
Mulai dari biaya sekolah ku, dan kehidupan ku di biayai oleh pria itu. Namun sebagai gantinya adalah kami harus menjaga, dan membersihkan rumah ini, lalu tak lupa juga untuk menyiapkan makanan nya. Pria itu bernama, "Angga" aku memanggil pria itu dengan sebutan paman.
Aku sangat senang sekali kalau besok akhirnya aku akan masuk di sekolah yang ku impikan, dan aku tak menyangka kalau anak paman Angga juga akan di masukkan ke sekolah dasar yang sama dengan ku. Anak paman Angga memiliki sikap yang baik terhadap kami, tidak seperti ayahnya.
Ayahnya memiliki sifat, dan karateristik yang sangat berbeda dengan anaknya. Ayahnya terlihat sangat misterius, dan aura yang dirasakan ketika aku dekat dengannya, entah kenapa terasa sangat serius. Meskipun begitu terkadang dia menunjukkan belas kasihnya kepada kami, tapi aku, dan ibuku tak pernah sekalipun melihat paman Angga tersenyum.
Wajahnya sangat datar, dan dingin. Kemudian baru-baru ini aku diberitahu kan soal istrinya yang ternyata sudah lama meninggal setelah lahirnya Adrian, putra pertamanya. Aku diberitahu kan soal ini lewat Adrian, karena aku penasaran dimana ibu Adrian, makannya aku bertanya kepadanya.
"Besok kita akan pergi sekolah... apa kau merasa gugup?" ucap Adrian yang terlihat sangat gugup karena besok adalah hari pertama nya mulai kembali masuk sekolah, dan bersosialisasi terhadap teman-teman kelasnya nanti.
"Tidak... lagi pula untuk apa kita merasa gugup? hal itu hanya akan menghambat kehidupan kita" ucapku kepada Adrian yang membuat Adrian terbengong mendengar kata-kata ku.
"Ba-baiklah... karena kita sekelas, apa kau bisa duduk sebangku dengan ku? aku masih merasa gugup jika bertemu dengan orang lain" ucap Adrian dengan matanya yang berbinar-binar sekaligus memohon padaku untuk duduk di bangku yang sama saat di kelas nanti.
"Baiklah... kitakan sudah menjadi sahabat mulai sekarang!" ucapku dengan menunjukkan senyuman yang lebar kepada Adrian agar dia mulai percaya diri pada dirinya sendiri, dan menghilangkan rasa gugup itu.
"Tapi bukankah kau sudah memiliki sahabat? kau pernah menceritakan hal itu padaku" ucap Adrian yang merasa tidak senang karena aku memiliki sahabat lain selainnya, dan lagi orang yang di maksud itu sudah berteman dengan ku saat aku masih TK.
Benar apa yang dikatakan Adrian... aku memiliki satu sahabat saat aku masih bersekolah di TK. Namanya kalau tidak salah, Elaina, dia adalah seorang gadis imut yang selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi. Awalnya aku tak mempedulikan dia, tapi dia selalu menempel dengan ku, hingga aku terpaksa menerima nya.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia menjadi sahabat ku untuk pertama kalinya, sebelum Adrian. Namun semenjak insiden terjadinya kebakaran yang terjadi di rumahku. Kami sudah tidak saling berhubungan lagi, semenjak hari itu aku juga belum pernah berjumpa lagi dengannya. Namun kira-kira... apakah dia masih mengingat ku? sepertinya tidak... karena wajahku, dan tubuh ku sudah seperti monster seperti ini.
Dan kalau pun dia mengingat ku, aku yakin sekali dia akan pura-pura tidak mengenali ku, dan menjauhi ku untuk selama-lamanya. Karena siapa juga yang mau berteman dengan monster sepertiku...
"Aku... ngantuk sekali... aku mau tidur dulu ya..." ucap Adrian yang naik ke kasur miliknya, dan segera tertidur dengan lelap. Aku sangat terkejut sekali kalau tiba-tiba dia berkata, "Aku" padahal tadi aku sedang merenungkan segala hal yang mungkin terjadi padaku.
Aku, dan Adrian tidur di kamar yang sama, tapi berbeda kasur. Meski berbeda kasur, paman Angga tak pilih kasih dengan ku, dia juga memberikan tempat tidur yang sama seperti Adrian anaknya. Kemudian akhirnya aku juga ikut untuk tidur... karena besok adalah hari pertama ku bersekolah, aku benar-benar... menantikan hal itu.
Besok pagi telah tiba... sinar matahari yang cerah, dan udara yang segar di pagi hari masuk melalui celah-celah jendela yang besar. Aku segera bangun dari tidur ku untuk bersiap-siap bersekolah, namun saat aku pergi keluar kamar... aku melihat ibuku yang sedang kelelahan mengepel lantai rumah sebesar ini.
Aku merasa kasihan pada ibu, dan akhirnya aku menghampiri ibu untuk membantu ibu, "Ibu biar aku ban..." namun tiba-tiba saja paman Angga datang, dan melarang ku untuk membantu ibuku dengan wajah yang serius. Melihatnya membuatku ketakutan, dan berlindung di punggung ibuku.
"Be-benar nak... kamu harus pergi sekolah, kamu tidak boleh bolos sekolah hanya karena membantu ibu. Pak Angga kan sudah membiayai sekolah mu... dan lagi itu adalah sekolah yang kamu impikan bukan?" ucap ibuku yang mencoba menyemangati ju meski aku tahu ibu sedang sangat lelah.
"Ba-baiklah ibu..." ucapku yang kemudian meninggalkan ibu, lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelahnya aku mempersiapkan segalanya yang harus di siapkan untuk bersekolah, mulai dari buku, pensil, pulpen, penghapus, dan lain-lain.
Setelahnya aku selesai bersiap-siap, paman Angga sudah menunggu ku di mobil mewah nya, begitu juga dengan Adrian yang sudah tiba lebih dulu dariku. Aku menaiki mobil itu dengan perasaan tegang, karena aku takut paman Angga masih marah padaku soal tadi.
Namun selama perjalanan ke sekolah berlangsung, paman Angga malah tak mengatakan satu katapun padaku, dan itu membuatku lega. Sepertinya dia orang yang cekatan, dan tidak mempedulikan hal yang sepele, karena itu dia tak membicarakan hal tadi selama perjalanan.
__ADS_1
Kemudian aku, dan Adrian segera turun dari mobil, dan paman Angga segera pergi ke kantornya untuk bekerja, "Ryan... a-aku gugup sekali... ke-kenapa banyak orang disini?" ucap Adrian yang merasa gugup, dan sedang bersembunyi di balik badanku.
"Tenanglah... lihat aku, aku baik-baik saja! kau pasti bisa seperti ku, Adrian" ucapku untuk meyakinkan Adrian, dan mengalahkan kelemahannya yaitu rasa gugup. Namun... tiba-tiba saja ada suara yang membuat jantung berdegup begitu kencang, dan membuatnya terasa sakit.
"Lihat anak itu menjijikan sekali"
"Ada apa dengan tubuh orang itu?"
"Kenapa anak di belakangnya berani sekali mendekati anak mengerikan itu?"
"Apa dia benar manusia?"
"Kenapa dia terlihat begitu buruk?"
"Melihat anak itu membuatku mual, aku benar-benar ingin muntah"
Semuanya... aku mendengar setiap ucapan yang mereka nilai setelah melihat wujud ku. Mereka semua... menilai diriku dengan apa yang mereka lihat. Kenapa mereka langsung menilai diriku setelah mereka melihat nya, seharusnya mereka merasakan nya lebih dulu baru menilai seseorang.
Karena itu terasa sangat menyakitkan, dan menyedihkan. Perkataan buruk itu terus menghantui pikiran ku, dan itu membuatku menjadi takut untuk sekolah. Tubuhku di penuhi dengan keringat, dan wajahku pucat. Aku... benar-benar takut sekali disini... sekolah favorit apanya? bukankah ini neraka?.
__ADS_1
Ini benar-benar tidak seperti apa yang kuinginkan, padahal aku selalu berharap kalau kehidupan sekolah ku di sekolah yang kuinginkan akan terasa menyenangkan. Ah... benar juga... itukan harapan diriku yang dulu, bukan harapan diriku yang sudah menjadi monster seperti ini.