
Besoknya adalah hari Minggu, hari ini termasuk hari libur. Rasanya membosankan sekali begitu tahu kalau ini adalah hari terakhir libur, dan besoknya kami sudah harus masuk sekolah kembali. Sangat menyebalkan, aku ingin cepat-cepat dewasa, dan menjalani kehidupan ku dalam kesendirian. Itu adalah hal yang ku impikan sejak kehidupan ku berubah total.
Aku hanya ingin hidup sendirian di suatu tempat, tanpa ada seorang pun di samping ku. Aku hanya seseorang yang ingin merasakan kedamaian dalam hidupku. Orang yang menginginkan kembali kehidupannya yang damai seperti sedia kala, hanya itulah yang mungkin ku inginkan. Namun... apakah aku bisa mendapatkan nya kembali? kehidupan yang damai itu?.
Di pagi hari ini aku terbangun setelah tidur ku yang pulas. Rasanya semua rasa pegal, dan lelah itu sudah hilang setelah aku tidur. Namun yang paling menyebalkan dari memaksakan untuk berolahraga adalah, otot sendi ku merasa kaku, dan sakit. Ah... seharusnya aku tak memaksa kan diriku untuk bermain basket kalau tahu akan begini.
Namun aku merasa terkejut begitu bangun dari tempat tidur ku, aku tak melihat Adrian sedang tertidur di kasurnya. Kasurnya tampak sudah rapih, dan sepertinya dia sudah bangun lebih dulu padaku, yang padahal biasanya aku bangun lebih dulu dari padanya, karena Adrian selalu memaksakan dirinya untuk belajar semalaman.
Tapi melihat dia pergi pagi-pagi seperti ini, sepertinya dia sedang terburu-buru. Aku pun langsung keluar kamar ku, dan segera mencari-cari Adrian di seluruh ruangan rumah ini, untuk memastikan apakah Adrian ada di rumah atau tidak. Ternyata Adrian tidak ada di rumah, sepertinya dia sedang pergi keluar. Akhirnya aku menghampiri ibuku untuk bertanya kepada ibuku dimana Adrian.
"Ibu... apakah ibu melihat Adrian tadi pagi?" ucapku kepada ibuku yang ingin bersiap-siap untuk membersihkan rumah ini.
"Tadi beberapa menit yang lalu teman-teman Adrian datang ke rumah. Sementara itu Adrian masih tertidur, dan ibu membangunkan Adrian untuk menemui teman-temannya" ucap ibuku sambil berjalan terburu-buru untuk melakukan tugasnya untuk membereskan rumah.
__ADS_1
Begitu ibu mengatakan "Teman-teman Adrian" seketika aku langsung tahu siapa teman-temannya itu. Tentu saja tidak salah lagi pasti teman-teman yang ibu lihat sebelumnya adalah gengnya Arya. Karena Adrian tidak punya teman lain selain geng Arya, dan... aku, itupun kalau dia masih menganggap ku teman, atau sahabat nya.
Kemudian karena aku tak ada kerjaan, atau ada hal yang ingin kulakukan di hari Minggu ini. Akhirnya aku pergi untuk membantu ibuku membereskan, dan membersihkan rumah. Saat ini paman Angga terlihat lelah, dan dia sedang duduk santai di sofa yang berada di depan televisi. Paman Angga terlihat lesu, sambil menatap dengan tatapan kosong ke siaran televisi yang dia tonton.
Kemudian aku berencana untuk membuatnya dapat menjalani harinya dengan senang. Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi hangat yang biasa ibu buatkan untuk paman Angga di pagi hari sebelum paman Angga pergi untuk berangkat kerja ke kantornya. Aku menyiapkan nya dengan hati-hati, dan sebisa mungkin untuk menciptakan kopi yang enak.
Akhirnya kopi sudah siap di sajikan, dan aku pergi menghampiri paman Angga sambil membawa secangkir kopi yang di taruh di atas piring kecil. Aku berjalan, dan meletakkan kopi nya di depan meja paman Angga yang sedang terduduk dengan santai, "Ah... terima kasih" ucap paman Angga dengan singkat.
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum, dan kemudian aku berbalik, dan melanjutkan pekerjaan ibu, namun tiba-tiba saja paman Angga memanggil ku begitu dia meminum kopi buatan ku. Entah kenapa aku merasakan aura yang tidak enak, lalu aku langsung membalikkan hadapan ku ke paman Angga yang sedang memegang cangkir kopinya.
"Be-benar..." ucapku dengan gugup, sambil menurunkan pandangan ku.
"Kopi buatan mu terasa unik... aku langsung mengetahuinya begitu rasanya berbeda dengan yang biasa ku minum" ucap paman Angga yang langsung menghentikan pembicaraan ini, yang artinya pembicaraan ini sudah benar-benar selesai. Dia langsung kembali menonton acara televisi yang biasa dia tonton.
__ADS_1
Seketika rasa gugup, dan tegang ku langsung menghilang. Aku merasa lega sambil menghela nafasku dengan dalam-dalam. Kemudian aku kembali, dan mengambil sapu untuk menyapu lantai rumah yang besar ini. Tapi... perkataan paman Angga membuatku memikirkannya. Apa yang dia maksud dengan kopi buatan ku yang unik? sebenarnya dia memuji ku atau tidak?.
Apakah kopi buatan ku lebih baik dari pada ibuku atau tidak aku tidak tahu. Tapi yang pastinya kopi ku cukup enak untuk di minum paman Angga karena dia tak marah, atau menunjukkan ekspresi yang tidak menyukai kopi buatan ku. Hanya karena hal kecil seperti ini saja sudah membuat hatiku damai, dan tentram.
Terkadang seseorang akan merasakan kehidupannya yang damai dengan cara yang berbeda-beda tergantung bagaimana dunia menatap mereka. Contohnya hanya dengan seperti ini saja sudah membuat hatiku senang, mungkin kalau orang lain yang melakukan apa yang ku lakukan pasti akan terasa berbeda, atau malahan ini adalah hal biasa saja, bukan sesuatu yang spesial bagi hidupnya.
Hidup ini memang benar-benar sangat unik sekali, diman akau hidup selalu saja bertemu dengan sesuatu yang di luar dugaan. Terkadang sesuatu yang di sebut unik itu adalah sebuah masalah bagi mu. Karena tidak semuanya yang unik akan di sukai oleh banyak orang, atau bahkan semua orang.
Yang pastinya di sukai oleh orang lain adalah sebuah posisi yang tinggi. Baik dalam fisik, kekuatan, kekuasaan, dan masih banyak lagi sampai-sampai aku tak bisa menyebutkannya satu persatu. Tapi terkadang aku berpikir kenapa aku mendapatkan kehidupan yang unik yang hanya membuat masalah di dalam kehidupan ku.
Karena keunikan kehidupan ku ini menyebabkan kehidupan damai ku di rampas. Ironis sekali... memang benar-benar dunia yang sangat unik untuk di jalani. Rasa menyakitkan, dan rasa kebahagiaan jika di satukan... akan menciptakan suatu perasaan yang unik untuk di rasakan, dan di jalani.
Kalau kau tak bisa menjalani kehidupan mu, atau kau merasa pasrah dalam keadaan. Maka lebih baik kau mencoba untuk berjalan menuju suatu kehidupan yang kau inginkan. Namun jika kau tidak bisa berjalan, maka setidaknya kau mencoba untuk bangkit, dan melihat cahaya mentari yang akan menerangi kehidupan mu di balik lubang yang gelap.
__ADS_1
Kalau kau tak bisa bangkit untuk melihat, atau merasakan cahaya mentari yang akan menyinari kehidupan mu. Maka lebih baik kau mencoba untuk bertahan, sampai suatu saat cahaya mentari itu bergeser tepat di atas kepalamu, dan dengan begitu kehidupan baru mu yang bersinar akan di mulai.