
2 tahun setelah kelahiran anugrah.
Shera melangkah masuk ke dalam mansion prasanna dengan pakaian seksi yang ketat mencetak bentuk tubuh indahnya, berharap wildan atau satria tertarik padanya.
Shera datang tentu saja dengan rencana dari ibu nya dan melinda mami wildan.
"hai sayang.... selamat datang, sudah lama kamu tidak datang ke sini" ucap melinda pada shera berpelukan.
"Tante apa kabar, aku rindu" ucap shera dengan suara yang di buat buat imut membuat yolanda yang sedang bersantai di ruangan yang sama merasa geli.
"tante baik sayang, ayo masuk, kamu akan menginap kan? selama urusan mu belum selesai di indonesia kamu menginap di mansion saja" ucap melinda pada shera, padahal shera tak ada urusan apa apa ke indonesia hanya berniat menjadi pelak*r pada rumah tangga orang lain.
Yolanda kaget dengan perkataan mertua nya, karna yolanda tau persis wanita yang datang itu adalah wanita yang kekeh ingin di jodohkan dengan satria atau wildan dulu, yolanda yang memang cerdik mengerti dengan situasi nya dan tau rencana mertuanya.
"bahkan mami sendiri yang ingin membuat keluarga nya hancur, cihhh" ucap yolanda dengan senyum simpul.
saat melinda mengajak shera ke kamar nya, melinda memberi tau bahwa kamar nya berhadapan dengan kamar wildan dan lani, yang membuat shera merasa bahwa itu akan memudahkan dia menggoda wildan.
"Shera ini kamar mu, sudah di bersihkan, jika kamu butuh sesuatu pencet tombol yang ada di sebelah tempat tidur mu, pelayan akan datang menghampiri mu" ucap mami wildan setelah nya keluar dari kamar itu membiarkan shera beristirahat.
"wah... kamar nya besar sekali, bahkan kamar ini sepertinya hampir sama besar dengan ruang tamu yang ada di rumah" ucap shera menghempaskan tubuh nya di ranjang.
"bahkan tempat tidur ku nyaman sekali, tidak seperti yang ada di rumah" gumam nya menikmati waktu.
saat sedang bersantai shera mendengar suara ketukan seperti ada tangan kecil yang menggedor gedor dan memukul pintu kamar nya. Shera keluar dari kamar nya dan melihat seorang anak kecil perempuan sedang berdiri di depan pintu kamar nya dengan kucir dua di kepala dan menyeret boneka yang lebih besar dari ukuran tubuh nya. Tanpa di beri tau shera sudah tau anak itu adalah anak wildam dan lani, tapi aneh nya tidak ada yang mengawasi nya. shera memang tidak punya hati, melibat tak ada siapapun di koridor bahkan baby sister pun tidak mengawasi anak itu membuat shera memiliki pikiran licik, shera tidak berfikir dengan baik bahkan dia tidak terfikir dengan cctv di koridor kamar nya.
"hai sayang, kamu kenapa sendirian" ucap shera pada anugrah.
Anugrah yang memang tidak bisa mendengar hanya memperhatikan mulut shera berbicar. hanya kata "Aaaaoo" yang keluar dari mulut kecil nya.
__ADS_1
Shera memperhatikan ke sekeliling tak ada satupun orang di sana. Shera tanpa punya perasaan dan rasa kasihan sengaja menaruh tangan mungil anugrah di celah pintu. Anugrah yang tidak mengerti apa apa tentu saja hanya diam. Tak lama setelah nya shera sengaja menutup pintu dan ya, jeritan anugrah terdengar keras membuat semua pengawal serta baby sister yang sedang membersihkan kamar anugrah juga lani yang berada di kamar nya kaget dan buru buru keluar kamar. saat keluar kamar shera berpura pura kaget dengan kejadian itu.
"Astaga sayang, maaf kan tante, tante tidak tau ada kamu saat menutup pintu" ucap shera berpura pura berusaha menenangkan anugrah.
Lani melihat ada wanita asing di depan nya langsung mengambil anugrah dengan sopan dari tangan shera.
"Sayang kenapa??" ucap lani berusaha menenangkan putri nya.
"maaf... tadi aku akan menutup pintu, aku tidak melihat putri mu berada di dekat pintu ku, jadi saat aku menutup pintu jari jarinya terjepit, coba di periksa dulu" ucap shera berpura pura merasa bersalah.
Lani memeriksa tangan anugrah, pantas saja anugrah menangis histeris tidak berenti, 3 kuku nya hancur 1 jari nya nya terluka karna terjepit pintu. Lani menangis merasa bersalah pada putri nya. Lani tidak menyalahkan baby sister anak nya, Lani merasa lalai menjaga anak nya yang memang super aktif dan tidak boleh lepas dari pengawasan sedetik pun, yolanda yang mendengar tangisan anugrah tak hentinya datang menemui lani dan menanyakan apa yang terjadi.
"ini kakak, jari anugrah tidak sengaja terjepit pintu saat nona ini menutup pintu dia tidak melihat anugrah" ucap lani menjelaskan pada yolanda.
Yolanda yang bingung kenapa shera ada di kamar yang berhadapan dengan kamar wildan dan lani menepis dulu rasa penasaran nya dan melihat keadaan jemari anugrah.
"astaga anugrah, tante akan menelfon dokter, lani telfon lah wildan" ucap yolanda cemas dengan keadaan anugrah yang kesakitan dan tidak bisa diam di pangkuan bunda nya.
Yolanda yang hendak menelfon dokter membalik badan nya.
Plak!!!...
sebuah tamparan mendarat mulus di pipi shera di hadiahkan oleh yolanda.
"kau di rumah ini hanya beban, numpang hidup! jangan bertingkah seolah kau adalah pemilik atau penghuni rumah!!" ucap yolanda sinis, dan semua perbuatan yolanda tak lepas dari pandangan baby sister pengawal serta lani, mereka sangat tau jika yolanda marah bahkan nyonya besar mereka pun akan terdiam.
"Lani apa yang kamu tunggu?! cepat telfon wildan!" ucap yolanda yang melihat lani kebingungan bukannya menelfon wildan. setelah nya yolanda pergi menelfon dokter.
"halo kaka... apa kakak sibuk? bisakah kakak pulang dahulu?" ucap lani menelfon suami nya.
__ADS_1
Wildan yang mendengar tangisan anak nya yang tak seperti biasanya dan mendengar suara cemas istri nya tentu saja mengatakan tidak sibuk padahal dia ada meeting penting dengan klien dari luar negri tapi wildan menyuruh asisten mengganti kan nya.
sampai nya di rumah wildan masuk ke kamar nya, wildan melihat dokter di kamar nya sedang memeriksa putri nya.
"Lani apa yang terjadi?" ucap wildan dari ambang pintu dengan nada cemas. Wildan melihat mata lani yang sudah bengkak karna menangis.
"kakak..." ucap shera. bukannya lani yang menyaut suami nya malah shera kegatalan pada wildan.
"kakak maafkan shera, tadi shera tidak lihat ada putri kakak saat menutup pintu hingga tangannya tidak sengaja terjepit" ucap shera dengan raut wajah yang di buat buat merasa bersalah.
Yolanda sangat pintar, dia tau mana yang akting dan benar.
"aku tidak yakin dia tidak tau ada anugrah di depan pintu, bisa saja kan dia sengaja mencelakai anugrah" ucap yolanda sinis.
"kakak... aku tidak mungkin tega melakukan itu" ucap shera berpura pura sedih dengan perkataan shera.
"baiklah jika begitu bagaimana jika kita cek cctv saja?" ucap yolanda membuat shera seketika pucat dan gelagapan.
"sialan... harusnya aku tau di koridor itu ada cctv, kenapa aku ceroboh sekali" ucap shera dalam hati nya tidak mampu menjawab perkataan yolanda.
"sudah kak" ucap lani lembut pada ipar nya.
"kakak juga tau bahwa anugrah super aktif dan bukan kali ini saka anugrah celaka" ucap lani menengahi yolanda karna merasa tidak enak dengan shera.
Wildan bertanya pada dokter tentang keadaan jari putri nya, wildan menatap jari mungil itu membengkak dan di bungkus dengan perban dan obat obatan.
"dokter bagaimana keadaan putri ku?" ucap wildan pada dokter sambil menatap wajah kecil polos putrinya yang masih teraut wajah sakit di dalam tidur nya.
"kuku jari telunjuk, jari tengah dan jari manis hancur tuan wildan, sedangkan kelingking nya terluka, tapi saya sudah memberi obat pereda nyeri pada jari nya, dan mungkin nanti putri mu akan rewel lagi saat efek dari obat itu hilang, ini tuan tolong berikan obat ini pada jarinya 5 jam sekali, hindari tangan nya terkena air untuk sementara waktu, dua hari lagi saya akan datang kembali memeriksa keadaan putri tuan" ucap dokter pada wildan dan di angguki oleh wildan.
__ADS_1
"alah... cuman luka saja tidak patah kan? apa yang di tangisi? lebay sekali" ucap mertua lani tiba tiba menyeletuk.
"benarkan hanya luka? sini aku akan memberi tau ibu luka apa yang di rasakan keponakan ku!" ucap yolanda berani menarik tangan mertua nya menuju pintu membuat mertuanya gelagapan karna mertua nya sangat tau bagaimana sifat yolanda yang memang mengatakan sesuatu tidak pernah main main dengan perkataan nya.