
>> Hazel Adamina Betrix
Pagi hari yang indah dia sambut dengan secangkir susu panas, asapnya bahkan terlihat masih mengepul sampai Hazel harus meniupnya beberapa kali sebelum meminumnya.
Hazel masih teringat bagaimana kejadian semalam, sebenarnya jantungnya terasa berdegup kencang saat bersama dengan Matteo. Laki-laki itu memang dingin, lebih dari Arzhel, tapi dia bukan gadis bodoh untuk menyadari perubahan sikap yang drastis Matteo padanya. Sepertinya memang benar Matteo menyukainya.
Namun dia juga masih sedikit ragu, alur cerita juga tidak boleh ia rusak begitu saja. Hazel harus tetap memikirkan ke depannya membuatnya tidak bisa melakukannya seenaknya.
Pintu diketuk beberapa kali membuat Hazel menoleh. "Masuk saja," sahutnya. Kemudian Celsa masuk membawa sebuah amplop yang tentu saja pasti berisi surat. "Dari siapa?"
"Dari Tuan Muda Arzhel," jawab Celsa seraya menyerahkan amplop itu. Hazel mengernyit, ia lalu membukanya dan segera membaca isi surat tersebut.
Untuk Hazel.
Lakukan drama dengan baik hari ini, nanti akan aku jelaskan. Aku akan tiba beberapa saat lagi dan saat itu kamu harus sudah siap.
Tertanda, Arzhel.
Hazel memutar bola matanya, jelas malas. Apa yang dia mau pagi buta begini, dasar orang gila. "Tolong siapkan air hangat untuk aku mandi, aku akan pergi hari ini."
"Tuan Arzhel mengajak kamu pergi?" tanya Celsa terlihat tak percaya, mungkin dia berpikir apalagi yang akan terjadi.
"Ya," jawab Hazel seadanya. Dia masih kesal soal kemarin, bagaimana Alexa melukai Camorra dan Arzhel yang membela tanpa memikirkannya. Hari ini giliran dia yang menuntut permintaan maaf. Oh, apa dia juga akan mengajak Alexa? sial, kalau iya berarti dia sengaja ingin membuatnya melihat mereka yang terus mengumbar kemesraan. Awas saja.
Celsa mundur dan segera mempersiapkan apa yang Hazel pinta, tapi Evie tiba-tiba datang. "Hazel, ada Tuan Arzhel di bawah menunggu kamu."
Alis Hazel langsung menukik tajam disertai raut wajah kesal. "Dih, pagi sekali. Dia mau apa sih?" ia berdecak sambil bersidekap dada. "Bilang aku mau siap-siap dulu."
"Tuan Arzhel mau kamu menemuinya terlebih dahulu katanya," ujar Evie lagi. Hazel cemberut tapi tetap bergegas menemui Tuan Muda itu atau dia akan mengamuk, ya siapa tahu. Hazel menuruni tangga dan melihat Arzhel yang tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya.
"Hazel, kamu belum siap?" tanya Theodore.
Hazel menggeleng dan mendekat seraya duduk di sebelah sang ibu. "Belum, aku baru mau mandi. Tidak tahu kalau Arzhel akan datang sepagi ini," katanya sedikit menekankan pada kalimat terakhir sembari menatap laki-laki yang duduk di sofa sebrang.
Namun ia malah disambut tawa kecil. "Maaf, aku berpikir untuk mengajak kamu berkeliling. Pukul segini udaranya selalu menyegarkan, sekalian agar kamu tidak bosan," jawab Arzhel yang langsung membuat Hazel mendelik.
"Ya sudah kalian pergi saja ya. Arzhel, Paman dan Bibi pergi dulu, kalian hati-hati," kata Theodore yang langsung berdiri diikuti Harmonia.
"Lho, Ayah dan Ibu mau ke mana?"
"Pergi ke kediaman Cardinere untuk membahas sesuatu," ucap Theodore lalu mengusak puncak kepala Hazel. Hazel berniat untuk bertanya lagi tapi ia urungkan karena sepertinya mereka terburu dikejar waktu.
Tinggalah Hazel dan Arzhel yang masih diam, tak ada yang berbicara atau menyapa lebih dahulu. Namun karena tidak mau terjebak lebih lama, Arzhel berdiri dan menghampiri Hazel yang masih duduk. "Berdiri."
Hazel cemberut, tanpa bertanya ia memilih untuk berdiri saja agar cepat. Tanpa ia duga, Arzhel menarik dan memeluknya, meski terasa masih canggung Hasrk tentu saja terkejut. "Apa-"
"Diam dulu, aku sedang di mata-matai orang kepercayaan Ayah dan Ibu. Sudah aku bilang beraktinh dengan baik hari ini," bisiknya.
Hazel berdecak tapi ia tak membalas pelukan Arzhel sama sekali. "Itu karena kamu sering berbohong mau menemuiku tahunya malah menemui Alexa bukan?"
__ADS_1
"Kamu tahu?"
"Asal menebak, karena pasti seperti itu. Makanya jangan sering berbohong."
"Dih, mandi sana kamu bau sekali," ujar Arzhel seraya melepaskan pelukannya dan ia langsung disambut tatapan mematikan si gadis pirang. Namun entah kenapa di matanya kali ini Hazel terlihat lucu sekali.
Tidak-tidak! Arzhel kembali tersadar dan segera menepis jauh-jauh pemikirannya itu.
"Siapa suruh datang pagi sekali, dasar gila. Tidak kubantu baru tahu rasa!" dengusnya sebal, Hazel pergi dengan kaki yang sedikit ia hentakkan, tanpa sadar Arzhel tertawa kecil melihatnya.
Hazel segera berendam, tidak lama karena ia tidak mau membuat si Tuan Muda itu menunggunya terlalu lama karena ia masih baik hati. Hazel memilih salah satu gaun yang cukup sederhana tapi bisa terlihat mewah juga secara bersamaan yang baru ia beli saat bermain bersama Camorra dan Matteo. Tidak berlebihan dengan warna ungu muda beracmpur dengan corak bunga berwarna emas yang menawan.
Ia memakai riasan seperti biasa, menurutnya tidak terlalu ribet atau bagaimana jadi cocok saja. Kali ini rambutnya sengaja ia ikat cukup tinggi, tidak seperti biasanya yang selalu ia gerai. Dia juga memilih sepatu yang tidak terlalu tinggi agar memudahkan dia berjalan nantinya.
Hazel turun kemudian dan Arzhel juga sudah menunggunya. "Ayo kita sarapan di luar."
Oh benar, dia juga belum sarapan dan sepertinya Arzhel pun begitu. Maka Hazel hanya mengangguk setuju, ia meminta Evie yang menemaninya sementara Celsa diam di sini kali ini.
Dilihatnya hanya ada satu kereta kuda di hadapannya, Hazel melihat ke sana kemari dan Arzhel yang menyadarinya langsung bertanya, "Apa yang kamu cari?"
"Kereta kuda," kata Hazel.
"Memangnya yang di depan kamu ini apa?"
"Kita naik kereta yang sama?"
Arzhel mengulum bibir, menahan hal hal yang ingin ia lontarkan. "Sudah aku bilang menurut saja dan berakting dengan benar hari ini. Jangan banyak bertanya," ujar Arzhel berbisik di selingi senyum terpaksa, karena ia tahu orang yang ibunya suruh berada di sini dan akan terus mengikutinya.
Kereta mulai berjalan tapi sepi terus mengelilingi, bahkan suara tapak kuda bisa terdengar nyaring. Suasana terasa canggung karena mereka tetap diam, Hazel sebenarnya tak peduli, tapi mereka juga tidak bisa terus seperti ini. "Biar aku duduk dengan Celsa dan kamu dengan Vozie kalau kamu tidak nyaman."
"Biasa saja, atau kamu yang malah tidak nyaman?" Arzhel menatapnya menunggu jawaban, jarak mereka bisa dibilang sangat dekat bahkan sekarang tangan laki-laki itu bisa saja merangkulnya, jika mau.
Hazel memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan itu. "Tidak salah kamu bertanua begitu? tidak ingat kah siapa yang sering menghindar?"
"Aku hanya menjaga perasaan Alexa," jawab Arzhel seadanya.
"Ya sudah, Celsa kemari-"
"Tidak, jangan buat repot. Susah harus berganti tempat duduk di dalam kereta, tidak usah aneh-aneh!" Arzhel menghalangi membuat Celsa yang sempat ingin berdiri langsung duduk lagi.
"Kita mau ke mana sih?" tanyanya karena kesal sejak tadi tidak kunjung sampai di tempat tujuan, dia tidak mau terus terjebak di dalam kereta ini apalagi duduk bersebelahan dengan Arzhel. Duh ....
"Sebentar lagi, sabar sedikit jadi manusia. Kita akan ke tempat makan yang berada dekat salah satu danau, setelah makan kita bisa jalan-jalan di sana," jawab Arzhel.
Tak henti-hentinya setiap kalimat yang keluar dari mulut Arzhel membuatnya kesal setengah mampus, andai bisa dia pukul, pasti sudah ia lakukan sejak awal. Tidak etis saja alur ceritanya berantakan karena seorang antagonis memukul keras si peran utama laki-laki. Lucu juga kalau dipikir.
Walaupun hari ini terjadi secara terpaksa, Hazel pikir ini adalah awal yang bagus untuknya. Semoga dia bisa menarik Arzhel kembali dan mencampakkan Alexa seperti seharusnya. Haduh, menjadi antagonis memang harus jahat terus ya? padahal hanya ingin mengambil apa yang seharusnya miliknya malah harus sampai di cap sebagai seorang antagonis.
Dipikir gadis polos tidak bisa jadi antagonis?
__ADS_1
Mereka sampai di tempat yang Arzhel maksud, restorannya indah karena dihiasi tanaman dan bunga. Arzhel turun lebih dulu lantas mengulurkan tangannya, sementara Hazel malah mengernyit melihatnya dan tak membalas uluran tangan Arzhel yang ingin membantunya turun.
"Aku bisa turun sendiri," ucap Hazel dan hendak turun. Laki laki itu berdecak, dalam hati bertanya-tanya apakah Hazel masih tak mengerti soal berakting dengan baik hari ini? maka tanpa meminta persetujuan, ia menarik tangan gadis itu lalu dengan cepat memegang pinggangnya hingga Hazel tak menapak.
Barulah saat Arzhel menurunkannya, kakinya kembali menapak di tanah, tatapannya jelas masih terkejut. Arzhel benar-benar memastikan dialah yang harus membantunya turun dari kereta. Celsa dan Vozie bahkan terlihat dengan raut wajah yang sama seperti Hazel, terkejut.
Tak mau menunggu Hazel yang masih terkejut, Arzhel menarik tangan gadis itu kembali dan menggenggamnya. Hazel yang tersadar lantas menoleh, tapi laki-laki itu tak menanggapinya. Ia berjalan menuju pintu restoran dengan Hazel yang terus ia genggam.
"Harus sebegininya ya?" tanya Hazel kemudian yang dibalas gumaman kecil, saat pintu restoran terbuka beberapa pelayan menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat datang, Tuan Muda Arzhel dan Nona Muda Hazel!" sambut mereka, Hazel membalas dengan tersenyum berbeda dengan Arzhel yang malah hanya mengangguk dan kembali mengajaknya untuk melangkah menuju meja yang berada dekat jendela. Tersinari mentari dengan baik juga terlihat sangat nyaman.
Arzhel duduk di dekat jendela yang tidak terlalu tersinari, sementara Hazel di kursi sebrangnya yang benar-benar dihujani cahaya mentari. Pelayan datang dan Arzhel memesan, anehnya pelayan itu langsung pergi tidak bertanya padanya. Apa karena ia sibuk memperhatikan ke arah luar?
"Itu sudah dipesankan dengan punyaku juga?" tanyanya yang dibalas anggukan. "Apa yang kamu pesankan?"
"Makanan manusia."
Setelah jawaban itu, Hazel memilih untuk tidak bertanya lagi. Dia ini sengaja ingin membuatnya kesal terus ya? senang sekali sepertinya jika begitu. Lalu ia memilih untuk menunggu makanannya datang sembari menikmati pemandangan luar yang langsung mengarah ke danau. Benar-benar cantik, bahkan ada angsa juga di sana.
"Oh iya." Hazel baru teringat. "Alexa berhutang permintaan maaf pada Camorra. Dia sengaja menampar sekaligus menggunakan kukunya hingga pipi Camorra berdarah."
"Separah itu?" tanya Arzhel tak percaya, memang tamparan Alexa kemarin begitu parah, sampai terdengar cukup nyaring. Ia tidak menyangka gadisnya itu juga menggunakan kukunya, ia bertindak jauh.
"Kalau tidak percaya, sana lihat sendiri. Kalau kamu masih menuntut permintaan maaf soal waktu itu, aku akan minta maaf tapi Alexa harus minta maaf pada Camorra. Walaupun siapapun tahu itu kelakuannya yang ceroboh."
Arzhel terdiam sejenak, ia lalu menghela nafas. "Kamu berubah."
Hazel mengernyit. "Kenapa jadi bilang begitu? aku tadi sedang membahas-"
"Ya, kamu berubah, Hazel. Dari semenjak jatuh dari tangga, kamu yakin tidak hilang ingatan?"
"Kalau iya, setiap bertemu orang aku pasti bertanya siapa."
"Aku minta maaf soal waktu itu," ujar Arzhel tiba-tiba. Sementara Hazel mengernyit bingung karena tidak tahu mengarah ke mana. Oh, mungkin soal di dipermalukan?
"Oh iya, aku maafkan. Tapi pasti aku ingat selalu, padahal cukup citraku buruk di mata kamu saja, tidak usah dibuat buruk di hadapan orang lain. Kalau Ayah tahu pasti marah."
"Aku benar-benar minta maaf, aku waktu itu sangat kesal karena menurutku kamu berlebihan."
"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Kalimat itu menjadi akhir, bahkan saat makanan datang mereka hanya diam. Makan dengan tenang, begitupun Hazel yang sambil terus melihat ke arah danau yang tenang.
.
.
.
__ADS_1
.