
Saat itu... aku masih bersekolah di TK ku yang dekat dengan rumahku. Kemudian aku di jemput ayahku menggunakan mobil untuk pulang setelah bersekolah. Namun sebelum itu ayah mengajak ku untuk berkeliling karena dia ingin menghabiskan waktu dengan ku. Aku sangat senang karena ayah masih mempedulikan ku di bandingkan dengan pekerjaannya.
Saat kami berkeliling ke suatu tempat, pandangan ku tak terlepaskan setelah melihat sekolah dasar yang terlihat sangat menarik perhatian ku. Sekolah itu terlihat bagus, dengan seragam sekolah nya yang keren. Kemudian banyak anak-anak yang bermain, dan tertawa di sekolah itu, semenjak saat itulah aku ingin sekali bersekolah di situ setelah aku selesai bersekolah di TK.
"Ayah! sekolah apa itu?" ucapku dengan girang sambil menunjuk keluar jendela ke arah sekolah itu.
"Itu adalah sekolah dasar, nanti jika kamu sudah selesai di TK, kamu harus bersekolah lagi yaitu di sekolah dasar. Kelihatannya kamu senang sekali membicarakan sekolah itu, apa kamu mau bersekolah di situ nanti?" ucap ayahku yang menghentikan mobilnya, dan membiarkan ku melihat sekolah itu dari jauh.
"Iya ayah! kelihatannya tempat itu menyenangkan! aku akan mendapatkan banyak teman baik di situ, dan bermain dengan baik bersama mereka!" ucapku yang sangat senang sekali karena ayah menawarkan ku untuk bersekolah di sekolah itu.
"Baiklah, kalau begitu nanti kamu ayah sekolah kan di situ setelah selesai di TK" ucap ayahku sambil tersenyum padaku, dan mengelus-elus rambut ku hingga berantakan. Terukir juga wajah bahagia ku kepada ayah yang membuat ayahku senang melihatnya.
Namun... apa-apaan ini? kenapa semuanya menjadi seperti ini!? sekolah yang ku impikan saat itu... benar-benar seperti neraka. Benar-benar sangat buruk, dimana anak-anak sekolah yang baik yang waktu aku lihat? dimana tawa, dan senyuman mereka? kenapa malah tatapan menjijikan saat melihat ku?.
"Ryan... a-apa kau baik-baik saja? wajahmu pucat" ucap Adrian yang merasa khawatir padaku karena mendengar cibiran dari anak-anak sekolah kepadaku.
__ADS_1
"A-aku baik-baik saja... a-ayo kita masuk..." ucapku yang mencoba untuk bersikap tegar di hadapan Adrian. Aku harus menjadi kuat, dan tidak boleh menangis hanya karena masalah seperti ini. Lagi pula ini memang kenyataannya, kenapa aku harus menangis, dan menyesal. Kalau ini memang takdir seharusnya aku tinggal menjalani nya saja tanpa mempedulikan orang lain yang menganggap ku sebagai apa.
Aku harus menjadi kuat untuk menguatkan mental ku dari kehidupan seperti ini. Karena aku langsung menyadari satu hal semenjak saat itu... kalau aku... akan terus menjalani kehidupan yang buruk seperti ini untuk selama-lamanya. Aku sangat memahami betul walau hal ini baru saja terjadi, aku harus tetap kuat, dan bertahan di dunia yang kejam ini.
Kring! kring! kring! akhirnya bel istirahat sudah berbunyi yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Aku langsung membuka tas ku dengan penuh semangat, untuk memakan makanan yang sudah ibu siapkan tadi pagi. Begitu aku membukanya tercium bau harum khas masakan ibuku. Ibuku memang wanita yang pandai memasak, beliau sangat hebat.
"Hmm... masakan ibu mu selalu enak, Ryan!" puji Adrian yang sedang makan bekalnya bersama ku di bangku yang sama. Syukurlah kalau Ryan selalu menyukai masakan ibuku, hal itu membuatku senang karena masakan yang ibu buatkan untuk kami bisa habis dimakan.
"Haha, terima kasih..." ucapku yang tersipu malu, lalu tiba-tiba saja ada sekelompok anak-anak yang berjumlah tiga orang. Anak-anak itu merupakan anak dari kelas kami, dan mereka menghampiri ke bangku kami. Mereka menatapku dengan kejam, dan perasaan yang jijik, aku bisa merasakan hal itu.
"Hei namamu Adrian kan? apa kau mau makan bekal bersama kami?" ucap salah satu dari ketiga anak itu yang mengajak Adrian untuk makan bekal bersama.
"Maksud kami hanya kita berempat... orang yang di depan mu itu tidak boleh bergabung bersama kami, apa kau mengerti?" ucap anak yang badannya paling besar itu dengan menatap tajam kepadaku, hingga membuatku menundukkan kepala ku karena takut.
"Eh!? ke-kenapa begitu? kenapa kita tidak makan bersama saja disini?" ucap Adrian yang terheran-heran, yang sepertinya masih belum mengerti tentang situasi ini. Dia memang benar-benar anak yang baik, dan polos.
__ADS_1
"Apa kau tidak jijik saat menyantap makanan mu di depan dia? lihat wajahnya, dan tangannya yang mengerikan itu. Membuat selera makan kami hilang, karena itulah anak-anak yang lain pergi meninggalkan kelas untuk makan bekal mereka di luar" ucap anak yang berbadan besar itu yang terus menghina ku tanpa henti.
Rasanya benar-benar menyakitkan... aku ingin menangis tapi aku harus menahannya. Aku tak boleh menunjukkan kalau aku ini anak yang lemah. Meskipun air mataku sudah bergelimang, aku tak boleh meneteskan satu tetes air mataku di hadapan mereka. Namun... aku penasaran bagaimana dengan pendapat Adrian, setelah mendengar kata-kata buruk yang dilontarkan padaku dari ucapan mereka yang busuk mengenai ku.
"Tidak..." ucap Adrian yang mengepalkan tangannya sambil menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergemetar entah karena apa, tapi... sepertinya dia terlihat marah.
"Apa?"
"Tidak boleh berbicara seperti itu pada orang yang sudah membantu ku!" teriak Adrian yang kesal karena teman baiknya yaitu aku di hina seperti ini. Adrian benar-benar marah, wajahnya merah karena kesal, sambil menggerakkan giginya dengan kesal.
"Oh... jadi kau lebih memilih bermain bersama monster ketimbang dengan manusia seperti kami?" ucap anak-anak itu lagi yang sepertinya ingin mencari ribut dengan ku.
Monster... kata itu... membuat hatiku semakin sakit, lalu... memangnya kenapa? apakah seorang monster tidak boleh bermain bersama manusia?. Apa mereka tidak pantas bagi kalian untuk berteman dengan manusia? hanya karena berbeda kalian jadi membanding-bandingkan hal itu.
"Dia bukan monster! dia manusia sama seperti kita!" teriak Adrian dengan kesal hingga akhirnya Adrian meneteskan air matanya untuk ku, dan itu membuat secercah harapan di hatiku mulai bersinar kembali. Aku... benar-benar sangat beruntung memiliki teman yang baik seperti nya.
__ADS_1
"Lalu kau menyebut dia apa? lihat saja betapa menjijikkan tubuh... ukh!" kemudian tiba-tiba saja Adrian memukul wajah anak yang paling besar itu yang terus mengoceh untuk meledek, dan menghina ku. Dengan air mata yang terus mengalir, dan perasaan sesak karena amarah, Adrian terus menghajar anak laki-laki berbadan besar itu tanpa ampun.
Hingga akhirnya anak-anak yang lainnya pergi keluar untuk mencari guru, agar melerai perkelahian itu. Lalu seorang guru datang, dan menghentikan perkelahian itu, kemudian kedua anak yang berkelahi itu di panggil ke ruang BK untuk di pertanyakan apa yang terjadi. Aku ikut dengan Adrian agar menjadi saksi untuk semua yang terjadi saat itu.