat kereta sudah bergerak, Vozie yang terlihat dari jendela melambaikan tangannya sembari tersenyum senang. Begitupun dengan Hazel yang jadi ikut tersenyum juga balas melambai dengan riang.


Arzhel menatap pelayannya itu datar, setelah acara saling melambai itu selesai barulah Vozie melihat ke arahnya. "Apa? kenapa menatapku seperti itu?"


"Sepertinya kamu akrab sekali dengan Hazel," ujar Arzhel.


"Aku dan Hazel berteman," balas Vozie seraya mendelik.


"Tidak sopan kamu hanya menyebut namanya saja."


"Aku bilang, aku dan Hazel sudah berteman. Dia sendiri yang bilang untuk hanya memanggilnya tanpa embel-embel Nona."


"Hazel tidak sebaik itu," kalimat yang terlontar kali ini justru keluar dari topik menurut Vozie, laki-laki itu menoleh setelah sebelumnya sempat membuang muka ke arah jendela tanpa menatap Arzhel yang jelas tengah berbicara padanya.


"Aku bisa kembalikan kata-katamu itu," kata Vozie yang lalu menghadapkan seluruh badannya pada Tuan Mudanya. "Alexa juga tidak sebaik itu."


Arzhel mengernyit dan matanya memicing mendengar itu. "Kenapa jadi membawa Alexa?"


"Kamu juga keluar topik, menuduh orang lain yang tidak kamu kenal dengan baik." Vozie lagi-lagi mendelik, kesal dengan Arzhel yang sekarang tengah menatap kesal padanya.


"Aku kenal Hazel dengan baik."


Vozie tertawa dalam hati, ia memiliki ide yang harus ia coba sekarang. "Kalau begitu, coba sebutkan warna mata Hazel."

__ADS_1


Arzhel memutar bola matanya malas. "Semua orang juga tahu kalau warna mata Hazel adalah hijau."


"Ada berapa tahi lalat Hazel yang terlihat dan di mana saja?" Pertanyaan kali ini yang terlontar hanya pertanyaan asal yang tiba-tiba melintas di pikiran Vozie. Ia menunggu Arzhel yang tampak berpikir sembari bersidekap dada.


"Ada tujuh. Satu di bawah matanya yang sebelah kiri, yang kedua ada di bawah dagunya, yang ketiga di leher sebelah kanan, yang keempat di tangan kirinya di antara jari telunjuk dan jari tengah, yang kelima ada di tangan kanannya di lengan bagian atas, ke enam di dahinya yang kadang tertutup poni, dan yang ketujuh di belakang telinga kiri," sebut Arzhel panjang lebar dan Vozie tidak menyangka laki-laki itu akan menjawabnya begitu detail.


Vozie cengo sementara Arzhel menatapnya bingung. Lalu pelayannya itu tiba-tiba menunjuknya. "NAH! BERARTI KAMU TERTARIK DENGAN HAZEL!"


Arzhel yang terkejut seketika merenggut sembari agak menutup kedua telinganya, teriakan itu sepertinya terdengar hingga keluar juga. "Maksud kamu apa? Kamu yang meragukan aku tidak mengenal Hazel dengan baik, kenapa malah jadi menyimpulkan seperti itu?"


Gelengan ia dapat sebagai balasan pertama, Vozie beringsut untuk pindah duduk ke sampaing Arzhel. Ia lalu merangkul bahu Tuan Mudanya itu selayaknya teman lama, ya memang iya sih, hehe. "Dengar, walaupun tahi lalat tadi adalah yang terlihat, tapi aku sendiri bahkan tidak tahu dengan tahi lalat yang berada di antara jari telunjuk dan jari tengah itu. Kamu tertarik dengan Hazel, Arzhel. Orang yang tidak tertarik tidak akan menyebutkan sedetail itu, berarti kamu memperhatikannya."


"Tunggu-"


Vozie menaruh jari telunjuknya di bibir Arzhel, memberikan gestur agar laki-laki itu diam karena ia belum selesai. "Kalaupun ia mengenal baik, kamu hanya akan menebak-nebak dan menyebutkan yang biasanya memang kamu lihat, tapi sampai sedetail itu, em!"


"Kenapa menyimpulkan lewat tahi lalat saja, aneh." Arzhel melepas rangkulan Vozie dengan wajah kesal, padahal sebenarnya ia tengah memikirkan apa yang baru saja Vozie katakan. Jika dipikir lagi, itu memang ada benarnya, tapi entah kenapa rasanya ia menolak.


Tidak mungkin, ia hanya mencintai Alexa.


"Sebaliknya, apa kamu pernah lihat ada yang menyapa Alexa sebanyak orang yang menyapa Hazel? memang benar banyak yang bilang jika Alexa anak yang baik, tapi lain kali, kamu perlu lihat tatapan mereka. Apakah setulus tatapan pada Hazel?"


"Alexa hanya tidak pandai bersosialisasi jadi dia hanya punya lingkungan yang sempit, kamu tahu sendiri dia gadis yang pemalu."


Giliran Vozie yang kali ini pindah ke tempat duduknya semula untuk menjauh dan lagi-lagi sembari memicing sinis padanya. "Sudahlah, memang tidak berguna menjelaskan sesuatu kepada orang yang alergi fakta karena menjadi budak cinta."


.


.


.

__ADS_1


.


Hazel yang tengah duduk sembari membaca di ruangan barunya itu entah sudah berapa kali menghela nafas. Tanpa sadar ini buku kedua yang ia baca setelah Arzhel dan orang tuanya itu pergi, ia masih menunggu surat dari Camorra.


"Ada apa ya? walaupun kemarin Camorra mengiriminya surat untuk tidak khawatir, tapi surat selanjutnya dia masih tidak mengirim balasan. Biasanya cepat, aneh sekali." Suasana hatinya menurun untuk menlanjutkan membaca, buku itu ia simpan begitu saja di atas meja tanpa di tutup.


Hazel menatap ke arah jendela, merenung sembari menikmati bulan. Cahaya lampu jalanan itu begitu terang hingga matanya memicing saat lampu itu menerangi sebuah sepeda kecil yang sangat ia kenal. Itu pengantar surat.


Ia lantas bangun dengan terburu, segera berlari untuk menuju ke gerbang utama. Celsa yang melihatnya lantas mengikuti karena panik, Hazel tak memperdulikan apa-apa dan takutnya akan membuatnya jatuh apalagi saat menuruni tangga jadi dengan inisiatif Celsa mengejar.


Hazel membuka pintu utama dan di depan sana- oke ini masih jauh, dia masih harus berlari. Dilihatnya beberapa pengawalnya tengah berbicara dengan tukang surat itu. Saat mendengar langkah yang mendekat mereka kantas berbalik dan segera memberi hormat mengetahui jika Hazel yang datang.


Ia ikut membungkuk sebentar untuk membalas hormat lalu menghampiri si tukang surat setelah para pengawal itu memberinya akses jalan. "Ada surat untukku?"


Tukang surat itu mengangguk lalu memberikan sebuah amplop yang masih tertutup. "Untuk Nona Hazel dari Nona Camorra. Maaf menganggu istirahat Nona malam begini," ujarnya.


Hazel tersenyum. "Tidak apa, terima kasih sudah mau mengantarkan suratnya meski sudah malam begini, paman sudah bekerja keras. Paman mau minum?"


Lelaki itu menggeleng cepat. "Ah, tidak usah, Nona!"


"Paman istirahat saja dulu di sini, nanti akan dibuatkan minuman," ujar Hazel seraya menuntun lelaki itu untuk duduk karena ada kursi pengawal juga di sana. "Buatkan teh hangat ya, juga bawakan roti."


"Nona Hazel, tidak perlu, saya tidak mau merepotkan," ia menolak lagi, tapi Hazel membalas dengan tersenyum. Lalu teh hangat datang beserta roti panas yang Hazel minta.


"Paman istirahat saja dulu," ulang Hazel ramah. Setelah tukang surat itu menyetujui, Hazel pamit untuk kembali ke rumah. Ia juga meminta maaf tidak bisa menemani terlalu lama, ia juga menitipkan pada Celsa untuk menyiapkan sekotak roti hangat dan diselipi beberapa lembar uang untuk tukang surat.


Hazel membuka surat itu di depan pintu kamarnya saking tidak sabar.


Untuk : Hazel


Hazel, selamat malam. maaf baru membalas suratmu. Ini aku Matteo, Camorra yang menyuruhku untuk membalas suratmu. Emm ... aku jelaskan besok ya? soal kejadian tadi, maaf kalau kamu merasa tidak nyaman. Besok aku dan Camorra akan berkunjung lagi ke sana, seperti biasa. Maaf aku tidak pandai berkata-kata dalam surat, mungkin hanya itu.

__ADS_1


^^^Salam hangat, Matteo.^^^


Ya ampun, lucu sekali Matteo ini.


__ADS_2