
Kring! kring! akhirnya bel berbunyi lagi yang menandakan waktu istirahat telah selesai. Aku, dan Adrian bisa makan bekal kami dengan tenang karena tidak ada Arya, dan teman-temannya yang mengganggu kami. Dan akhirnya pun, pelajaran di mulai kembali, dengan pelajaran matematika.
Aku selalu menjerit di hatiku setiap kali belajar matematika. Karena aku sama sekali tak bisa memahami pembelajaran matematika. Yang ku bisa hanya penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian saja. Biasanya aku selalu meminta jawaban pada Adrian untuk membantu menjawab tugas matematika ku.
Tapi kali ini Adrian tak mau membagikan jawaban matematika nya padaku. Dia berkata padaku kalau aku harus berusaha untuk menjawabnya sendiri dengan benar. Padahal hanya dia satu-satunya orang yang bisa ku mintai tolong untuk tugas matematika. Meskipun aku sudah memohon mohon dihadapan nya, dia malah menunjukkan wajah dinginnya, dan berkata tidak.
Adrian memang benar-benar telah berubah, sepertinya dia ingin menjalani kehidupan baru yang lebih baik dari ini. Melihat Adrian yang berusaha untuk mengubah hidupnya, entah kenapa rasanya sebentar lagi aku akan di buang oleh Adrian. Karena dia sangat sibuk dengan urusan sekolah nya.
Kalau aku tak ingin di buang oleh Adrian, kalau begitu aku harus belajar dengan giat, dan serius. Aku tak boleh kehilangan semangat! aku tak boleh kehilangan Adrian!. Kalau Adrian membuang ku... kepada siapa aku akan bernaung selain ibuku. Dan lagi hubungan ku dengan ibuku sudah rusak, karena ulahku sendiri, agar ibu tak merasa khawatir, dan sedih pada kami yang selalu diperlukan begitu buruk selama disekolah.
"Kenapa kau tak mau mengerjakan tugas yang sudah diberikan, dan malah tidur?" ucap Adrian yang sudah menyelesaikan tugasnya yaitu diberikan kepada seluruh siswa di kelas. Mendengar ucapan Adrian, aku langsung mengangkat kepalaku yang ku baringkan di meja sekolah.
"Kau ini berisik sekali! aku sedang memikirkan bagaimana cara menyelesaikan soal nomor tiga tahu! kalau tak mau bantu lebih baik kau diam saja" ucapku dengan ketus.
"Dasar... kalau kau tak mengerti seharusnya kau bertanya padaku bagaimana cara menyelesaikan nya, dan bukannya bertanya jawabannya padaku. Sini akan ku ajarkan kau sampai mengerti, dasar bodoh" ucap Adrian yang mengambil buku tulis ku, dan kemudian menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal-soal yang belum ku jawab dengan mudah.
Kemudian aku mengikuti ajarannya dengan baik-baik agar aku paham. Dengan begitu rasa kekhawatiran ku yang membelenggu di hatiku bisa menghilang, tentang Adrian yang akan meninggalkan ku karena aku orang yang bodoh, yang selalu bergantung padanya. Aku tak ingin hal itu terjadi, karena itulah aku menciptakan tekad baja yang membuat diriku bersemangat untuk belajar.
Beberapa jam kemudian akhirnya bel sekolah berbunyi lagi yang menandakan waktu sekolah telah selesai, dan siswa sekolah di harapkan untuk pulang sekolah. Sebelum pulang sekolah aku meminta Adrian untuk mengajarkan ku tentang materi yang masih belum ku mengerti di pelajaran matematika.
__ADS_1
Namun saat itu Arya, dan teman-temannya menghampiri kami dengan senyuman yang mencurigakan. Rasa takut itu akhirnya datang lagi kepada kami, "Sepertinya kalian sedang bersenang-senang, hanya karena kami tak mengganggu kalian di waktu istirahat ya" ucap Arya yang duduk di sebelah ku, begitu juga dengan yang lainnya ikut duduk di samping kami dengan sikap sok akrab.
"Ternyata anak ini cukup pintar" ucap Roy yang mengambil buku pelajaran matematika milik Adrian, dan membuka perhalaman buku itu.
"Tentu saja karena dia masih seorang manusia, dan bukannya seorang... monster" ucap Arya yang membisik keras di telinga ku begitu kata, "Monster" di ucapkan.
"Sudahlah tak perlu basa-basi lagi, aku ingin segera pulang tahu!" ucap Yuda yang mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, dan kami benar-benar terkejut begitu seorang pelajar SD membawa rokok ke sekolah.
"Kalian jangan memikirkan yang aneh-aneh tentang kami. Kami baru saja membeli rokok ini waktu istirahat tadi, dan rokok ini kami hadiahkan untuk kalian" ucap Arya yang tersenyum menyeringai sambil mengambil sebungkus rokok itu dari tangan Yuda.
Kemudian setelahnya Arya mengeluh sesuatu dari kantungnya, dan itu adalah sebuah korek api. Kemudian setelahnya Arya membakar ujung rokok itu sehingga rokok itu menyala, dan seterusnya di berikan kepadaku, dan Tygruth. Aku benar-benar tak tahu apa yang akan mereka rencanakan setelahnya, tapi kami tidak diperbolehkan untuk merokok.
Mereka ingin membuat rumor palsu tentang kami, meskipun itu benar, tapi kami melakukan hal itu karena terpaksa. Namun orang seperti kami jika membela diri kami, pasti tidak akan ada yang mau membenarkan kami. Meskipun kami sudah berkata sejujurnya, percuma saja, mereka para orang dewasa tak akan mendengarkan perkataan kami.
"Cepat... hisap rokok itu" ucap Arya yang mengerutkan dahinya.
Bugh! tiba-tiba saja Yuda memukul wajahku dengan keras hingga rokok yang ku pegang terjatuh, "Cepatlah brengsek! aku sudah bersabar untuk ini! apa kau taj mendengar perkataan ku tadi kalau aku harus segera pulang!" teriak Yuda yang marah-marah padaku.
Kemudian tiba-tiba saja sesuatu yang mengejutkan terjadi, mereka benar-benar terkejut begitu Adrian mau menghisap rokok yang ia pegang begitu saja. Setelahnya Roy yang memegang sebuah ponsel segera memfoto Adrian yang sedang merokok.
__ADS_1
"Apa ini sudah cukup? apa aku sudah boleh pulang?" ucap Adrian sambil terus melanjutkan menghisap rokoknya.
"Kau!? benar-benar luar biasa! tapi sayang sekali orang seperti mu harus berteman dengan monster sepertinya" ucap Arya yang kegirangan begitu melihat Adrian menghisap rokok itu.
"Gila! kau keren sekali! seharusnya kau bergabung saja dengan kami!" ucap Roy yang menepuk pundak Adrian.
"Dasar bodoh! kalau ternyata kau orang yang seperti ini, kenapa kau malah memilih berteman dengan monster itu?" ucap Yuda sambil menepuk kepalanya sendiri. Aku hanya bisa menatap wajah Adrian dengan terkejut dari lantai. Aku benar-benar tak menyangka kalau Adrian akan langsung menuruti perkataan mereka begitu saja.
Apa jangan-jangan Adrian memang orang yang seperti itu?, "Aku berteman dengannya karena saat itu hanya dia temanku satu-satunya" ucap Adrian yang berterus terang sambil menghisap rokok itu dengan keren.
"Jadi begitu... lalu apakah kau mau berteman dengan kami, dan membuang monster ini demi kami?" ucap Arya yang pergi mendatangi Adrian, dan berdiri di hadapannya dengan tatapan yang serius.
"Sebelum itu... bisakah kau berikan aku satu rokok lagi?" ucap Adrian yang sudah menghabiskan satu puntung rokok yang ada di tangannya.
"Ku anggap ini iya! baiklah kalau begitu ayo ikut kami pergi! ayo ke rumah ku, sepertinya kita harus merayakan sesuatu yang luar biasa ini di rumah ku!" ucap Arya yang mengajak Adrian untuk pergi kerumahnya. Lalu teman-teman Arya yang lainnya bersorak atas hal itu. Setelahnya mereka pergi meninggalkan ku sendirian di kelas.
Aku senang mereka pergi... tapi... aku tak senang kalau sahabatku di rebut oleh orang seperti mereka. Aku... benar-benar sama sekali tak menyangka kalau Adrian akan seperti ini. Yang tadi itu... apa yang baru saja ku lihat!? tatapan Adrian... begitu dingin saat menatap ku. Setelah melihat sosok Adrian yang seperti itu, rasanya... hatiku sakit sekali.
Hatiku seperti sedang terkoyak-koyak oleh binatang buas. Rasanya... aku ingin mati saja, orang yang ku anggap sahabat terdekat ku, dsn tak akan pernah meninggalkan ku pergi meninggalkan ku. Rela membuang ku yang merupakan orang terdekatnya hanya karena berteman dengan orang seperti mereka.
__ADS_1