Antagonis?

Antagonis?
17. Di luar perkiraan


__ADS_3

"Mau tetap main di sini saja?" tanya Hazel setelah bermain panahan dengan Matteo cukup lama. Camorra bahkan sampai mengantuk menunggu kedua sahabatnya itu bermain, Hazel melihat ke arah langit yang kali ini begitu terik. "Aku takut kalian bosan."


Camorra menggeleng. "Panas begini, aku malas juga. Bagaimana kalau ke kamarmu saja? aku ingin ikut tidur, mengantuk sekali."


Hazel mengangguk tanpa berpikir, Matteo dengan sigap meraih tangan Camorra untuk ia tuntun karena sepertinya sepupunya itu benar-benar mengantuk. Mereka berjalan beriringan, tapi Hazel malah berbelok ke arah lain membuat Matteo mengernyit, Camorra yang dilanda kantuk saja sadar.


"Ini bukan arah ke kamarmu," ujar Matteo meski tetap mengikuti Hazel.


Gadis dengan rambut pirang itu menoleh lalu mengangguk. "Ada tempat bagus, lebih nyaman untuk kamu pakai tidur, Morra."


Matteo memilih tak bertanya lagi, begitupun dengan Camorra yang sudah malas dan memilih untuk mengikuti saja yang penting ia bisa tidur. Barulah setelah lorong yang cukup panjang, mereka sampai di depan sebuah pintu asing dengan ukiran bunga, Hazel tak pernah membawa mereka ke sini sebelumnya.


Hazel lalu mengeluarkan kunci dan segera membuka pintu itu. Camorra berkedip beberapa kali, barulah netra itu membulat. Terkesima dengan ruangan yang baru pertama kali dia lihat, Matteo juga. Salah satu alis Hazel terangkat melihat ekspresi Matteo kemudian tertawa kecil. "Ayo masuk."


Ruangan itu salah satu sisinya dipenuhi kaca yang langsung mengarah ke halaman luas serta taman bunga keluarga Beatrix. Simple tapi benar-benar terlihat nyaman, di sana bahkan terdapat ranjang dengan ukuran king size. Ada sofa dengan jendela yang memungkinkan siapa saja untuk menikmati sepanjang hari hanya dengan menatap pemandangan yang begitu memanjakan mata.


"Hazel, aku terkejut. Ceritakan padaku nanti, aku sudah mengantuk sekali," ujar Camorra yang langsung jatuh di atas ranjang. Bahkan matanya seketika tertutup dengan dengkuran halus yang begitu nyaman untuk di dengar.


Hazel tersenyum, ia lantas duduk di sofa, ternyata di dekatnya juga ada rak buku kecil. Matteo duduk di sebrangnya dan Hazel langsung memberikan sebuah buku. "Aku tahu kamu senang mempelajari ruang angkasa bukan? aku khusus mencari buku ini untukmu, Matteo. Semoga kamu suka."


Matteo mengulum bibirnya gugup, ia lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap ke luar. Hazel mengikuti arah pandang laki-laki itu. "Kamu terlihat begitu senang hari ini, kenapa? raut wajahmu lebih beragam jika kamu sedang senang. Emosi yang biasa tidak kamu tunjukkan jadi muncul begitu saja," kata Hazel.


Matteo menoleh lalu menatap Hazel cukup lama, ia berdeham. "Aku baru tahu ruangan ini."


"Oh, aku juga baru tahun setelah pulang kemarin. Ia ruangan dulu bekas alat musik, tapi karena alat musik sudah dipindahkan ke tempat baru, ruangan ini dibiarkan terbengkalai. Jadi aku, Celsa, dan Evie menghias ruangan ini. Memang tidak megah, tapi nyaman untuk dijadikan tempat bermain jika kalian ke sini lagi."


"Benar, nyaman." Matteo menunduk, sebenarnya ia mencoba untuk menutupi gugupnya. Mereka memang sering memperhatikan satu sama lain, tapi Hazel tidak pernah begitu terang-terangan padanya. Dia tidak tahu ya hal sekecil itu saja jika Hazel yang ingat bisa membuat ia gila?

__ADS_1


"Lain hari, boleh tolong bantu aku memilih beberapa buku lagi di perpustakaan untuk aku simpan di sini? sekalian aku juga mulai tertarik dengan luar angkasa karena semalam aku tidak sengaja membaca salah satu buku, menarik juga," ujar Hazel.


Tanpa sadar senyum Matteo mengembang, bahkan pipinya memerah. Perona pipi alami yang pertama kali Matteo dapat, dari gadis yang ia sukai sejak lama. Dia lalu mengangguk setuju. Andai di rumahnya, Matteo pasti sudah berteriak sekencang mungkin.


"Kamu benar-benar suka buku ya? sampai aku minta ditemani saja kamu sampai sesenang itu," kata Hazel yang kemudian membuka salah satu buku mengenai ragam jenis bunga. Matteo menggigit bibirnya, salah, Hazel. Yang benar itu dia benar-benar menyukai gadis di depannya ini.


"Ya, aku memang suka. Mau mulai kapan memilah buku dari perpustakaan?" Matteo bertanya sambil menahan senyumnya lagi.


"Nanti aku beri tahu lagi, memangnya kamu tidak sibuk ya? kalau sibuk tidak apa, aku bisa lakukan dengan Celsa dan Evie," jawab Hazel lagi dan siapa sangka Matteo langsung menggeleng sampai membuat Hazel tersentak karena kaget.


Matteo yang sadar langsung membenarkan posisinya lagi, ia lalu berdeham. "Aku bisa ... kapan saja, mau ajak Camorra juga?"


Hazel tampak berpikir, sementara Matteo dalam hati berharap semoga Camorra tidak akan diajak agar ia bisa berduaan dengan Hazel menghabiskan waktu memilih buku.


"Nanti kamu tanya Morra saja mau atau tidak, lalu beri tahu aku lagi. Lagipula jika Morra ikut, dia pasti sudah tertidur di meja karena menunggu." Hazel tertawa kecil.


Hazel lalu menoleh ke arah Camorra yang ternyata masih terlelap dengan damai, posisinya bahkan tak berubah sama sekali dari awal. "Bagaimana kalau kita makan buah dulu?"


Memang benar, cuaca panas begini paling enak untuk menyantap buah dengan kadar air yang banyak. "Terserahmu saja, Hazel."


Ia mengangguk dan menoleh ke arah pintu, ternyata Celsa dan Evie sejak tadi siap siapa berada di sana. "Kupas buah dan bawa kemari." Keduanya mengangguk dan segera pergi sesuai perintah Hazel.


"Oh iya, Matteo." Matteo yang sebelumnya hendak fokus ke bukunya lantas mendongak, menunggu Hazel untuk melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana hubungan kamu dengan Nona Elle Elvie V'goner? Maaf lancang, aku hanya ingin tahu ...."


Sementara senyum pada Matteo tiba-tiba luntur, ia lalu menutup buku yang baru ia buka itu. "Tidak apa, kamu tahu dari mana soal Elle?"


"Dari Ayah, mungkin memang mulai tersebar bukan? kamu dan Nona Elle akan dijodohkan-"

__ADS_1


"Oh tidak, kamu salah paham. Mungkin karena kedekatan kami berdua sampai membuat rumor jika aku dan Elle akan dijodohkan, orang lain terlalu menambah-nambahkan. Aku dan Elle adalah kerabat jauh, masih memiliki hubungan darah," jelas Matteo.


Hazel menghela nafas lega karena menurutnya itu sebuah tanda baik untuk ia memulai rencana. Jika Matteo memang benar akan dijodohkan sama saja dia mencari mati, bukannya membuat Alexa mundur, justru dia yang akan dicaci-maki. Saran dari Glio memang bagus, tapi untungnya dia mencari tahu terlebih dahulu soal ini atau dia akan dalam masalah yang lebih besar lagi.


"Sepertinya memang ada yang melebih-lebihkan," ujar Hazel kemudian.


Matteo justru terdiam, ia tampak berpikir tapi tatapannya tak beralih dari Hazel membuat gadis itu gugup dan bingung. "Kalaupun keluargaku ingin melakukan perjodohan, aku dengan tegas tidak akan menerima karena aku sudah punya orang yang sudah kusukai sejak lama."


Hazel terkejut, tapi mencoba untuk menyembunyikannya. "Wah, benarkah? aku pikir kamu orangnya susah untuk jatuh cinta. Apa Morra tahu? kamu tidak pernah menceritakannya bukan?" Sial, kalau begini dia harus memutar otak lagi, masa menyuruh Keizo begitu?


"Ya, belum. Aku masih menunggu dia untuk membatalkan perjodohannya meski sepertinya tidak mungkin," lanjut Matteo.


"Kalau belum tentu gadis itu menyukainya, masih bisa diperjuangkan, kenapa tidak kamu tanyakan dulu?"


"Hm, kamu bagaimana? apa menyukai Arzhel?"


Pertanyaan tiba-tiba yang membuat Hazel mengernyit. "Tiba-tiba sekali, sebenarnya aku masih ingin mencoba karena ini keinginan ayah dan ibu. Namun melihat perlakuan Arzhel aku berubah pikiran, mungkin suatu saat bisa saja aku membatalkan perjodohan itu?"


"Hazel, kalau kamu tidak nyaman aku bisa bantu berbicara dengan paman dan bibi, kenapa harus menunggu suatu saat?"


"Bukan begitu, mungkin saja Arzhel akan berubah pikiran?"


Matteo menggigit bibir, ia lalu berdiri membuat Hazel mendongak karena terkejut. "Aku mencintaimu, Hazel."


Hazel terperangah. "Matteo-"


"Ayo menikah denganku."

__ADS_1


Ya ampun ... ini di luar perkiraannya.


__ADS_2