
"Dady?" ucap kaget mami Wildan.
"bagaimana mungkin mami bisa menjodohkan Wildan dengan orang lain sedangkan Wildan masih memiliki istri. apa mami waras?! bagaimana perasaan mami jika Dady menikah lagi? apa mami ikhlas?!" ucap Dady wildan marah pada istrinya.
"ya tidak mami tidak mau di duakan! mami tidak Sudi!" ucap mami Wildan.
"jika mami bisa merasakan begitu. apa mami tidak berfikir sebelum bertindak? bagaimana perasaan Lani jika dia tau mertua nya menjodohkan suami nya dengan orang lain?!" ucap marah Dady wildan.
"Kenapa harus memikirkan perasaan nya, mami hanya memikirkan perasaan Wildan! lihat lah teman teman nya sudah memiliki anak semua sedangkan Wildan sudah 5 tahun menikah masih belum memiliki anak!" ucap mami Wildan tetap tak mau kalah.
"mami benar benar egois,.mami tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain demi diri mami sendiri, jika mami menjodohkan Wildan dengan wanita lain, berarti mami juga mengizinkan dady menikah lagi, mami pikir tak ada yang mau dengan pria tua yang kaya raya? Meskipun hanya di poroti yang penting Dady juga juga punya dua istri, apalagi istri ke dua Dady jauh lebih muda dari mami dan Dady" ucap Dady wildan pada mami nya.
"tidak! aku tidak mau! coba saja jika ada yang berani mendekati mu, aku tidak akan tinggal diam!" ucap marah mami Wildan.
"itu tergantung mami, kalo masih memikirkan perasaan mami sendiri Dady juga tidak peduli dengan perasaan mami, mending Dady peduli dengan perasaan Dady sendiri" ucap Dady wildan berlalu dan beranjak tidur.
"ahhhh sialan kenapa Dady membela wanita tak berguna itu!" ucap mami Wildan emosi.
Pagi itu Lani bangun terlambat, saat bangun Lani melihat sudah pukul 7 pagi biasanya Lani sudah bangun jam setengah 5 subuh mandi dan bersiap untuk membantu pelayan memasak sarapan dan membuatkan bekal suaminya. Tapi kali ini Lani benar benar kesiangan, padahal semalam dia tidak melayani Wildan, tapi bisa bisa nya Lani ketiduran. Lani bergegas mandi, memakai celana training dan kaus oblong yang menurut Lani nyaman untuk di pakai saat beraktivitas dan mudah di cuci, Lani mencuci pakaian Wildan sendiri. Lani tidak ingin pelayan menyucikan baju Wildan. Karna bagi Lani sudah menjadi kewajiban untuk mengurus suaminya.
Lani turun ke dapur segera menyiapkan masakan untuk bekal Wildan, aneh nya Lani tak kuat dengan bau bawang bawangan sampai Lani mual mual.
"Aduh, seperti nya aku masuk angin" ucap Lani ke toilet dan berusaha memuntahkan isi perutnya tapi tak ada yang keluar.
__ADS_1
Mertua Lani baru bangun dari tidur langsung menuju dapur untuk minum, melihat pelayan masih belum siap memasak padahal sudah hampir jam 8 pagi.
"aduh... aduh... apa yang kalian lakukan kenapa lama sekali? kalian tidak melihat jam?!" ucap mertua Lani pada pelayan nya. Mertua Lani tersadar bahwa tak ada Lani di sana membantu para pelayan makanya mereka lamban.
"Dimana perempuan kampungan itu?" tanya mertua Lani mencari cari keberadaan Lani.
"nona muda tadi mual mual dan pergi ke toilet nyomya besar" ucap salah satu pelayan.
Mertua Lani mengira Asam lambung Lani naik karna Lani dan Wildan habis makan di luar semalam. Lani merasa pusing dan tak bertenaga, Lani terduduk lama di atas toilet menunggu stamina nya stabil.
Saat jam 8 Wildan sudah siap siap untuk berangkat kerja, Sarapan dan bekal Wildan sudah selesai di buat tapi Wildan tidak melihat Lani di dapur.
"Pelayan dimana Lani?" ucap Wildan pada pelayan.
Wildan merasa aneh karna Lani tak pernah lama di toilet. Mendengar ucapan pelayan Wildan menuju toilet belakang dapur. Pintu nya terbuka, Wildan masuk melihat Lani yang terduduk lemas dan pucat.
"Lani...." ucap Wildan kaget. Lani melihat kedatangan Wildan pun hanya tersenyum.
"kenapa masih belum berangkat kak? bekal dan sarapan kakak sudah aku siapkan bukan?" ucap Lani lesu tapi memaksakan untuk tetap terlihat baik baik saja.
"apa kamu sakit?" tanya Wildan memeriksa keadaan istrinya.
"kamu tidak demam tapi wajah mu pucat sekali" ucap Wildan.
__ADS_1
Lani berdiri dan akan membantu Wildan bersiap ke kantor. Tapi baru saja berdiri Penglihatan nya seperti memutih dan Lani merasa pusing. Wildan yang melihat Lani terhuyung langsung menggendong nya, dan membuat Lani kaget.
"kakak turunkan aku, aku bisa jalan sendiri" ucap Lani pada Wildan.
"Kamu sepertinya sakit, aku akan menelfon dokter untuk memeriksa mu, aku tidak akan bekerja hari ini, aku cemas terjadi sesuatu padamu" ucap Wildan sambil menggendong Lani.
"Manja sekali! hanya mual masuk angin sampai di gendong begitu, apa tidak malu di lihat yang lain" ucap sinis mertua Lani melihat Wildan menggendong Lani ke arah kamar. Wildan tidak menghiraukan perkataan mami, Wildan hanya berlalu seolah tidak mendengar perkataan mami nya, membuat mami Wildan merasa kesal.
30 menit menunggu, akhirnya dokter keluarga Prasanna sampai. Dokter langsung menyiapkan alat alat untuk memeriksa keadaan Lani, Wildan terlihat cemas saat melihat dokter mengkerut kan kening nya saat memeriksa Lani.
"Apa yang terjadi dokter? apa istri saya baik baik saja?" tanya Wildan pada dokter.
"Jangan biarkan istri mu kelelahan dan bekerja berat tuan." belum selesai dokter berbicara mami Wildan langsung memotong pembicaraan.
"Halah manja sekali... hanya bangun pagi, masak sarapan, menyuci dan menggosok sedikit saja sudah sakit, dulu saya mengurus 1 keluarga besar prasanna sendirian tidak pernah SE manja itu" ucap mertua Lani dari arah pintu.
"Diamlah mi, jangan membuat Wildan marah, atau dia akan pindah ke mansion nya" ucap Dady wildan membuat mami nya terdiam.
Dokter hanya tersenyum mendengar perkataan ibu Wildan dan melanjutkan perkataannya.
"Begini tuan Wildan, ini bukan bidang saya untuk memeriksa lebih lanjut keadaan nona Lani, tapi sebaiknya untuk memastikan agar tidak ada kesalah pahaman, sebaiknya tuan Wildan membawa nona Lani ke dokter kandungan, seperti nya nona Lani sedang hamil tuan" ucap dokter pada Wildan.
Mami Wildan kaget mendengar perkataan dokter, Sedangkan Dady nya merasa senang akan memiliki cucu lagi dari Wildan dan Lani.
__ADS_1
"Tidak mungkin dia hamil, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, jika wanita kampungan itu hamil, akan susah untuk menjodohkan Wildan dengan putra Abimana" ucap ibu mertua Wildan dalam hatinya. Ibu Wildan dari dulu sangat ingin berbesan dengan keluarga sahabat nya, tapi Satria kakak Wildan menolak perjodohan begitupun dengan Wildan.