
Lalu saat kami dipertanyakan di ruang BK, kami sangat terkejut begitu mengetahui hasilnya. Kalau tidak ada yang membela kami, dan mereka mengucapkan berbagai kebohongan untuk membela orang yang salah. Tak ada satupun orang-orang yang membela kami, tatapan mereka begitu tajam, dan membuat kami seperti orang yang hina.
Semuanya hanya membela ketiga orang itu, dan akhirnya hasilnya aku, dan Adrian lah yang di salah kan oleh petugas BK. Kami hanya mendapatkan peringatan ringan, yang apa bila hal ini terjadi untuk kedua kalinya kami harus dipertanggung jawabkan, dan wali kami akan di panggil untuk menyelesaikan masalah ini.
Aku tidak peduli dengan peringatan yang di berikan, tapi yang bermasalah bagiku saat itu adalah penghinaan!. Hanya karena tampilan ku yang seperti monster saja petugas BK itu tak mau membela ku, bahkan mendengarkan penjelasan ku saja dia langsung menutup telinga tentang hal itu. Dan... apa-apaan tatapan petugas BK itu? dia menatapku dengan hina seperti yang lainnya.
Benar-benar memuakkan!
Kring! kring! kring! akhirnya bel pulang sekolah berdering yang menandakan untuk para siswa di sekolah untuk segera pulang ke rumah nya masing-masing. Aku, dan Adrian masih merasa kesal dengan hal itu, namun saat kami hendak ingin pulang. Tiba-tiba saja seluruh anak di kelas kami mengerubungi kami dengan menatap rendah kami.
Lalu ank yang berbadan besar tadi maju ke hadapan Adrian, "Pegangi dia" ucap anak yang berbadan besar itu yang menyuruh beberapa anak untuk memegangi Adrian untuk mengunci pergerakannya agar dia tak memberontak. Beberapa anak yang kesal melihatnya hanya karena Adrian membela ku, anak-anak itu memegangi kaki, tangan Adrian.
Bugh! buak! bag! anak yang berbadan besar itu menghabisi Adrian hingga puas. Sampai-sampai seluruh tubuh Adrian lemas, dan memiliki banyak memar di tubuhnya. Aku hanya bisa melihatnya dari sini dalam diam, aku benar-benar tak bisa membantunya. Aku terus-terusan menahan air mataku agar tidak jatuh, karena itu akan membuatku lemah.
"Pegangi monster itu..." ucap anak berbadan besar itu lagi. Kemudian anak-anak yang tadi memegangi kaki, tangan Adrian segera berpindah kepada ku. Kemudian aku di perlakukan hal yang sama seperti Adrian, aku benar-benar di habisi olehnya.
"Hajar dia Arya!"
__ADS_1
"Hajar monster itu Arya!"
ucap banyak orang yang menyemangati Arya, yang merupakan anak yang berbadan besar itu bernama Arya. Orang-orang menyoraki nya untuk memberi semangat, karena mendapat dukungan dari orang-orang disekitar Arya menjadi semakin buruk. Dia menghajar ku tanpa belas kasih, terlihat sekilas senyumnya yang mengerikan di wajah Arya yang senang menghajar ku, meski aku sudah babak belur seperti ini.
"Kau tahu... monster tidak boleh berada di dunia yang damai ini. Jika ada monster, maka aku akan menjadi pahlawan yang akan menghabisi monster itu" ucap Arya kepadaku sambil tersenyum menyeringai.
Perkataannya... membuatku berpikir... kedamaian apanya? dunia yang damai apanya jika kau melakukan hal seperti ini padaku? tidak, bahkan semua orang. Monster... apakah itu sebutan yang layak untuk ku? dan dia seorang pahlawan yang harus menuntaskan monster?. Kalau dia adalah pahlawan pasti dia akan selalu menang, karena pahlawan adalah pahlawan.
Pahlawan mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang, dan mereka di sukai oleh banyak orang karena jasanya yang tak terlupakan untuk menyelamatkan banyak umat manusia. Tapi bagaimana pandangan orang-orang dengan monster? pasti mereka merasa jijik, dan takut saat melihat monster. Mereka ingin menghilangkan mimpi buruk mereka tentang monster di pikiran mereka.
Tidak mendapatkan dukungan dari siapapun, tidak di sukai oleh siapapun, itulah yang di sebut monster. Monster hanya akan di benci lalu di hajar oleh sosok yang di sebut pahlawan, dan monster pasti akan selalu kalah. Ya... seperti itulah yang terjadi padaku, dan Adrian saat ini, kami adalah monster, dan mereka adalah para pahlawan yang menuntaskan para monster seperti kami.
Kemudian aku, dan Adrian duduk di rerumputan hijau. Meskipun orang-orang melirik kami dalam perjalanan ke sini, kami tak mempedulikan mereka, dan terus berjalan ke taman untuk menenangkan diri. Tapi orang-orang yang melirik itu sangat berbeda dengan mereka yang menatap Adrian, dan yang menatapku. Lagi-lagi mereka membedakan ku, hanya Adrian, ibu, dan paman Angga saja yang tak mempedulikan wujud ku yang seperti monster ini.
"Maafkan aku Adrian... kalau saja kau tak berteman dengan ku, pasti kau tidak akan seperti ini" ucapku yang merasa menyesal karena telah berteman dengan Adrian.
"Kenapa begitu? aku melakukan itu semua karena mu, kau kan teman baikku" ucap Adrian yang terlihat sama sekali tak mempedulikannya, terlihat dari menunjukkan senyuman nya yang tulus, dan jujur padaku.
__ADS_1
"Tapi... kalau saja kau tidak berteman dengan monster sepertiku. Pasti mereka akan..." ucapku yang kemudian tiba-tiba saja Adrian memotong pembicaraan ku dengan nada kesal.
"Kenapa kau selalu berpikir buruk tentang diri mu? padahal aku tak pernah memikirkan sesuatu yang buruk padamu! tapi kau terus-terusan saja merendahkan diri mu hanya karena penampilan mu!" ucap Adrian yang merasa kesal dengan pemikiran ku.
"Tapi..."
"Diam! jangan selalu menyalahkan dirimu hanya karena hidup mu seperti ini! tapi salah kan lah mereka yang telah membuat hidup mu seperti ini!" ucap Adrian yang berterus-terang padaku, dan membuatku terharu mendengar nya. Dia... adalah orang yang sangat baik, tapi aku selalu merasa tak pantas menjadi sahabat nya.
Tidak... bahkan menjadi temannya saja tidak pantas, tidak... bahkan berada di dekatnya saja tidak pantas. Tidak ada posisi yang pantas bagiku untuk Adrian selama wujud ku bagaikan monster. Meskipun Adrian telah membela ku, dan memberikan ku nasihat yang baik padaku. Tapi aku selalu, dan terus-menerus memikirkan kekurangan ku. Aku jadi merasa bersalah karena tak menerapkan apa yang di nasihatkan oleh Adrian padaku.
"Terima kasih... karena telah menjadi sahabat ku" ucapku sambil tersenyum kecil.
"Jadi!? apakah aku sudah menjadi sahabat yang lebih baik dari pada sahabat mu yang pertama!" ucap Adrian yang terlihat senang, matanya berbinar-binar dengan mengharapkan kalau dia menjadi lebih baik dari pada sahabat ku yang sebelumnya. Sebenarnya aku merasa sedikit heran dengannya karena dia sangat menginginkan bersahabat dengan monster sepertiku.
Tapi... dia benar-benar orang yang sangat baik, "Kurasa iya... untuk saat ini kau adalah yang terbaik. Kau harus mempertahankan posisi itu, hahaha" ucapku.
"Baiklah! tentu saja! sampai kapanpun aku akan menjadi sahabat yang terbaik untukmu!" ucap Adrian dengan percaya diri sambil memberikan kepalan tangannya kepadaku untuk melakukan salam persahabatan.
__ADS_1
Kami bersenang-senang di taman itu, dan saling menceritakan hal yang lucu yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Sampai hari sudah sore, dan sebentar lagi matahari akan tenggelam. Tapi... kami masih sangat khawatir dengan bagaimana cara kami pulang agar tidak ketahuan kalau kami mendapatkan luka-luka ini.