
Aku benar-benar sama sekali tak menyangka kalau pada akhirnya akan jadi seperti ini. Aku tidak pernah sekalipun terpikirkan tentang Adrian yang pergi meninggalkan ku demi mereka. Ini benar-benar adalah mimpi buruk yang begitu buruk, dan mengerikan yang menyelimuti jiwaku.
Setelah pulang sekolah sejak hari itu, Adrian menjadi telat pulang ke rumah karena asik bermain bersama orang-orang seperti mereka. Adrian juga sudah tidak lagi mempedulikan ku, dia benar-benar menutup telinga nya sama seperti orang-orang dewasa yang tak mempedulikan kita.
Saat pertama kali Adrian menjadi bagian dari mereka, aku menunggu kepulangan Adrian. Aku menunggu Adrian begitu lama di kamar kami, sambil menggambar, aku terus menunggu Adrian untuk pulang, dan menanyakan apa yang terjadi. Apa yang dia pikirkan sampai-sampai mau berteman dengan mereka, dan nekat untuk merokok.
Namun beginilah yang terjadi begitu Adrian sudah pulang ke rumah, dan dia terlihat lelah karena terlalu asik bermain bersama teman-teman barunya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur untuk segera tidur begitu memasuki kamar. Kemudian aku yang melihatnya langsung menghampiri Adrian untuk menanyakan tentang kejadian saat di sekolah.
"Adrian... apa kau baik-baik saja?" ucapku.
"Tentu saja! aku sangat baik-baik saja, dan ternyata bermain bersama mereka sangat menyenangkan!" ucap Adrian yang tiba-tiba langsung membalikkan tubuhnya, dan langsung gembira kembali.
"Tapi... kenapa kau mau menerima rokok dari mereka begitu saja, dan menghisapnya dengan senang hati?" ucapku yang merasa sedih akan hal itu.
"Aku melakukannya demi keluar dari kehidupan sekolah ku yang busuk. Aku benar-benar sudah tak tahan untuk hidup seperti itu selamanya" ucap Adrian.
"Tapi kenapa kau harus memilih berteman dengan mereka, dan melakukan perbuatan yang tidak benar?" ucapku.
__ADS_1
"Kau ini kenapa sih? aku hanya ingin mencari kesenangan ku saja! kenapa kau malah banyak tanya!" ucap Adrian yang tiba-tiba merasa kesal dengan ku karena terus bertanya tanpa henti, dan sepertinya pertanyaan ku telah mengusik perasaan Adrian.
"Tidak, hanya saja kesenangan yang kau cari itu tidak benar" ucapku yang ingin membuat Adrian mengerti dengan perkataan ku.
"Tidak benar ya? bukankah kau menyuruhku untuk keluar dari kehidupan sekolah yang busuk seperti ini setelah SMP. Tapi aku hanya ingin keluar lebih cepat, karena aku sudah muak dengan semua perlakuan buruk mereka" ucap Adrian yang semakin marah padaku.
"Itu benar... tapi tidak seharusnya kau berteman dengan orang-orang yang jahat seperti mereka. Apa kau sudah lupa dengan apa yang mereka perbuat pada kita, dan anak-anak seperti kita yang lainnya?" ucapku, namun setiap perkataan yang ku lontarkan malah membuat Adrian semakin kesal, dan tidak suka.
"Lalu kenapa? apa kau iri dengan ku? karena bisa berteman dengan mereka? apa kau iri padaku yang sudah bisa keluar lebih dulu dari kehidupan sekolah kita yang buruk?" ucap Adrian yang turun dari kasurnya, dan menghampiri ku dengan tatapan yang menusuk.
"Kalau begitu berusahalah agar orang-orang menyukai mu. Agar kau tidak lagi sendirian, dan terlihat menyedihkan di mata orang lain. Kau itu benar-benar menyedihkan... kau selalu bergantung padaku. Kau tidak bisa mengatasi masalah mu sendiri... itu membuatku sedikit kesal padamu" ucap Adrian dengan kata-kata pedasnya, dan itu cukup membuatku terkejut. Karena ini pertama kalinya Adrian bersikap seperti ini padaku, dan lagi ini terlihat sangat serius.
"Aku sudah berusaha! tapi kau tahu apa tentang ku!" ucapku yang tidak sengaja terbawa suasana, dan itu malah membuat Adrian semakin kesal, dengan tingkah laku ku.
"Kau bahkan sudah berani berbicara seperti itu padaku. Ya, aku memang tidak tahu apa-apa tentang mu, dan lebih baik aku tidak pernah tahu sedikit pun tentang mu" ucap Adrian yang terus melontarkan perkataan pedas.
"Orang sepertiku jika berusaha untuk naik ke atas sekali pun percuma. Seolah-olah waktu tidak pernah berjalan, dan membuatku tetap terdiam di bawah tanpa bergerak ke atas, atau ke bawah sekali pun. Karena aku berada di dasar jurang yang gelap" ucapku sambil menahan tangis ku. Karena aku tak ingin berantem, atau memutus hubungan dengan orang yang sangat ku percayai.
__ADS_1
Rasanya hatiku semakin sakit melihat sahabat terbaikku melakukan hal yang tak terduga seperti ini padaku. Rasanya sangat pahit, dan sakit... aku tak bisa menyalakan semuanya kepada Adrian. Karena ku rasa aku lah yang telah membuat Adrian menjadi seperti ini, karena perkataan ku saat itu
Seharusnya aku menyadari lebih awal, karena semenjak saat itu sifat Adrian perlahan semakin berubah hari demi hari. Sikapnya menjadi semakin berbeda dengan Adrian yang ku kenal. Seharusnya saat itu aku selalu ada untuknya, menemani di sampingnya agar hatinya tidak terbuka untuk hal baru.
"Kau benar-benar menyedihkan... semakin lama ku lihat kau ternyata semakin menyedihkan. Hanya karena nasih mu seperti ini, kau mau menerima takdir mu begitu saja? kau bahkan belum mencobanya dengan sepenuhnya. Kau hanya mencoba untuk hal kecil agar kau berubah, karena itu takdir mu tidak pernah berubah" ucap Adrian yang menatap sinis padaku.
"Kau bahkan belum pernah merasakan menjadi seperti ku... kau bahkan belum pernah merasakannya sama sekali... apa yang kau tahu tentang ku!" ucapku yang merasa kesal karena di perlukan seperti itu oleh sahabat yang sangat ku percayai. Adrian yang ku kenal, kini benar-benar terasa seperti orang yang berbeda, orang yang sangat berbeda dari yang sebelumnya yang ku kenal.
"Memangnya apa yang kau tahu tentang ku? memangnya kau juga pernah merasakan menjadi diriku?" ucap Adrian yang membalas balik dengan perkataan nya yang membuatku terdiam. Aku hanya bisa terdiam begitu mendengar perkataannya, karena apa yang dikatakannya juga benar.
"Apa dengan begini caramu untuk menjadi sahabat terbaikku?" ucapku dengan tatapan kosong kepada Adrian.
"Jangan berbicara omong kosong! siapa juga yang mau berteman dengan mu! kau itu adalah... monster yang menjijikkan" ucap Adrian yang segera pergi ke kasurnya kembali untuk tidur, setelah mengatakan kata-kata terakhir nya.
Aku benar-benar sangat terkejut lagi, mendengar kata monster dari sahabat ku... benar-benar tidak bisa ku percaya. Aku tak bisa menerima ini! tidak mungkin! dia adalah sahabat ku! tidak mungkin dia mengatakan hal seburuk itu padaku!. Aku benar-benar ingin menangis karena ini terlalu menyakitkan.
Tapi... kenapa aku tak mau menangis juga? aku benar-benar tak mengerti dengan diriku. Kenapa aku tidak pernah menangis, begitu diriku menjadi hinaan. Bahkan ini adalah hak yang sangat menyakitkan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menangis, sebenarnya kenapa aku tidak bisa menangis?. Aku hanya ingin menangis agar mengetahui seperti apa wajah orang lain yang melihat ku menangis.
__ADS_1