
Langkah kaki itu saling beriringan menapaki setiap jalan setapak dekat danau. Udaranya benar-benar masih terasa sejuk, Arzhel memperhatikan bagaimana Hazel yang bahkan seperti tidak terganggu oleh panas sama sekali. Sementara jika bersama Alexa dia harus sering membawa payung.
Ya kalau itu tidak apa, demi gadisnya.
"Pagi begini masih sepi ya? padahal pemandangannya cantik," ujar Hazel tanpa mengalihkan tatapannya dari danau itu, memang kalau dia ingat di sini sangat banyak danau hampir di setiap tempat, tapi yang di sini bisa dibilang paling indah.
"Biasanya memang lebih ramai kalau sore hari, mau ke gazebonya tidak?" tawar Arzhel, Hazel yang sejak tadi fokus melihat angsa-angsa baru melihat jika ada Gazebo di sebrang sana. Tempat yang benar benar ingin ia kunjungi.
"Mau, tapi pelan-pelan saja, aku masih betah di sini," jawab Hazel, benar-benar tidak membiarkan setiap inci sudut di sana lepas dari pandangannya. "Ngomong-ngomong, sampai kapan kita harus berpura-pura?"
Arzhel melihat sekelilingnya, di belakang sana Vozie bersama Celsa terlihat menatapnya lalu memberikan sebuah isyarat sebagai tanda jika orang yang memata-matainya masih berada di sana.
"Vozie akan memberi tahu jika orang yang terus mengawasi itu sudah pergi," jawab Arzhel.
"Kamu tidak tahu siapa?"
"Aku tidak tahu tepat orangnya, tapi yang pasti suruhan Ibu. Lagipula aku tidak paham kenapa kedua orang tuaku sangat menyukai kamu," ujarnya tiba-tiba.
"Orang dewasa bisa menilai sendiri, aku sudah bilang berapa kali," kata Hazel seraya berhenti dan menatap laki-laki itu. "Dengar, aku tidak masalah kamu mau dengan siapapun, asalkan perjodohannya sudah batal. Aku juga hanya menuruti kata orang tuaku, lagipula jika kamu tetap memaksa bersama Alexa disaat kita terikat yang rugi juga kamu, bukan aku."
Arzhel tertegun, ia berpikir. Memang iya kalau yang akan rugi adalah dia sendiri, ayah dan ibunya memang tidak akan pernah bermain-main mengenai ancaman apalagi mengenai pernikahan. Ibunya mengancam jika berani bertemu Alexa lagi maka ia tidak akan diterima kembali, ayahnya pasti juga akan mengikuti ibunya. Setelahnya gelar bangsawannya akan dicabut bukan? Arzhel tahu, kedua orang tuanya itu ingin yang terbaik. Padahal Alexa jika diterima dengan baik, dia bisa diberi pendidikan lagi dan kepintaran serta sikapnya bisa menyamai para bangsawan.
"Tapi aku mencintai Alexa. Hazel, pernikahan tanpa cinta juga bukan hal yang bagus." Arzhel berujar dengan tatapan yang jelas sekali ia paham, bagaimana seseorang yang tidak ingin dipisahkan dari cintanya.
Hazel menghela nafas. "Aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak salahnya untuk mencoba. Tapi jika kamu tetap tidak mau ya sudah, jangan menyusahkan aku saja."
"Hazel, apa benar kamu mencintaiku?"
__ADS_1
Kali ini Hazel yang dibuat diam, ia mengulum bibir dengan tatapan yang menunduk. Lalu senyum kecil muncul diiringi kepalanya yang kembali mendongak untuk membalas tatapan Arzhel. "Orang lain saja bisa menilai dari sikapku, masa kamu tidak menyadarinya?"
Vozie dan Celsa di belakang terus memperhatikan Tuan dan Nona mereka, jarak yang cukup jauh membuat mereka tidak tahu apa yang dibicarakan. Raut wajah antar keduanya yang sewaktu waktu berubah membuat mereka hanya bisa menebak-nebak saja.
"Kenapa Tuan Arzhel sampai di awasi begitu?" tanya Celsa yang penasaran sejak pagi.
Vozie menghela nafas. "Tuan Arzhel setiap hari pergi dengan alasan menemui Nona Hazel, nyatanya dia pergi menemui Alexa. Nyonya baru tahu karena ada yang memberi tahunya lewat surat, alhasil begini."
"Oh, lagipula aneh-aneh saja, dia termasuk cari perkara," jawab Celsa. "Bisa-bisanya dia juga bersikap buruk pada Hazel."
"Kamu juga panggil Nona Hazel dengan nama saja?"
"Ya, Hazel yang minta."
"Oke, bersikap santai saja. Arzhel kemarin pergi ke kediaman Beatrix kan untuk mengantar Keizo? apa yang terjadi?" Hari kemarin, ya Vozie memang sengaja tidak ikut karena banyak pelayan dari pihak Keizo yang ikut jadi giliran dia untuk diam.
Vozie terbelalak karena mendengar hal itu, ia menutup mulutnya tak percaya. "Kamu serius? Ya ampun, berani sekali dia. Lalu setelah itu apa? Nona Camorra balik menampar Alexa tidak?" tanyanya antusias, cukup menyesali kenapa kemarin ia tidak ikut saja.
"Tidak, tapi Hazel datang dan menampar Arzhel karena ingin membela Alexa lagi." Vozie berdecak, kecewa kenapa Hazel tidak menampar balik Alexa saja. Jujur, dia juga kurang menyukai Alexa entah kenapa.
"Kamu sepertinya tidak suka dengan Alexa?" tanya Celsa kemudian, karena sejak tadi respon pelayan Arzhel itu benar-benar tampak tidak senang.
"Hm, ya. Percaya tidak percaya, aku bisa merasakan sifat orang meskipun baru bertemu. Dari awal Arzhel membawa Alexa saja sudah ada perasaan aneh, memang iya banyak orang Alexa gadis polos yang baik dan rendah hati. serta sederhana dan sifat menakjubkan lainnya seakan dia gadis sempurna, kalau kamu ingin tahu, sebenarnya tidak seperti itu. Arzhel sering mengajakku untuk menemani saat dia bertemu Alexa, gadis itu banyak maunya. Entah kenapa terasa repot sendiri, lalu manja dan seakan akan dia yang paling di jahati dunia," jelas Vozie panjang lebar dengan wajah kesal. Ia lalu menunjuk Arzhel dan melanjutkan, "Mengenai kejadian di pesta, aku juga sudah memberi tahu Arzhel tapi dia tetap percaya jika Hazel dan Nona Camorra yang sengaja melakukan hal itu."
"Alexa tidak jauh berbeda dengan gadis gadis yang ingin naik tanpa usaha berat, dia licik. Namun dia bermain rapi dan pintar membalikkan suasana, jadi ya kalau dia melakukan sesuatu yang bisa dibilang tidak baik, orang-orang akan menganggap jika dia tidak sengaja atau lainnya karena sebelumnya dia sudah membangun image yang kuat di masyarakat."
Celsa mengangguk mendengarnya karena setuju, memang kurang lebih menurutnya begitu. "Aku tahu Hazel mencintai Arzhel, tapi dia juga tidak pantas diperlakukan tidak baik. Hazel juga pasti berpikir, aku pikir suatu saat dia akan membatalkan perjodohannya."
__ADS_1
"Ya ampun, lebih baik jangan. Aku tidak bisa membayangkan jika yang menikah dengan Arzhel adalah Alexa, hidupku pasti menderita. Eh tapi, Nyonya Mageo dan Tuan Mageo pasti juga tidak secepatnya menyetujui, apalagi segala ancaman yang sudah dilontarkan pada Arzhel tentu tidak main-main."
"Lain kali kamu beritahu lagi biar sadar," kata Celsa yang dibalas anggukan. Mereka kembali melihat ke arah Arzhel dan Hazel yang tampak tenang, bahkan sudah sampai di gazebo.
Hazel sepertinya tampak begitu menyukai tempat ini, Arzhel hanya memperhatikan sampai tak duduk mengikuti gadis itu. Saking sukanya sepertinya Hazel bisa saja sampai terjun ke danau. "Kamu mau aku dorong?"
Pertanyaan itu sampai membuat Hazel menoleh dan menatap marah padanya. "Maksud kamu?!"
Arzhel malah tertawa. "Kami melihat danau sampai sebegitunya, bahkan sepertinya bisa sampai terjun ke danau. Makanya aku menawarkan untuk di dorong atau tidak."
"Gila, ya tidak begitu juga," jawab Hazel ketus sambil cemberut. Arzhel diam menatapnya, lalu terseyum kecil. Ia lantas maju mensejajarkan posisi dengan Hazel untuk ikut menikmati pemandangan danau ini. Di tambah angin sepoi sepoi yang bisa membuat siapa saja mengantuk.
"Kamu tidak meminta sesuatu sebagai imbalan? aku pikir kamu akan memanfaatkan waktu untuk mengajakku pergi membeli baju berjam-jam, aku kira kamu tidak akan betah berlama-lama di sini," ujar Arzhel.
"Di bawa ke tempat yang sangat aku sukai begini saja sudah lebih dari imbalan menurutku, kamu juga membawa aku makan. Selagi kamu tidak bertingkah aneh-aneh ya aku juga tidak berharap apapun."
Arzhel mengernyit, lagi-lagi merasa jika Hazel adalah orang yang berbeda. Ia membuang muka, melihat ke arah lain untuk berpikir. Namun, kedua netranya malah bertemu dengan Vozie yang terlihat memberi isyarat dengan gerakan mulutnya.
"Orang yang mengawasinya mulai memotret gambar!!"
Maka tanpa persetujuan Hazel yang tengah memandangi langit, Arzhel menarik gadis itu hingga berbalik dan menempe ke tubuhnya yang lalu ia peluk. Tatapan mata itu beradu apalagi Hazel yang tentu saja terkejut krena itu benar-benar sangat mendadak.
"Kenapa?"
"Orang yang mengawasiku mulai memotret gambar," jawab Arzhel tanpa mengalihkan pandangannya. Hazel lalu mengangguk, hendak memalingkan wajahnya tapi Arzhel mengusap pipi itu sehingga mereka kembali bertatapan.
Cukup lama dan tanpa diduga, entah kenapa Arzhel terus menerus mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1