Apakah Takdir Harus Seperti Ini?

Apakah Takdir Harus Seperti Ini?
Teman Baru


__ADS_3

Semenjak saat itu, kata-kata itu memaksa ku untuk selalu mengingatnya. Kata-kata itu juga selalu membuat hatiku terluka, perasaan kesepian yang menyebalkan. Aku tidak ingin hal itu terjadi, aku sudah tak memiliki satu teman pun. Aku hanya orang yang kesepian sekarang, yang tak memiliki teman untuk bersandar, dan mendengar kan semua penderitaan ku.


Sejak saat itu juga hubungan ku, dengan Adrian berubah. Kami semakin jauh, dan jauh... tali persahabatan kami mungkin tak lama lagi akan segera putus. Adrian terus mengabaikan diriku walaupun kami berada di kamar yang sama. Bahkan saat di sekolah Adrian tidak lagi duduk sebangku dengan ku.


Adrian bertukar bangku dengan orang yang sama seperti kami, seorang pecundang yang hanya di manfaatkan oleh orang-orang berkuasa sepertinya. Adrian terlihat asik bermain bersama mereka, tawa, senyuman, tatapan bahagia itu kini telah di berikan kepada teman-teman barunya.


Sementara aku... tak bisa merasakan hal yang seperti itu lagi sekarang. Semuanya benar-benar di luar dugaan, hal yang paling ku takutkan akhirnya terjadi. Tapi meskipun begitu Adrian tidak ikut merundung ku bersama dengan teman-teman barunya itu. Dia hanya menatapku dengan angkuh, dan tak ikut untuk menggangu ku seperti teman-teman barunya.


Orang yang kini duduk di bangku Adrian sebelumnya adalah orang yang sering mereka manfaatkan. Orang ini bernama Kasta, dia adalah orang yang dimanfaatkan untuk meminta jawaban secara paksa oleh mereka. Mau tak mau dia harus memberikan jawabannya kepada orang-orang yang berkuasa itu, kalau tidak mereka akan di habisi, sama seperti apa yang mereka lakukan padaku.


"Hei... apa kau mau... berteman dengan ku?... yah... kalau tidak juga tak apa. Lagi pula tidak ada yang mau berteman dengan..." ucapku kepada Kasta yang tiba-tiba memotong pembicaraan ku.


"Aku mau... yah... sebenarnya sekarang aku sudah tak peduli lagi dengan fisikmu. Aku hanya membutuhkan seorang teman... dari sesama pecundang seperti kita" ucap Kasta yang terlihat masih sungkan dengan ku. Entah kenapa aku merasa senang begitu mendengar ucapannya, karena aku selalu berpikir tidak ada seorangpun yang mau menerima ku meski mereka juga adalah pecundang seperti ku.


"Terima kasih sudah mau berteman dengan ku... untuk ke depannya, mohon bantuannya" ucapku yang menjulurkan tanganku.


"Baiklah" ucap Kasta yang menjabat tanganku sambil tersenyum kecil.


Seperti itulah akhirnya hubungan pertemanan kami di mulai. Yah meski kami masih agak canggung untuk mengobrol satu sama lain, tapi rasanya tidak buruk juga. Ini sangat menyenangkan, mungkin ini karena masih ada orang yang mau menerima ku apa adanya. Mungkin itulah yang membuatku merasa sangat senang saat ini.

__ADS_1


Meski kami berdua tetap di anggap pecundang oleh orang-orang yang posisinya lebih tinggi dari kami. Kami tak masalah dengan hal itu, karena yang paling penting bagi kami adalah sebuah pertemanan yang menyenangkan. Lalu hari-hari berikutnya ada seorang pecundang seperti kami yang ingin berteman, dan bergabung bersama kami.


Orang yang ingin bergabung bersama kami bernama, Alan. Dia adalah pecundang yang dijadikan budak oleh geng Arya. Mulai sekarang kami menyebut mereka adalah geng Arya, sebuah perkumpulan anak-anak nakal. Alan di anggap sebagai pelayan bagi mereka, jika mereka menginginkan sesuatu maka mereka hanya perlu memanggil Alan, dan menyuruh Alan untuk membelikan sesuatu apa yang mereka inginkan. Kemudian Alan dengan sigap langsung pergi setelah mendengar perintah dari mereka, dari pada Alan harus di pukuli oleh mereka, maka Alan memilih untuk menuruti perkataan mereka saja.


Hari telah berlalu begitu cepat, dan ini adalah hari sabtu, atau hari libur. Aku, dan teman-teman baruku berniat untuk berkumpul bersama, dan bermain. Kami sudah merencanakan ini sebelum hari libur, untuk bermain bersama. Kami berkumpul di taman yang jaraknya tak jauh dari sekolah. Jadi itu adalah tempat yang adil untuk berkumpul.


"Hei teman-teman!... hah... huh... maaf aku telat" ucapku yang ngos-ngosan karena mengayuh sepeda dengan cepat dari rumah. Karena aku telat bangun, jadinya aku harus buru-buru mandi, lalu makan, dan segera pergi ke taman untuk bermain bersama mereka.


"Dasar kau ini... baiklah kalau begitu kita akan main apa?" ucap Alan yang terlihat bersemangat, dan sudah menantikan hal ini untuk bermain bersama kami.


"Haha kau ini... untunglah aku bawa bola basket di tas ku. Ayo kita main bola basket di lapangan basket yang ada di sana itu, sebelum di tempati oleh orang lain" ucap Kasta yang mengeluarkan sebuah bola basket dari tasnya, kemudian berlari ke arah lapangan bola basket.


Jika bola yang di lemparkan masuk ke dalam ring, maka akan di beri skor satu. Sebelum bermain kami melakukan suit untuk menentukan urutan siapa yang melempar bolanya lebih dulu. Alan mendapatkan posisi pertama dalam melempar bola, lalu setelahnya aku, dan terakhir Kasta.


Tiga puluh menit telah berlalu, Kasta yang merupakan pemain dengan posisi terakhir yang melempar bola malah memenangkan permainan nya. Lalu aku tetap menjadi yang kedua, dan Alan menjadi juara terakhir. Setelah bermain kami beristirahat terlebih dahulu dengan duduk di atas lapangan untuk menghilangkan penat.


"Hah... lelahnya!" keluh Alan yang membaringkan tubuhnya di lapangan.


"Hahaha! padahal kau mendapatkan posisi pertama dalam melempar, tapi malah kau yang menjadi juara terakhir" tawa Kasta yang merasa senang karena menjadi juara pertama.

__ADS_1


"Dasar curang! dari yang ku lihat seperti nya kau sudah ahli dalam bermain bola basket" ucap Alan yang tak terima.


"Benar! hampir semua bola yang kau lempar masuk ke dalam ring" sambung ku.


"Hehe... itu karena aku sering bermain dengan ayahku dulu" ucap Kasta.


"Sudahlah jangan membicarakan bola basket lagi. Lebih baik kita ganti topik pembicaraan kita saja" ucap Alan yang merasa kesal kalau kami membahas pertandingan tadi, karena dai menjadi juara terakhir.


"Hmm... oh ya Ryan, sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini sebelumnya. Tapi aku takut kau akan merasa tidak enak..." ucap Kasta yang entah kenapa mengambil topik yang berat.


"Apa itu?..."


"Soal Adrian... sebenarnya... apa yang terjadi dengan kalian?... kalau kau taj mau menceritakannya juga tak apa" ucap Kasta yang merasa tidak enak padaku karena menanyakan hal pribadi ku.


"Oh ya, kalau tidak salah kalian kan tinggal di rumah yang sama" sambung Alan tiba-tiba yang sudah mengetahui hal ini karena sebelumnya aku, dan Adrian selalu berangkat bareng, dan tanpa sengaja saat itu Alan melihat kami keluar dari rumah yang sama.


"Kau benar... tapi untuk saat ini aku pun masih merasa bingung untuk mengatakannya" ucapku yang merasa tertekan dengan pembicaraan ini, karena bagiku pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sangat sensitif untuk ku.


"Maaf sudah menanyakan hal yang membuatmu tidak enak. Baiklah kalau begitu bagaimana kita memainkan bola basket sekali lagi" ucap Kasta yang segera mencoba untuk mengubah suasana dengan memaksakan dirinya yang terlihat kelelahan.

__ADS_1


"Oh tidak lagi..." ucap Alan yang sudah tepar. Kemudian setelahnya kami melanjutkan permainan bola basketnya lagi setelah beristirahat beberapa menit lagi. Kami meminta kepada Kasta untuk mengajarkan kami bagaimana cara memainkan bola basket dengan benar. Karena aku, dan Alan sudah bertekad untuk mengalahkan Kasta suatu saat nanti di pertandingan berikutnya.


__ADS_2