
Luka Hazel telah diobati dengan benar, walau masih terasa sakit tapi lebih baik dari sebelumnya. Sebelumnya Celsa hampir saja di marahi, tapi dia lebih dulu bilang pada kedua orang tuanya jika memang karena dia yang tidak berhati-hati sampai terjatuh.
"Terima kasih, Hazel. Kalau tidak pasti aku dimarahi," kata Celsa lega setelah kedua orang tuanya meninggalkan kamar. Gadis itu tentu saja panik, takut dimarahi karena tidak menjaga dengan baik Nona muda keluarga Betrix itu.
Hazel menggeleng pelan. "Tidak, memang bukan salah kamu, aku yang terlalu bersemangat sampai jatuh." Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang mengarah kembali ke sepanjang hari tadi.
Walaupun akting, sikap Arzhel benar-benar membuatnya terbang lalu menghempaskannya sekaligus hingga remuk. Dia membiarkannya pergi begitu saja, tidak mengejar sama sekali. Bahkan saat pulang, ia dengan santainya memangku Alexa.
Andai dia menandatangani kolom peran figuran, dia pasti tidak akan serepot ini. Menjadi antagonis tapi tidak tau harus melakukan apa, juga dia tidak setega Hazel yang sebenarnya.
Oh, benar.
Dia melakukan apa-apa perannya tidak akan berubah bukan? Kalimat kalimat yang ia lontarkan sebagai jawaban jika dia hanya tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, itu hanya omong kosong.
Baik, dia akan melakukan apa yang harusnya dilakukan seorang Hazel Adamina Beatrix.
Saat pintu tertutup setelah Celsa dan Evie keluar, seseorang yang membuatnya berada di sini muncul. Netra itu membulat karna terkejut dan membuatnya tertegun sejenak, sementara dari balik topeng itu terdengar tawa kecil.
"Bagaimana perasaan kamu?" tanyanya santai. Hazel bangun dan merubah posisinya untuk duduk, wajahnya mendongak dengan alis yang menukik tajam karena kesal. "Sudah berapa hari aku lupa, bagaimana? Kamu suka?"
__ADS_1
"Orang gila, apa terlihat dari wajahku ini tampak begitu senang?" tanya Hazel sinis, Glio malah tertawa lagi sebagai tanggapan. Gadis itu bahkan sudah terbiasa dengan bahasa baku sampai tidak sadar.
"Tetap maju Hazel, lakukan semaumu," kata Glio.
Hazel mengernyit, ia lalu berdiri. "Semauku? Bahkan jika aku membatalkan perjodohan ini?" tanyanya. "Apa tidak akan berpengaruh apa-apa?"
"Tidak apa. Tapi kamu yakin untuk menghentikan perjodohannya? Kamu tidak penasaran dengan Alexa? kamu bahkan sudah hampir sampai ke bagian tengah buku." Penuturan Glio membuat Hazel mengernyit lagi karena bingung.
Sebelumnya ia tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada gadis polos itu meski ia merasa tidak nyaman sekalipun, tapi mendengar apa yang Glio katakan, pasti ada yang disembunyikan yang hanya bisa ia tahu nanti jika tetap bertahan dengan perjodohan itu.
"Kalau kamu merasa sakit hati dengan perilaku Arzhel, kenapa tidak kamu balas dengan hal serupa?" ujar Glio lagi yang kali ini membuat Hazel menoleh saat tadi sempat menatap ke arah surat Arzhel yang berada di atas meja tempo hari.
Hazel terdiam sejenak. "Kalau begitu, aku balas dengan siapa?"
Glio tersenyum. "Matteo?"
.
.
__ADS_1
.
Matteo menunggu di ruang tamu kediaman Agore, entah kenapa dia hari ini sangat bersemangat. Camorra mengirimkannya surat untuk menjemputnya besok dan mengajaknya untuk bermain dengan Hazel lagi, karena setelah hari itu mereka belum bertemu lagi dengan Hazel, pipi Camorra juga sudah membaik meski masih berbekas.
Mungkin karena dia akan bertemu Hazel lagi, jadi dia begitu senang. Camorra yang datang bahkan menatap aneh padanya yang tengah tersenyum seakan dia adalah orang paling bahagia di dunia. "Kamu kenapa?"
Matteo diam, senyumannya lalu menghilang berubah seperti Matteo yang kaku seperti biasanya. "Tidak apa, lama sekali. Ayo pergi."
Camorra berdecak, ia lalu mengikuti Matteo untuk masuk ke kereta kuda. Selama perjalanan Camorra terus memperhatikan perilaku Matteo yang tampak aneh, duduknya bahkan terus berubah-ubah seperti tidak sabar untuk sesuatu. "Kamu kenapa sih?"
"Tidak, memangnya aku kenapa?" Matteo balik bertanya.
"Tidak tahu, aneh saja." Camorra cemberut lalu bercermin. "Memang gila, pipiku jadi jelek gara gara dia."
"Kenapa kamu tidak balas cakar waktu itu?" tanya Matteo berusaha untuk menjatuhkan fokus pada sepupunya.
"Sebenarnya mau ku balas lebih, tapi Hazel keburu menengahi. Agak disayangkan kenapa dia tidak menampar Alexa juga," ujar Camorra kecewa.
Matteo diam, ia memilih untuk melihat ke arah jendela karena mereka sudah memasuki area yang sudah dekat menuju kediaman Betrix. Namun, ia melihat seorang gadis yang tengah dikejar dua orang laki-laki.
__ADS_1
Kejadian dan orang yang sama.