Apakah Takdir Harus Seperti Ini?

Apakah Takdir Harus Seperti Ini?
Belajar Dengan Giat


__ADS_3

Sebentar lagi ujian penilaian tengah semester akan di mulai. Mendengar kabar ujian akan di mulai sebentar lagi membuatku harus giat belajar. Meskipun aku tahu, kalau aku belajar sekalipun tidak akan membuatku mengerti, atau pintar. Karena aku sangat tidak pandai dalam belajar, mungkin itu... karena aku selalu di tindas, dan tak memiliki waktu untuk belajar selama disekolah.


Pikiran ku benar-benar tidak fokus untuk belajar, karena aku selalu membayangkan diriku di tindas oleh mereka. Rasa trauma itu sudah jatuh terlalu dalam di lubuk hatiku. Yang membuatku selalu merasa resah, sampai air keringat membasahi wajahku. Tidak hanya itu, tanganku juga selalu bergemetar begitu aku memikirkan mereka.


Tapi Adrian berbeda dengan ku, dia adalah anak yang pintar, dan sangat mudah memahami berbagai pelajaran. Padahal dia mengalami hal yang serupa padaku dengan apa yang mereka lakukan pada kami saat di sekolah. Tapi Adrian tetap semangat belajar di setiap malamnya sebelum tidur.


Mungkin hanya itu saja yang membuatku iri dengan Adrian. Dia selalu membuatku iri dengan kepandaiannya, mungkin kepintarannya itu turun dari ayahnya. Saat ini aku, dan Adrian sedang fokus untuk belajar di kamar. Adrian sedang mencoba mengerjakan beberapa soal di buku pelajarannya, sementara aku hanya bisa memainkan pulpen ku dengan memutar-mutarkannya.


"Hei Adrian! kau sedang belajar pelajaran apa?" ucapku yang merasa bosan karena aku tidak dapat memahami pelajaran yang sedang ku pelajari saat ini.


"Aku sedang mempelajari pelajaran biologi, tentang ekosistem" ucap Adrian yang sama sekali tak menoleh kepadaku saat berbicara karena saking fokusnya ia belajar.


"Minggu depan kita akan ulangan, dan hari ini hari rabu... astaga, kenapa waktu berjalan begitu cepat sekali sih" gumam ku dengan bermalas-malasan sambil membaringkan kepalaku di meja belajar dengan lemas, dan mengantuk.


"Belajar lah meski tak ada perubahan yang nyata" ucap Adrian yang menasehati ku tiba-tiba, meski begitu dia masih menatap buku pelajarannya dengan seksama.


"Hah!? kalau tak ada perubahan lebih baik aku tidur saja" ucapku sambil mengeluh.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, meskipun kau tidak berbakat dalam belajar, setidaknya semangat mu itulah yang akan digunakan di masa depan nanti. Karena itu belajar saja dengan penuh semangat seperti ku, dan jangan banyak mengeluh!" ucap Adrian yang terlihat kesal karena aku bermalas-malasan.


"Baiklah baiklah! aku mengerti! sial sejak kapan kau bersikap seperti orang tua" ucapku sambil menghela nafas, kemudian melanjutkan belajar seperti yang dikatakan Adrian walau terpaksa. Tapi menurutku perkataan Adrian tidak ada salahnya juga untuk di coba.


Meskipun aku tak memiliki bakat untuk belajar, aku harus tetap semangat. Karena mungkin saja semangat ku ini akan menunjukkan potensi ku yang sebenarnya di masa depan kelak. Dengan begitu aku langsung bersemangat untuk belajar dengan rasa semangat yang membara di jiwaku.


"Uh... sepertinya dia benar-benar serius" ucap Adrian dalam batinnya yang kali ini dia melirik ku setelah merasakan hawa yang mengerikan dari diriku yang sedang mengeluarkan api yang membara yang bersemangat di jiwaku.


Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan larut malam, dan aku sudah tertidur di meja belajar tanpa sadar karena mengantuk. Aku terus memaksa otak ku untuk bekerja di luar batas, memahami berbagai pelajaran yang sangat sulit untuk diterima oleh otak ku.


Sementara itu, Adrian yang masih belum tertidur, dan masih bersemangat dalam belajar. Sia melirikku yang sedang tertidur di atas meja belajar. Setelahnya dia langsung meninggalkan tempat belajar nya, dan mengambil sebuah selimut untuk diletakkan di atas ku.


Besoknya ibuku masuk ke kamar kami untuk membangunkan kami yang masih tertidur pulas di meja belajar. Kami sangat lelah, dan masih mengantuk karena belajar semalam. Tapi rasa kantuk itu seketika menghilang setelah kami melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh.


Kami sangat terkejut, dan segera bersiap-siap dengan sangat cepat untuk pergi bersekolah. Kami rela tak sarapan hanya untuk pergi bersekolah. Aku, dan Adrian menggunakan sepeda semenjak kelas lima untuk berangkat sekolah yang sebelumnya kami berangkat sekolah di antar oleh ayah Adrian, paman Angga.


Kami sudah sampai di gerbang sekolah, dan syukurlah kalau gerbang masih terbuka lebar yang menandakan kami masih belum telat untuk masuk sekolah. Kami langsung mengayuh sepeda kami dengan cepat, dan berhenti di tempat parkiran. Setelahnya kami langsung turun dari sepeda, dan berlari untuk memasuki kelas kami.

__ADS_1


"Hah... hah... syukurlah kita tidak... telat... hah" ucapku yang ngos-ngosan setelah masuk kelas, dan duduk di bangku.


"Hei kalian kenapa telat hari ini? apa kalian sengaja menghindari kami?" ucap Roy yang menghampiri kami, dan meletakkan kaki kirinya di atas mejaku dengan gaya yang sok.


"Hentikan Roy, sebentar lagi guru bahasa akan datang" ucap Arya yang sedang mengerjakan tugas dengan contekan yang ia dapat dari anak-anak yang bernasib sama seperti kami. Meskipun begitu mereka tidak di perlakukan parah seperti kami, mereka hanya di paksa untuk memberikan contekan jika ada tugas, dan hanya menjadi pesuruh saja.


Setelahnya guru bahasa datang, masuk ke kelas kami, dan pembelajaran pun di mulai. Seperti biasa begitu pembelajaran di mulai, aku sama sekali tak bisa fokus saat belajar. Karena memikirkan perkataan mereka barusan, yang akan menindas ku mungkin saat waktu istirahat tiba, atau pulang sekolah nanti. Aku terus memikirkannya, seperti apa, dan akan bagaimana penindasan yang mereka lakukan untuk hari ini, aku selalu memikirkan hal itu. setiap berada di sekolah.


"Tidak perlu takut... kau harus menghilangkan kelemahan itu pada dirimu" ucap Adrian yang tatapannya masih fokus kepada guru yang sedang mengajarkan kami. Entah kenapa rasanya Adrian terlihat semakin dewasa semenjak saat itu. Dia memang benar-benar menjadi sedikit berbeda dengan Adrian yang dulu ku kenal.


Kring! kring! akhirnya waktu istirahat telah tiba, seketika jantungku langsung berdegup dengan sangat kencang, dan air teringat membasahi tubuh ku dalam sekejap. Tak! lagi-lagi Roy meletakkan kaki kirinya di atas meja ku sambil membawa sebuah rotan di tangan kanannya yang iya taruh di belakang badannya.


"Roy nanti saja... hari ini kita ke kantin dulu, aku sudah sangat lapar" ucap Arya yang sudah berjalan keluar kelas lebih dulu.


"Hei Arya? ada apa denganmu? kenapa orang yang biasanya sangat bersemangat untuk menindas monster ini menjadi seperti ini?" ucap Roy yang merasa tidak senang dengan sikap Arya yang tak mau menindas kami berdua dengan wajahnya yang penuh dengan kesal, dan amarah.


"Sudahlah... ikuti saja aku, kau juga lapar bukan?" ucap Arya.

__ADS_1


"Cih... baiklah... kau sungguh beruntung haru ini monster!" ucap Roy yang kemudian meninggalkan kami berdua, dan segera pergi ke kantin dengan Arya. Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Arya saat ini. Namun aku benar-benar beruntung kalau waktu istirahat saat ini mereka tak melakukan penindasan kepada kami.


Hatiku yang sesak langsung merasa lega begitu melihat mereka pergi meninggalkan kami. Jantungku yang berdetak dengan kencang mulai kembali normal. Aku menghela nafasku dengan dalam dengan perasaan lega. Sambil membayangkan kalau mungkin hari ini adalah pertanda baik untuk kehidupan sekolah kami kedepannya.


__ADS_2