
Minggu ini aku ingin sekali bertemu dengan teman-teman ku untuk bermain dengan mereka, sekaligus aku ingin mengucapkan rasa terima kasih ku kepada Kasta karena telah memberikan kunci jawaban seluruh ujiannya padaku kemarin. Tapi sepertinya hari ini aku tak bisa keluar untuk pergi main karena ibu sedang tidak enak badan. Saat ini ibu sedang berbaring lemas di kamarnya sambil berselimut.
Aku membawakan air, obat, dan makanan untuk ibuku yang sedang sakit terbaring di kasur nya. Hatiku merasa terluka melihat keadaan ibuku yang seperti ini. Mungkin ibu jadi sakit seperti ini karena ibu terlalu memaksakan diri ibu untuk membersihkan rumah besar ini sendirian. Aku tak bisa membantunya setiap hari, karena aku harus bersekolah, dan terkadang aku harus mengerjakan tugas yang diberikan guru padaku. Terkadang juga aku harus melakukan piket kelas untuk membersihkan kelas yang membuat jadwal pulang sekolah ku lebih lama.
"Ibu ini aku bawakan obatnya untuk ibu..." ucapku yang meletakkan nya di meja yang berada di samping tempat tidur ibuku.
"Terima kasih Ryan anakku tersayang..." ucap ibuku dengan suara yang letih, dan segera bangun dari tidurnya untuk bersiap meminum obat yang ku berikan. Kemudian aku memberikan obatnya kepada ibu, dan juga segelas air minum yang segar untuk ibu.
"Makan buah-buahan yang bawa juga bu, agar ibu cepat sembuh" ucapku yang mengupas buah apel dengan pisau di tangan ku. Kemudian aku mengupas seluruh kulit apel itu untuk ku berikan pada ibuku yang sedang sakit. Aku menyuapinya dengan perlahan, dan memotong-motong kecil apelnya, agar mudah di telan.
Cklek! kemudian tiba-tiba saja paman Angga yang mendengar ibuku sedang sakit dari anaknya, Angga datang ke kamar ibuku. Aku melihat wajah paman Angga yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Benar-benar sangat mengejutkan, wajah dingin yang sama sekali belum pernah menunjukkan ekspresi yang berbeda kepada kami, kini menunjukkan ekspresi yang sama sekali bukan sifatnya.
Paman Angga segera berlari, dan meletakkan tangannya di dahi ibuku yang sedang terbaring. Wajah ibu langsung terkejut begitu paman Angga melakukan hal yang tak terduga, wajah ibu... terlihat merah, dan kondisinya seperti langsung terlihat baik-baik saja. Aku yang masih polos, dan tidak mengerti tentang suatu perasaan yang di sebut cinta hanya bisa menatap mereka dengan heran.
Pluk! tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menyentuh bahuku, dan ternyata tangan itu adalah tangan Adrian. Aku merasa terkejut karena Adrian juga tiba-tiba seperti ini padaku, aku sempat kebingungan karena tiba-tiba Adrian merasa sok dekat dengan ku, seolah-olah semua yang sebelumnya terjadi tidak pernah terjadi. Tapi aku langsung sadar diri saja, mana mungkin dia akan kembali akrab dengan ku, ini pasti hanya akting nya saja di depan ibu, dan paman Angga agar hubungan pertemanan kami terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Mereka terlihat mesra..." ucap Adrian dengan kata-kata yang membuatku terkejut.
"A-apa maksud mu?..." ucapku yang tidak mengerti dengan ucapan nya, dan segera menjaga jarak dengan Adrian.
"Maksud ku mereka terlihat cocok sebagai pasangan" ucap Adrian padaku dengan tatapan tanpa ekspresi yang sama seperti wajah ayahnya yang selalu dia tunjukkan. Sepertinya ayah, dan anak sama saja, wajah mereka, ekspresi mereka pun sangat mirip sekali, kenapa aku baru sadar sekarang.
"Haha... jangan bercanda... cocok apanya, apa kau sedang meledek kami yang berpenampilan seperti ini?" ucapku yang merasa kalau perkataan Adrian sedang menyindir kami dengan halus. Dia mengatakan cocok tanpa memandang apa yang orang lain pikirkan, kepada ibuku. Padahal kami adalah monster, dan monster tidak cocok dengan manusia. Itulah yang ku pikirkan dengan perkataan Adrian barusan, kalau dia sedang menyindir ibuku kepadaku dengan halus.
"Hah? apa maksudmu? sepertinya kau salah paham..." ucap Adrian yang terkejut melihat tatapan ku yang sangat kesal kepadanya.
Setelah itu paman Angga yang terlihat mengkhawatirkan ibuku segera menggendong ibuku ke dalam mobil, dan di bawanya ke rumah sakit. Wajahnya yang khawatir sampai penuh dengan keringat itu membuatku merasa tidak enak. Sesuatu yang membuat suasana hatiku bingung, sebenarnya aku juga penasaran dengan sifat paman Angga yang tiba-tiba berubah seperti ini saat ibuku sakit.
Ibuku di rawat inap dengan fasilitas rumah sakit, dan perawatan yang terbaik. Ini semua berkat paman Angga yang sangat mengkhawatirkan keadaan ibu. Bahkan ibuku masih terlihat syok dengan sifat paman Angga barusan. Begitu juga dengan ku, karena ini sungguh pemandangan yang langka sekali.
"Jangan... jangan pergi... ku mohon... bertahanlah..." ucap paman Angga dengan suaranya yang kecil, yang sedang duduk di samping kasur rumah sakit ibuku. Paman Angga terlihat menderita sekali, sampai-sampai dia menundukkan kepalanya yang tak pernah dia tundukkan kepada siapapun.
__ADS_1
Kemudian tiba-tiba saja Adrian menarik ku keluar dari ruang rawat ibuku dengan kasar. Setelah keluar dari ruangan ibuku, aku langsung melepaskan tanganku yang di tarik itu dengan wajah kesal. Lagi-lagi Adrian terlihat aneh, pupil matanya sekilas terlihat membesar.
"Ada apa dengan mu? apa mau mu? apa kau masih tak puas dengan membuang ku? apa kau berniat untuk menjadikan ibuku target kedua mu untuk memuaskan perasaan busuk mu itu!" ucapku dengan kesal kepada Adrian, dan setelah nya aku segera berbalik, badan, dan mencoba untuk masuk kembali ke ruangan ibuku.
Namun tiba-tiba Adrian menarik tanganku sambil menundukkan kepalanya kepadaku, "Jangan ganggu... biarkan mereka berdua untuk sementara waktu sampai ayahku keluar dari ruangan ibumu" ucap Adrian yang terlihat tertekan dengan suaranya yang terdengar berat. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, tapi entah kenapa hatiku merasa kasihan melihatnya, hatiku benar-benar merasakannya, perasaan yang dia rasakan.
"Kenapa? apa kau bisa menjelaskannya padaku..." ucapku yang sebenarnya aku bertanya seperti ini karena penasaran dengan sifat paman Angga yang berubah drastis seperti ini. Namun Adrian tak menjawab perkataan ku, dan terus menundukkan kepalanya di hadapan ku.
Hingga akhirnya dia berbicara, "Setelah ibu pergi... ayahku kehilangan perasaannya untuk waktu yang sangat lama. Ia bagaikan mayat hidup yang sedang menjalani kehidupannya di dunia yang tak berwarna baginya. Karena itulah dia terlihat dingin, dan tak berekspresi. Namun... setelah dia menemukan kalian di jalanan, keseharian ayah terlihat sedikit berubah.
Hingga akhirnya ayah benar-benar menunjukkan ekspresi nya kembali. Ibumu di mata ayah terlihat seperti mendiang ibu ku, mungkin karena itulah ayah membawa kalian ke rumah yang tak pernah seorangpun mendatangi rumah nya. Mungkin karena itu juga, ayahku menjadi resah setelah mendengar kabar kalau ibumu sedang tidak baik-baik saja. Karena dia menganggap ibumu sebagai mendiang istrinya di matanya, maka ayah langsung merasakan kekhawatiran pada hatinya yang lemah" ucap Adrian yang akhirnya menjelaskan tentang ayahnya dengan panjang lebar.
Kalau tidak salah saat itu aku pernah mendengar sekilas cerita tentang ibunya Adrian. Kalau ibunya meninggal beberapa jam kemudian setelah melahirkan Adrian. Sekarang semuanya jadi masuk akal, tentang mengapa paman Angga menjadi seperti ini. Kalau seperti ini, maka aku akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja sesuai dengan apa yang di inginkan Adrian, dan paman Angga.
Dan juga ibuku... yg sepertinya... terlihat sedikit senang... lalu aku... sepertinya tidak ada yang berubah dariku. Aku tetaplah diriku, dan tak akan pernah berubah sampai kapanpun itu. Hingga akhirnya aku sadar dimana posisi yang pas untuk ku. Untuk orang sepertiku... hanya akan berada di bawah, dan menjadi karakter pendukung untuk mereka.
__ADS_1