Apakah Takdir Harus Seperti Ini?

Apakah Takdir Harus Seperti Ini?
Adrian? Kau Baik-baik Saja?


__ADS_3

Sepulang sekolah setelah kejadian yang mengerikan terjadi pada Adrian. Adrian tampak murung, dan tak mau berbicara dengan ku, wajahnya lesu dengan tatapannya yang kosong. Aku terus untuk mencobanya mengajak berbicara dengan ku. Namun ia sama sekali tak menanggapi perkataan ku.


Mungkin tidak seharusnya aku berbicara padanya di saat dia mengalami hal yang tak terduga seperti itu, dan lagi ini sungguh telah melewati batas. Perlakuan mereka semakin lama semakin parah, dan keterlaluan. Mungkin untuk saat ini aku harus menjauh dari Adrian, dan membiarkan dia sendirian untuk sementara waktu sampai keadaan kembali seperti sebelumnya.


Kemudian aku meninggalkan kamarku, dan menghampiri ibuku untuk membantu ibu yang sedang bersih-bersih rumah. Mengelap meja, perabotan dengan hati-hati karena barang-barang di sini bernilai mahal. Kalau saja kami tak sengaja merusaknya seperti saat itu, bisa-bisa kami akan di usir dari rumah sini, dan hidup di jalanan. Namun untunglah saat itu Adrian membela kami, sehingga kami masih dapat tinggal di sini.


"Nak... kenapa kalian selalu manjauhi ibu, dan pak Angga?" ucap ibuku yang tiba-tiba menghampiri ku dengan wajahnya yang serius di saat aku sedang mengelap kaca jendela.


"Tidak ada apa-apa bu..." ucapku yang selalu berbohong kepada ibu, dan paman Angga di saat di tanya seperti ini. Ini bukan yang pertama kalinya aku di tanya seperti ini, dan aku selalu saja berbohong kalau tidak ada yang terjadi pada kami.


"Jujur nak pada ibu... ibu tahu kalau kalian berbohong, dan menyembunyikan sesuatu dari ibu" ucap ibuku dengan wajahnya yang semakin serius. Aku tak berani mantap mata ataupun wajah ibu di saat berbicara, aku selalu saja memalingkan pandangan ku dari ibu. Karena jika aku melihat wajah ibu... itu akan membuatku menangis, dan mengatakan semuanya pada ibu yang sebenarnya terjadi.


"Kalau ibu tak percaya padaku... aku akan membenci ibu untuk selama-lamanya" ucapku dengan tegas yang terpaksa harus mengatakan ini. Namun sebenarnya rasanya sakit sekali begitu berkata tidak sopan seperti ini pada ibuku. Aku terus memalingkan pandangan ku dari ibu, dan tetap fokus dengan apa yang sedang ku kerjakan saat ini.

__ADS_1


Sementara itu ibu terdiam sejenak dengan tatapannya yang sedih saat melihat ku, "Mungkin ibu memang tidak tahu apa yang kau sembunyikan dari ibu. Tapi... ayah selalu tahu, dan melihat mu dari alam lain, dan mengetahui apa yang terjadi padamu sebenarnya" ucap ibuku yang kemudian pergi meninggalkan ku dengan perasaannya yang sedih.


Setelah mendengar kata-kata ibu, aku langsung menghadap ibuku, namun ibu sudah pergi sambil berjalan cepat ke kamarnya. Aku merasa kesal, dan membenci diriku, karena aku telah membuat ibu sedih. Sebenarnya aku ingin sekali menghampiri ibu saat itu, dan menjelaskan semuanya dengan terus terang dengan apa yang terjadi pada kami sebenarnya.


Namun aku takut... sangat takut kalau ibu ku akan mengkhawatirkan ku, dan membuat ibu menjadi lebih sedih saat ini. Aku tidak ingin hal itu terjadi, aku takut ibu akan kenapa-kenapa setelah mendengar cerita yang sebenarnya yang terjadi pada aku, dan Adrian. Bagaimana jika ibu terkena serangan jantung karena syok karena mendengar ceritaku. Jantung ibu menjadi lemah setelah mengalami kebakaran itu, karena terlalu banyak menghirup banyak asap yang membuat banyak kerusakan pada tubuhnya.


Mungkin juga kalau aku menceritakan hal ini pada ibu, kemungkinan besar aku, dan Adrian akan di pindahkan ke sekolah lain agar kami tak mengalami hal yang serupa dengan sekolah sebelumnya. Tapi ibu terlalu baik... ibu tak melihat kenyataannya, kenyataan tentang orang seperti monster seperti ku, dan ibu. Orang-orang itu sangat membenci monster seperti kita bu.


Meskipun kita selalu berpindah kesana-kemari selama kita adalah monster, dan sekat dengan perkumpulan para manusia. Kita akan selalu di benci, dan di jauhi, tidak ada satupun yang mempedulikan kita ataupun mengasihani kuta bu. Karena kita adalah monster yang menjijikkan di mata mereka. Percuma saja jika aku pindah sekolah jika aku bersama dengan manusia, dan aku monster.


Dunia yang dimana kita masih menjadi seorang manusia, dan bukannya monster buruk rupa seperti ini. Dunia monster, dan manusia sangat berbeda, bisa di bilang dunia mereka selalu berbanding kebalik.


Kemudian setelah aku selesai bersih-bersih, aku kembali ke kamarku. Begitu aku kembali aku melihat Adrian yang sedang merusak tas sekolah ku. Aku sangat terkejut, dan segera menghampiri Adrian, dan sangat mengkhawatirkannya dengan apa yang terjadi di bandingkan dengan tas sekolah ku itu.

__ADS_1


"Adrian! apa yang terjadi padamu?" ucapku yang menghampirinya, dan seketika Adrian terkejut begitu mendengar suaraku. Entah kenapa aku merasakan ada yang aneh dengan sikap Adrian saat ini.


"Eh!? ah!? Ryan... so-soal ini..." ucap Adrian yang terbata-bata, dan terlihat panik. Kemudian aku berlari, dan memeluknya, saat ini aku berpikir Adrian sedang stres berat karena kejadian saat di sekolah. Mungkin karena itu dia menghancurkan tas ku, karena kehilangan kendali atas dirinya yang sudah muak dengan kehidupan yang dia jalani.


"Aku tahu... pasti rasanya sangat berat, dan menyakitkan... aku selalu merasakan perasaan yang sama dengan mu. Rasanya sangat menyakitkan hingga membuatku gila, aku tahu itu..." ucapku dengan suara yang pelan kepada Adrian, kemudian aku melepaskan pelukan ku, dan memegang pundaknya dengan kedua tanganku sambil menatap nya dengan serius, dan tersenyum padanya.


"Bersabarlah Adrian... karena sebentar lagi kita akan lulus, dan merebut kekuasaan kita saat di SMP nanti. Pokoknya kita harus menjaga sosok yang di takutkan di sekolah, agar tidak ada yang meremehkan kita seperti saat ini" ucapku yang membuat Adrian tenang kembali, dan terduduk di atas kasur.


"Kau benar... aku... sangat menantikan hal itu..." ucap Adrian dengan tatapan kosong, namun sekilas aku melihat senyuman Adrian yang aneh tadi.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain game sekarang?" ucapku yang mengajak Adrian untuk bermain game agar menghilangkan stres yang dia derita saat ini, dan membuatnya ceria kembali seperti biasanya saat di rumah.


"Baiklah, kali ini aku pasti yang akan menang!" ucap Adrian yang terlihat bersemangat kembali.

__ADS_1


"Hahaha! mungkin kau harus bermain berpuluh-puluh tahun agar bisa menang melawan ku" ucapku yang sengaja membuat Adrian jengkel.


"Akan ku pastikan hari ini aku akan mengalahkan mu Ryan!" ucap Adrian yang mengerutkan dahinya dengan kesal, dan kemudian switch miliknya, dan kemudian bermain bersama ku untuk meraih kemenangan yang dia harapkan selama ini saat bertanding dengan ku.


__ADS_2