Apakah cinta mengenal darah?

Apakah cinta mengenal darah?
Kehilangan dan Sebuah Kenyataan.


__ADS_3


~ Besok nya di bangku bambu


Daffa menceritakan tentang isi surat wasiat Almarhum Bapak nya kepada Nayla, Nayla pun kaget dan menangis mendengar cerita dari Daffa tersebut. Dirangkulah Daffa oleh Nayla, laki-laki itu pun menangis di sandaran Nayla..


“Pergilah Daf ke Jakarta dan cari orang tua kandungmu..” ujar Nayla memegang tangan Daffa.


“Tapi Nay.. aku enggak tau harus bicara apa nanti saat kita bertemu dan lagi aku enggak bisa tinggalin kamu..” ujar Daffa.


“Mungkin saat ini orang tua kandungmu sedang menantikan anaknya hadir ke pelukannya lagi Daf.. mungkin inilah jalan Tuhan mempertemukan kalian kembali. Kamu tidak usah perdulikan aku.. di Jakarta selagi kamu mencari orang tuamu kamu bisa sambil mencoba tes masuk universitas disana, kamu pun bercita-cita ingin sukses di Jakarta bukan Daf?” ujar Nayla.


“Tapi Nay.. aku enggak bisa tinggalin kamu.. “ ujar Daffa


“Setelah semua urusan kamu selesai kita bisa bertemu lagi Daf.. kamu enggak usah khawatirkan aku.. liat ini cincin ini selalu ada di jariku.. yang artinya kamu selalu ada untukku..” ujar Nayla


“Terima kasih Nay sudah mengizinkan aku untuk ke Jakarta mencari orang tua kandungku.. kelak jika semua nya sudah selesai aku akan segera kembali dan membawa kamu dan Bapakmu pindah ke Jakarta ya Nay.. kamu harus selalu mengirimi SMS dan telepon aku setiap saat.. aku pasti akan kembali Nay..” ujar Daffa lalu mencium kening Nayla.


“Iya Daf.. Oh iya tadi kamu cerita bahwa sebenarnya kamu mempunyai adik perempuan? Wah pasti dia cantik karena memiliki kakak yang tampan..” ujar Nayla.


“Yang pasti enggak ada wanita yang melebihi cantik nya dari cantik yang kamu miliki Nay, dan enggak akan ada yang aku sayangi melebihi sayang aku ke kamu..” ujar Daffa.


Daffa pun mencium bibir Nayla sambil menangis, air mata Nayla pun jatuh menetes ke bibir nya yang sedang di ***** oleh Daffa dengan liar nya.


“Kamu janji enggak akan macam-macam dan harus setia sama aku ya Nay..” ujar Daffa.


“Iya Daf aku janji.. kamu juga janji setia dan akan segera kembali ya Daf..” ujar Nayla.


“Pasti sayang..” ujar Daffa.


Lalu mereka pun berpelukan.


~ Besok nya di terminal Bus


“Aku tadi sudah ke kuburan Bapak dan Ibu untuk pamit Nay.. aku pun ke rumah pamanku untuk menitipkan bengkel dan kunci rumah ke paman. Entah hati ini terasa begitu sakit meninggalkan desa ini.. meski kenyataan nya di desa ini bukan tempat kelahiranku.. namun begitu banyak cerita dan kenangan.. terutama saat bersama kamu Nay..” ujar Daffa.


“Semua akan baik-baik saja Daf.. oh ini kah kalung liontinmu itu?” tanya Nayla melihat kalung liontin itu dijadikan sebagai gelang di tangan Daffa.


“Hehe iya Nay.. karena kalung ini kecil jadi aku jadikan sebagai gelang saja..” ujar Daffa.

__ADS_1


“Bus kamu sudah datang Daf.. ayo cepat naik..” ujar Nayla.


Sebelum naik Daffa pun memeluk erat Nayla sambil menangis, Nayla pun tak kuasa menahan air matanya. Daffa pun lekas masuk ke Bus tersebut dan melambaikan tangan nya ke arah Nayla..


Nayla pun menangis sejadi-jadi nya melihat Bus Daffa sudah pergi.


..


~ Di terminal Bus Jakarta


Setelah perjalanan lama Daffa pun sampai di terminal Bus jakarta, ini pertama kali nya ia pergi jauh selama hidupnya. Daffa pun berjalan sambil melihat-lihat di sekitarnya lalu ada 2 preman yang tiba-tiba merangkul dia.


“Mau kemane Bos?” ujar preman tersebut.


“Anu bang.. saya cari alamat ini..” ujar Daffa gugup.


“Oh.. coba lu tanya sama tukang angkot di depan ya..” ujar teman preman tersebut.


“Oh iya makasih bang..” ujar Daffa.


Lalu preman tersebut pun pergi..


“COPET!!!” Daffa pun berlari mengejar kedua preman tersebut sampai jalan raya lalu..


“BRAKKKK!!” Daffa pun tertabrak mobil pribadi seseorang dan langsung pingsan dengan luka di pelipisnya.


“Astagfirullah.. Nak.. anda tidak apa-apa?! Nak.. “ keluar lah seorang Bapak-bapak berpakaian Jas Rapih dari mobil mewah nya dan memeriksa kondisi Daffa yang sudah terjatuh


“Liontin itu...” Bapak itu pun kaget.


~ Di Sebuah Rumah sakit di Jakarta..


“Ini anak kita Pah.. benarkah ini Daffa?” ujar seorang wanita berpakaian seragam dokter dengan name tag 'dr. Ratih Sp.A' sambil menangis melihat Daffa terbaring lemah dengan selang oksigen di ruang ICU.


“Papah yakin dia Daffa anak kita yang hilang mah.. dia memakai liontin yang memang kita berikan sewaktu Daffa dan Nayla kecil dan kalung liontin itu dirancang yang di pesan khusus pleh kita kan mah dulu.. sehingga tidak mungkin ada orang lain yang punya kalung itu selain Daffa dam Nayla. Dan lagi Daffa anak kita memiliki tanda lahir di pundak kiri nya, sewaktu Daffa di baringkan di kasur IGD papah memeriksa nya dan betul dia mempunyai tanda lahir yang sama mah.. maafkan Papah nak yang membuatmu jadi seperti ini..” ujar Suami nya, Andri.


“Terima kasih Tuhan.. kau telah mempertemukan kami dengan Daffa.. mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kita dengan Daffa pah..” ujar Ratih.


Andri pun memeluk istrinya sambil menatap Daffa terbaring di ruangan ICU.

__ADS_1


..


Di lain tempat Nayla selalu menunggu kabar dari Daffa, ia makin cemas saat ia hubungi nomor handphone Daffa tidak aktif. Ia pun kini sibuk mengurus kondisi kesehatan Bapak nya yang semenjak sahabatnya, Murdin meninggal menjadi sakit-sakitan dan semakin menurun.


“Pak.. kita ke Dokter ya pak.. sudah beberapa hari Bapak batuk-batuk dan demam..” ujar Nayla kepada Bapak nya yang terbaring di kasur.


“Tidak usah Nay.. Bapak sudah tua wajar jika penyakit pun menggerogoti badan Bapak.. mungkin ini cara Allah menghapus dosa-dosa yang telah Bapak perbuat selama ini..” ujar Bapak Nayla menangis.


“Pak.. Bapak harus sembuh dan sehat lagi.. Nayla Cuma punya Bapak.. Bapak harus kuat pak..” ujar Nayla menangis.


“Ternyata memang akan ada waktu nya semua rahasia terungkap.. bahkan kita tidak bisa menyimpan semua itu sampai kita mati.. Allah pasti membuat ini semua bahagia seperti sebelumnya..” ujar Bapaknya Nayla menangis, ia pun bangun dari kasur nya menuju lemari pakaian nya dan mengambil kotak perhiasan.


“Apa itu Pak?” tanya Nayla.


“Bapak sudah dengar darimu cerita perihal Daffa ternyata bukan anak kandung dari Pak Murdin dan istrinya dan ternyata Daffa memiliki adik perempuan..” ujar Bapak nya Nayla.


“Ia betul pak.. kenapa Pak?” tanya Nayla.


“Ia memiliki Kalung liontin seperti ini kan Nay?” tanya Bapak nya Nayla sambil memberikan kalung liontin bernama kan nama Nayla.


“Pak.. maksud Bapak... aku....” sebelum Nayla melanjutkan pembiacaraan nya Bapak nya memotong “Iya Nay.. kamu lah adik perempuan Daffa tersebut.. kamu memiliki kalung liontin seperti Daffa pemberian orang tua kalian..” ujar Bapak Nayla sambil menangis.


“Nayla ga ngerti pak.. Bapak bercanda kan..” ujar Nayla menangis.


“Kamu dan Daffa diculik oleh Bapak dan Almarhum Pak Murdin Nay.. kami akhirnya mengangkat kalian sebagai anak kami dan berjanji untuk merahasiakan ini. Saat kalian kami temukan kalian memakai kalung berliontin kan nama kalian ini.. Maafkan Bapak yang telah berbohong kepadamu Nay selama ini.. Istri Bapak telah meninggal 20 tahun yang lalu dan sebelum dia meninggal ia ingin sekali mempunyai anak perempuan namun kita tidak pernah mempunyai anak.. sampai saat Bapak melihat kamu.. Bapak yakin kamu lah jawaban Allah selama ini meski dengan cara yang salah.. mungkin jika kamu Bapak tidak ambil.. kamu tidak akan hidup miskin seperti ini Nay.. Maafkan Bapak...” ujar Bapak nya Nayla sambil menangis.


“Jadi karena alasan ini pula Bapak tidak mengizinkan aku untuk pacaran dengan Daffa karena.. Daffa adalah Kakak ku?” ujar Nayla menangis.


Bapak Nayla pun tiba-tiba kesakitan sambil memegang dada nya.


“Pak.. Bapak... kenapa Pak..?!” Nayla pun meminta bantuan warga untuk membawa Bapak nya ke Rumah Sakit.


Dan malam hari nya setelah 1 jam Dokter melakukan tindakan kepada Bapak Nayla, Bapak Nayla pun dinyatakan dokter meninggal karena serangan jantung.


Nayla pun shock dan menangis sejadi-jadi nya di lantai Rumah sakit mendengar jika Bapak nya telah tiada.


Besok pagi nya Almarhum Bapak Nayla pun disemayamkan di TPU di desa nya. Teman-teman Nayla dan beberapa Guru datang untuk melayat dan memberikan dukungan terhadap Nayla.


Sinta dan Ayu pun selalu menemani Nayla di setiap waktu nya.

__ADS_1


__ADS_2