
Saat makan malam semua nya berkumpul di ruang makan termasuk mami wildan, kali ini tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mami wildan, sebenarnya mami wildan tak mau makan, hanya saja entah kenapa dia merasa takut suami nya semakin kecewa. Mami wildan makan seolah sangat menikmati makanan nya, padahal rasanya mami wildan tak mampu menelan nasi yang dia makan, saat makan tiba tiba mami wildan teringat saat masa dulu dady wildan hanya seorang pedagang alat alat rumah tangga, mami wildan harus menunggu dady wildan pulang dulu baru bisa makan, terkadang mami wildan makan nasi dengan garam, atau meminta nasi sisa tetangga dengan alasan untuk makan itik dan ayam. Dulu mami dan dady wildan tidak sekaya sekarang mereka tinggal di gubuk yang hampir roboh, bertahan hidup dengan menjual alat alat rumah tangga atau menjual ternak ayam atau itik ke pasar. Mami wildan teringat, dulu bahkan tetangga setiap hari memberi nasi sisa untuk di beri kepada ayam dan itik nya, bukan di beri ke ayam atau itik. tapi mami wildan lah yang memakan nya, agar saat dady wildan pulang kerja dady wildan tak perlu makan satu bungkus nasi berdua dengan mami nya.
[bayangan masa lalu saat dady wildan pulang berdagang]
"Linda...linda... lihatlah aku membawa nasi dengan lauk ayam, aku dapat rezeki lebih tadi, banyak dagangan yang terjual, dan banyak pembeli yang menolak kembalian, meskipun hanya dua ribu tapi dari situ setelah aku menghitung untung dan modal ternyata banyak lebih uang dari mereka cukup untuk membeli satu bungkus nasi ayam" ucap dady wildan tersenyum bahagia pada istri nya.
"Yah.... mas.... bari saja tadi aku makan, perut ku sangat kenyang, tetangga depan memberi lauk dan nasi tadi ke sini, katanya masak kebanyakan, aku baru saja selesai makan, itu piring nya baru saja aku cuci dan masih basah" ucap mami wildan tertawa seolah dia makan nasi yang layak untuk dia makan, padahal nasi yang di beri tetangga adalah sisa nasi makan mereka sekeluarga yang di gabung menjadi satu.
"wah benar kah? ayo makan dengan ku semampu mu saja, nanti sisa nya aku yang makan" ucap dady wildan tersenyum.
"tidak kak, aku tidak mau, aku benar benar kenyang, kakak makan lah, nanti jika basi mubazir" ucap mami wildan pada suaminya.
Dady wildan makan di temani mami nya, melihat suami nya yang makan dengan lahap, mami wildan merasa senang meskipun mami wildan makan dari sisa makan keluarga tetangga setidak nya tulang punggung keluarga nya bisa makan dengan layak.
............
Mengingat masa masa itu mami wildan merasa diri nya sekarang benar benar berubah. Mami wildan menyadari bahwa dia sudah egois dan tinggi hati, membuat suami yang di cintai nya tersakiti. tapi mami wildan tetap merasa gengsi untuk minta maaf atau sekedar berbicara dengan sang suami.
setelah selesai makan mami wildan langsung masuk ke kamar. menatap keluar jendela.
Tanpa aba aba air mata nya mengalir begitu saja. Hatinya sesak, sakit, ada prasaan yang membuat nya tertekan, ada beban berat di pikul nya, tapi dirinya tak tau apa yang membuat nya begitu.
__ADS_1
Dady wildan melihat istri nya merasa kasihan, dady wildan diam diam mendekat kekamar nya, terdengar isakan memilukan dari dalam sana, seperti ada sesuatu yang menekan perasaan, siapapun yang mendengar isakan itu pasti akan ikut merasakan.
Dady wildan masuk ke dalam kamar itu, melihat istri nya sedang sibuk dengan isakan memilukan.
"Linda..." ucap dady wildan memanggil istri nya.
Mami wildan menoleh, ntah kenapa kali ini tatapan itu terlihat teduh dan tenang, seperti Istri yang dulu yang di kenal dady wildan. Mami wildan terisak menatap suami nya.
Dady wildan memeluk istri nya, pelukan kali ini terasa hangat, terasa penuh cinta dan kasih sayang.
"Apa yang terjadi padamu sehingga sifat mu sangat berubah? aku sangat mengenal istri ku, dulu istri ku orang yang baik budi dan lemah lembut" ucap dady wildan masih memeluk istri nya.
"Entah lah, aku merasa diri ku ada dua, hati ku tak tega menyakiti lani atau cucu cucu ku,tapi ntah kenapa seolah diri ini ada yang mengendalikan" isakan mami lani terdengar sendu di dalam dekapan suaminya.
"Linda... apa kamu mau aku ajak ke psikolog? aku yakin ada sesuatu yang terjadi padamu" ucap dady wildan pada istri nya.
Mami wildan hanya mengangguk dalam pelukan suaminya.
Seharian mami wildan tak keluar kamar, mami wildan keluar hanya jika saat waktunya makan, tak ada ocehan atau omelan hari ini terdengar dari mami wildan.
"Tumben sekali nenek tua itu tidak ngomel seharian" gumam yolanda menantu pertama prasanna.
__ADS_1
Lani juga merasa bingung kenapa hari ini mertua nya tidak seperti biasanya. Lani tau mertuanya di ada di rumah hanya saja seharian mengurung diri dalam kamar, lani kira mertua nya sakit, lani ingin melihat tapi lani takut jika nanti mertua nya malah semakin marah pada nya di kira sok perhatian ketika semua orang menjauhi mertua nya.
"Kakak, apa yang terjadi dengan mami, kenapa mami sangat berubah, seperti nya hati mami benar benar terluka kak, pergi lah temui mami, kasian mami" ucap lani pada suaminya yang sedang mengajak main putri mereka.
"Ah sudah lah lani, aku tidak mau, jika waktunya tiba aku akan minta maaf sendiri pada mami" ucap wildan pada lani.
"Kakak...." ucap lani ingin membujuk suaminya.
"sayang... jika aku katakan tidak tolong jangan memaksa ku" ucap wildan pada istrinya.
Lani mengerti dengan keadaan sekarang jadi lani tidak memaksa wildan untuk menemui mami nya, karna masih penasaran lani akhirnya bertanya pada dady mertuanya. Setelah lani mencari cari ternyata dady wildan berada di taman belakang sedang menemani zevano yang sedang bermain.
"Emmm... dady..." ucap lani pada mertua nya.
"ya lani ada apa? apa terjadi sesuatu? dimana anugrah?" tanya dady wildan pada lani.
"Anugrah sedang main dengan ayah nya dad" ucap lani pada mertua nya.
"lalu ada apa lani?" tanya dady wildan pada lani.
"Dady... apa mami sakit? seharian ini mami tak keluar bahkan tak seperti biasanya" ucap lani ragu ragu pada mertuanya.
__ADS_1
"Tidak nak, mami sedang ingin sendirian saja" ucap dady wildan tersenyum pada menantu nya.
"Hmmm ya sudah dady lani hanya ingin bertanya itu saja, lani cemas terjadi sesuatu pada mami" ucap lani pada mertua nya, dan hanya di jawab senyuman oleh mertuanya.