
Seperti yang di katakan maya bahwa dia akan berkunjung ke mansion prasanna pada saat waktu luang, Jam 9 pagi maya sudah menuju mansion keluarga prasanna, menempuh perjalanan satu jam untuk bisa mencapai tujuan. Saat sampai di mansion prasanna, Maya terpukau dengan kemewahannya mulai dari masuk gerbang mansion, untuk menuju mansion dari gerbang saja butuh 10 menit, mansion itu sangat mewah mungkin besarnya 10 kali lipat dari rumah maya.
"Sialan, melinda bahkan sekarang hidup nya lebih mewah dari aku" ucap maya dalam hati nya.
Saat sampai di pintu utama Maya melihat 10 orang pengawal berjejer di depan pintu utama, dan saat masuk mansion Maya melihat 4 orang pelayan sedang membersihkan ruang utama.
"mami, ini mansion milik siapa? sangat besar dan mewah, semua susunan perabot nya juga sangat elegan dan mewah" ucap shera putri maya, yang niat nya akan maya jodohkan dengan salah satu putra melinda.
"hai maya... selamat datang,ayo duduk" ucap melinda menyambut maya di mansion nya.
"Melinda.... Rumah mu sangat mewah sekali, bahkan ini lebih cocok di sebut istana" ucap maya pada melinda.
"ah tidak... ini biasa saja, tidak ada apa apa nya dengan mu" ucap melinda rendah hati.
"Tidak ada apa apa nya? bahkan rumah ku saja hanya sebesar ruang tamu mu, sombong sekali" ucap maya dalam hati nya.
"mih... satria ada tugas di apartemen teman satria di dekat kampus, mungkin akan pulang telat atau menginap" ucap satria sambil berjalan keluar dari lift.
"Baiklah sayang, hati hati di jalan, jangan lupa makan" ucap mami satria pada putra pertama nya.
Shera putri maya terpukau melihat satria, pria itu sangat tampan dan sempurna, Shera menatap Satria sampai hilang dari pandangan nya. Maya melihat gerak gerik putrinya, maya tau putrinya tertarik dengan putra melinda.
",hemmm.... melinda sepertinya putri ku tertarik dengan putra mu" ucap maya berpura pura tertawa seperti sedang bergurau.
__ADS_1
"hahaha... tapi seperti nya sudah telat maya, putra ku sudah punya pacar" ucap melinda tertawa.
"Benarkah? melinda kamu itu ibu nya, kamu berhak mengatur anak mu kan? bagaimana jika kita jodohkan mereka, lagian satria kan masih pacaran belum menikah" ucap maya santai nya menyuruh melinda menjodohkan putranya dengan putri nya.
" Tidak maya aku tidak bisa, aku tidak ingin putra ku tertekan, satria sudah terbiasa aku bebaskan dengan semua pilihan dan dengan siapa dia ingin hidup atau siapa yang dia pilih untuk menjadi pasangan nya" ucap melinda pada maya.
"Linda!! apa kau lupa, dulu ibuku meninggal karna menyelamatkan mu sehingga aku kehilangan ibu ku?!, bahkan seminggu setelah kepergian ibu ku ayah ku juga pergi meninggalkan ku selamanya karna frustasi dan stress tidak bisa hidup tanpa ibu ku" ucap maya mengingatkan masa lalu pada melinda, membuat melinda teringat masa lalu.
Belum melinda menjawab perkataan maya, dari arah luar masuk wildan yang baru pulang bermain dengan teman nya.
"mami...." ucap wildan lembut menyapa mami nya, membuat maya dan shera ikut menoleh ke asal suara.
"wildan" ucap melinda tersenyum pada putranya.
"Mereka siapa mi? kenapa tidak duduk?" tanya wildan lembut.
"kami juga baru sampai nak" ucap maya pada wildan.
setelah nya maya dan shera di persilahkan duduk oleh melinda dan wildan.
Mereka berkumpul di ruang tamu sedangkan wildan izin pamit untuk membersihkan diri karna baru pulang setelah pergi dari subuh.
"Melinda... jika kamu tidak bisa menjodohkan satria, setidaknya wildan saja, lagian umur wildan dan shera kan sepantaran" ucap maya pada melinda tanpa tau malu.
__ADS_1
"maaf maya, aku tidak bisa, aku tidak bisa mengorbankan kebebasan putraku hanya karna hutang budi ku pada keluargamu" ucap melinda pada maya.
"aku hanya ingin berbesan dengan mu, apakah itu hal yang sulit? aku tidak membunuh putra mu tapi meminta nya menjadi menantu ku!" ucap maya pada melinda.
Maya berdiri membawa putri nya untuk kembali, melinda merasa bersalah pada maya. Maya berharap melinda menahan langkah nya dengan menyetujui perjodohan itu.
"maya..." panggil mami wildan pada sahabat nya.
"aku akan mencoba menanyakan hal ini pada wildan" ucap melinda sedikit ragu ragu.
Maya tersenyum puas dan membalik badan nya menghadap melinda.
"benarkah?" ucap maya dengan senyum licik terukir manis di bibir nya, begitu pun dengan putri nya shera.
"iya... tapi aku tak bisa memaksa putra ku" ucap melinda pada maya.
"kita coba saja dulu" ucap maya pada melinda merayu agar melinda mau.
"baiklah..." ucap melinda tersenyum pada sahabat nya, setelah nya mengajak sahabat nya duduk dan bercengkrama serta mengelilingi mansion milik keluarga prasanna .
"wah... mansion ini mewah sekali, bahkan hanya mengelilingi saja membuat ku merasa perlu naik kendaraan, aku pasti sangat beruntung jika bisa berbesan pada mereka. nanti setelah anak anak kami menikah aku bisa menyuruh shera membawa ku tinggal bersama nya di mansion ini" gumam maya dalam hatinya, menerawang jauh ke masa depan.
Melinda mencoba membujuk wildan berkali kali bahkan mengancam wildan jika tak ingin di jodohkan maka wildan tidak akan menerima sepersen pun harta dari keluarga prasanna jika dia menikahi gadis lain, tapi sayang nya semua usaha itu sia sia, wildan diam diam malah bekerja paruh waktu agar tidak bergantung pada harta orang tua nya. Dari situlah sifat mami wildan yang awal nya tak memaksa wildan untuk menerima perjodohan itu lama lama malah terobsesi untuk memaksa wildan menerima perjodohan itu agar dia bisa terbebas dari balas budi kepada ibu maya, dan melinda tidak punya hutang budi pada siapapun lagi.
__ADS_1
Sampai pada suatu hari wildan membawa seorang gadis dengan pakaian rapi tapi tetap saja pakaian yang di pakai gadis itu adalah pakaian murah. Wildan mengenali nya sebagai calon istri yang membuat melinda murka dan tidak terima dengan kehadiran gadis itu. Ya gadis itu adalah vellani yang biasa di sebut lani. Melinda menentang pernikahan wildan, hanya melinda saja yang menentang, semua keluarga yang lain tidak keberatan dengan kehadiran vellani gadis yatim piatu yang di besarkan oleh nenek nya sehingga saat vellani mulai terbiasa mandiri nenek nya malah menyusul kedua orang tua nya dan vellani hidup sendirian sampai pada akhirnya vellani di pertemukan dengan wildan yang membuat nya merasa nyaman dan memiliki rumah untuk pulang, bahu untuk bersandar.