
Hazel memandangi langit malam dari balkonnya, meski netranya menatap pada bulan yang malam ini bersinar sangat terang dan indah tapi pikirannya tetap berputar pada kejadian tadi siang. Matteo ternyata menyukainya bahkan mengajaknya menikah secara gamblang.
Ini benar di luar dugaannya, tapi Hazel senang karena berarti rencananya bisa saja berjalan mulus ke depannya. Namun entah kenapa rasa senang itu seperti menyebar ke seluruh tubuhnya, rasa senang yang berbeda hingga membuatnya terus tersenyum.
Entah, dia tidak ingin memikirkannya lebih dulu dan memilih untuk fokus pada rencananya. Apa dalam artian dekat dengan Matteo itu dia harus membangun hubungan? atau hanya sekedar dekat untuk membalas hal yang sama yang Arzhel lakukan? Lagipula, kalaupun dia mau membangun hubungan dengan Matteo apa itu tidak akan berpengaruh banyak?
"Tidak usah memikirkan alur, sudah aku bilang berapa kali lakukan sesukamu."
Suara itu membuat Hazel terdiam, Glio kali ini hanya mengirimnya pesan tanpa menampakkan wujudnya. "Namun, peranku di sini antagonis?"
"Ya, memangnya kamu tidak mau membalas Alexa? dan soal ada yang harus kamu ketahui itu, kamu tidak penasaran ya?"
Hazel berdecak, tapi ia tak membalas lagi dan memilih untuk diam. Ia juga sudah membaca surat yang Camorra kirimkan, apakah dia harus membalas surat itu dengan bertanya apa Camorra tahu mengenai Matteo yang menyukainya? kata Matteo sih kemarin belum.
Ia lantas berbalik setelah berpikir sejenak, masuk kembali ke kamarnya dan meraih kertas beserta penanya. Pena itu menari-nari di atas kertas seiring Hazel menulis setiap huruf yang kemudian berubah menjadi kalimat. Hazel lalu memasukkan suratnya ke dalam sebuah amplop, di dengarnya suara sepatu lalu ketika di pintu menyusul.
"Hazel, boleh aku masuk?" Itu suara Evie, pas sekali dia ingin memanggil gadis itu. Hazel sengaja beranjak meski pintu kamarnya itu tidak di kunci, ia ingin membukanya sendiri.
"Evie, pas sekali. Tolong bantu kirimkan surat ini pada Camorra ya?" ujar Hazel tanpa basa basi, Evie menatap surat itu lalu mengambilnya dan mengangguk. "Ada apa?" tanya Hazel kemudian.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu," ujar Evie dengan senyumnya yang tampak kikuk. Walaupun Hazel bilang untuk bersikap seperti temannya saja, tapi sepertinya Evie masih belum terbiasa juga dan karena ia anak yang pemalu. Hazel mengangguk tanda tak mengapa, lalu Evie memberikan secarik surat yang sudah dibuka. "Ada pesan dari Tuan Theodore, besok keluarga Mageo akan berkunjung ke mari."
Hazel mengernyit setelah mendengar apa yang Evie katakan begitupun setelah membaca surat itu. "Apa akan ada Arzhel juga?"
"Pasti, keluarga Mageo. Mungkin hanya Tuan dan Nyonya Mageo dan Arzhel tentu saja," jelas Evie. Hazel berdecak mendengarnya, jujur ia sedang malas bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu.
"Ya sudahlah, aku mau tidur saja," ujar Hazel dengan wajah sebalnya, ia juga cemberut. Evie tersenyum canggung, ia paham betul kenapa Hazel sampai berperilaku seperti itu.
__ADS_1
"Baik, selamat malam, Hazel."
.
.
.
Matteo melangkah dengan tenang menuju gerbang utama, di sisinya juga ada Camorra yang menemani. Mereka berdiri dengan tegap seakan menunggu kedatangan seseorang, para pelayan juga senantiasa menaungi mereka dengan payung dari teriknya sinar matahari siang ini.
"Aku ingin bertemu Hazel," ucap Matteo pelan, nada lesu masih terselip di sana. Camorra hanya melirik dari ekor matanya, kalimat itu mengawang begitu saja tanpa balasan untuk beberapa saat sampai gadis itu kemudian memberikan sebuah amplop yang segelnya sudah terbuka, Camorta sudah lebih dulu membaca surat di dalamnya.
"Hari ini kamu kedatangan sepupu jauhmu sendiri, Matteo. Kamu sendiri tahu apa yang akan dilakukan jika bukan kamu dan aku yang menjemputnya di gerbang utama." Camorra berujar, mulai terganggu dengan panas yang masih menerpa meski ia juga sudah mengipasi diri. "Itu surat dari Hazel, aku membalasnya. Kamu saja yang balas," lanjut Camorra.
Senyum tipis sedikit terlihat, Matteo dengan antusias ingin segera membuka surat itu tapi suara kereta kuda yang mendekat membuatnya mengurungkan niat dan memasukkan amplop itu ke dalam saku jasnya setelah ia lipat.
"Selamat datang, Elle." Matteo menyambut dengan sopan, begitupun juga Camorra. Benar, gadis itu adalah Elle Elvie V'goner sepupu jauh dari Matteo yang hari ini berkunjung dan akan tinggal beberapa hari ke depan tanpa kedua orang tuanya yang tengah berlayar ke wilayah barat untuk melakukan hal penting.
Elle tersenyum. "Kalian masih sama, masih mau saja menyambutku di gerbang utama hanya karena takut," ujar Elle dengan nada yang terdengar mengejek di telinga Matteo dan Camorra.
Matteo menghela nafas. "Kami hanya menghindari masalah kecil yang kemungkinan mejadi besar karena asalnya darimu," balas Matteo.
Sepupu jauhnya itu justru tertawa kecil. "Berarti kalian lemah, sama seperti dulu. Hanya masalah kecil yang bahkan bisa kalian tangani, atau abaikan jika kalian tidak suka, tapi kalian tidak sanggup. Lemah, kalian masih tidak bisa bersikap tegas padaku bukan?"
Keduanya tersentak mendengar itu, apalagi Camorra yang jelas mudah sekali untuk terusik. Namun Camorra kali ini memilih untuk diam, meski dadanya naik turun menahan amarah, ditambah tatapan mengejek itu membuatnya makin naik darah. Camorra hampir saja hilang kendali dan menjambak Elle.
Elle melenggang pergi kemudian, Matteo menggeleng pelan dan segera mengikuti serta berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan Elle. "Kamu tidak pergi ke mana-mana hari ini, Matteo?"
__ADS_1
"Kamu mau aku tinggal?" Matteo bertanya balik.
"Silahkan saja kalau berani," kata Elle. Matteo mendelik, rasanya ia tidak nyaman dan tidak bisa tenang sebelum membalas surat dari Hazel. Walaupun kejadian kemarin begitu terus berputar di kepalanya, tidak bisa ia pungkiri dia begitu merindukan Hazel. Andai Elle tidak datang hari ini, dia pasti sudah pergi untuk menemui Hazel.
Mereka masuk ke ruangan utama, Elle memberi salam pada Tuan dan Nyonya Agore. Voiger Ach Agore dan Hulliet Za Agore tersenyum dan segera menghampiri Elle untuk mengusap puncak kepala gadis itu. "Selamat datang kembali, Elle. Matteo dan Camorra akan mengantar kamu ke kamar, semoga liburan kamu di sini menyenangkan ya?"
Elle tersenyum dan mengangguk, ia laku melihat ke arah Matteo menunggunya untuk segera memandunya menuju kamarnya. Sementara Matteo hanya melirik lalu berjalan lebih dulu, di sepanjang lorong Elle terus berbicara entah apa saja yang pasti Matteo tidak ingat karena pikirannya hanya tertuju pada surat.
Sesampainya di kamar Elle, Matteo hanya diam memperhatikan sepupunya itu yang kemudian menyimpan tasnya dan ya entah apalagi ia tidak tahu.
"Pergi saja, biar aku yang urus." Matteo menoleh, ia melihat Camorra yang mengisyaratkannya untuk segera pergi dan menyerahkan Elle padanya.
Matteo sebenarnya ingin bertanya apa tidak masalah tapi dia juga sudah tidak sabar, maka tanpa pikir panjang ia mengangguk lalu menatap Elle. "Aku ke kamar kecil dulu." Matteo langsung pergi begitu saja dengan terburu seperti di kejar waktu.
Camorra melihat Matteo yang dengan tidak sabar menarik amplop yang sedikit kusut itu dari saku jas dalamnya. Namun saat Camorra menoleh hendak untuk melihat apa yang Elle lakukan, gadis itu justru maju dan berbalik melewatinya begitu saja. Gadis itu melotot saat sadar jika Elle mengejar Matteo yang masih berada di lorong.
Panik, Camorra lantas mengejar tapi langkah kaki Elle begitu cepat. Matteo juga seakan tuli tidak mendengar ada yang mengejarnya, apalagi langkah laki-laki itu pelan karena fokus membaca surat Hazel. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Elle yang merampas surat itu dari tangan Matteo hingga ada sobekan kecil di ujungnya.
Matteo berbalik karena terkejut, semakin terkejut kala tahu yang merampas surat itu adalah Elle. Di ujung sana Camorra sudah berdecak, pusing harus melakukan apa.
Elle tersenyum setelah membaca semua isi surat itu. "Aku baru ingat dengan Hazel," ujarnya lalu memberikan kembali surat itu ke tangan Matteo dengan tenang, tanpa rasa bersalah atau hal lainnya. "Bagaimana jika besok kita temui Hazel? ajak aku, dulu aku hanya sempat melihat wajahnya saja."
"Tujuanmu ke sini bukan untuk itu."
"Memangnya tidak boleh ya bertemu dan berkenalan dengan gadis yang kamu sukai sejak lama?"
Matteo terdiam, ia menatap Camorra yang terlihat bingung juga harus bagaimana. Sementara sorot mata Elle berubah, sulit untuk diartikan.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Hazel."