Apakah Takdir Harus Seperti Ini?

Apakah Takdir Harus Seperti Ini?
Adrian?...


__ADS_3

Hari esok pun telah tiba, hari yang kami tunggu-tunggu adalah hari Sabtu, dan Minggu. Karena pada hari itu kami libur sekolah, dan bisa menikmati waktu yang menyenangkan. Selama dua hari setiap Minggu itulah yang membuat kami bahagia. Kami bisa bermain dengan senang hati tanpa gangguan dari teman-teman sekelas kami yang menindas kami.


Hari ini aku mengajak Adrian yang sedang bermalas-malasan di kamarnya untuk pergi ke sebuah sungai. Awalnya aku tak tahu kalau ada sebuah sungai di dekat sini, tapi aku menemukan sebuah sungai itu dari internet lewat google maps. Aku mengajak Adrian dengan bertujuan untuk meningkatkan persahabatan kami, dan membuat kenangan yang indah sebagai sahabat.


"Apa masih jauh Ryan? aku lelah sekali... huh, kenapa kita masuk ke dalam hutan seperti ini" keluh kesah Adrian sambil mengayuh sepedanya dengan lemas.


"Sebentar lagi kita akan sampai... ah!? sinyalnya hilang!?" ucapku yang terkejut begitu sinyal nya hilang karena kami sudah terlalu jauh dari perkotaan. Tapi untunglah aku masih mengingat arah jalan menuju sungai itu walau samar samar.


"Apa!? lalu kita harus kemana?" ucap Adrian yang merasa putus asa karena dia sudah bersusah payah mengayuh sepedanya dari rumahnya sampai sini.


"Tenang saja! ikuti aku!" ucapku yang menaikan kecepatan mengayuh sepeda ku, selama aku masih bisa mengingat arah jalan yang ada pada google maps terakhir aku melihatnya. Kami terus mengayuh sepada kami untuk menuju tempat tujuan kami.


Meski sangat melelahkan tapi aku tak kehilangan semangat ku. Semangat ku sudah membara di dalam jiwaku, aku terus mengayuh sepeda ku sambil berteriak keras. Sampai akhirnya aku bisa menghirup udara yang kesegarannya berbeda, dan merasakan udara yang menenangkan. Kemudian aku langsung pergi ke arah tempat itu berada, dan akhirnya kami sampai di sebuah sungai.


Sungainya sangat bersih, dan terjaga... ternyata di sungai ini juga ada beberapa orang, dan orang-orang itu datang ke sungai ini untuk mengambil ikan. Udaranya yang sejuk, dengan pemandangannya yang indah, membuat suasana di sini begitu tenang, dan damai. Kemudian aku meletakkan sepeda ku di dekat pohon segar, dan segera menuruni rerumputan.


Adrian menyusul ku dari belakang, dan begitu dia melihat sungai ini matanya langsung berbinar-binar. Seolah-olah semua rasa penat yang ia dapat, akhirnya dapat di balas dengan pemandangan yang super indah ini. Adrian pun langsung meletakkan sepedanya, dan turun menghampiri ku.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya aku melihat sebuah sungai! dan ternyata sungai lebih indah jika di lihat langsung!" ucap Adrian dengan mulutnya yang menganga, dan kegirangan sendiri.


"Aku juga..." ucapku sambil melihat sekitar untuk mencari tempat yang bagus untuk beristirahat di sini.


"Ngomong-ngomong, apa yang kau bawa di tas itu?" ucap Adrian yang penasaran selama perjalanan karena hanya aku yang membawa sebuah tas di punggung ku.


"Oh, ini... lihat saja nanti, ayo kita ke sana!" ucapku yang mengajak Adrian menyusuri tepi sungai setelah melihat tempat, dan pemandu yang bagus untuk bersantai. Kemudian kami akhirnya berhenti di sebuah pohon besar yang ada di dekat sungai, dan aku langsung mengeluarkan tikar yang ku bawa di tas ku, dan menggelarnya.


"Kau sudah menyiapkan semua ini?" ucap Adrian yang entah kenapa dia terlihat sedih, dan merasa sungkan dengan ku.


Kemudian dengan polosnya aku tersenyum, dan berkata, "Tentu saja! kau kan sahabat terbaik ku di dunia ini!" ucapku sambil tersenyum lebar, dan hal itu membuat Adrian tampak sedih. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai di murung seperti itu.


"Ryan..." ucap Adrian tiba-tiba yang entah kenapa membuat suasana pembicaraan ini menjelaskan sedikit tidak enak.


"Ya?"


"Tidak jadi... seharusnya kau bawa pancingan kalau tahu kita akan ke sini! mungkin kita bisa mendapatkan banyak ikan segar disini" ucap Adrian yang memancarkan senyuman nya kembali setelah murung.

__ADS_1


"Hahaha! benar juga, tapi kita kan tidak punya pancingan" ucapku sambil tertawa terbahak-bahak.


"Oh ya, ngomong-ngomong apa kau sudah melupakan sahabat mu waktu kau masih TK?" ucap Adrian yang mendadak menanyakan hal itu, dan membuatku jadi tidak enak mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku harus berkata jujur pada sahabat ku ini, aku tidak ingin berbohong, dan membuatnya kecewa. Karena aku takut aku akan sendirian, dan tak memiliki siapapun saat di luar.


"Hmm... iya... mau bagaimana pun juga dia sudah ku akui sebagai sahabat ku. Begitu juga dengan mu, ku harap kau tidak kecewa" ucapku sambil menurunkan pandangan ku, karena takut membuat Adrian kecewa.


"Ternyata kau orang yang setia kawan ya... aku sedikit iri padamu... oh ya, ngomong-ngomong siapa nama sahabat mu itu? aku lupa" ucap Adrian yang tersenyum kecil.


"Nina..."


"Nina ya... kalau dia sampai kau anggap sebagai sahabat... berarti dia adalah orang yang sangat penting bagimu" ucap Adrian yang membuat suasana perbincangan ini menjadi tidak enak, dan sungkan. Kemudian setelahnya aku mencoba untuk mengubah topik, agar pembicaraan ini menjadi lebih enak, dan tidak tegang seperti tadi.


"Ah! aku sudah tidak sabar ingin cepat lulus sekolah, dan masuk SMP!" ucapku sambil mengangkat kedua tanganku ke atas.


"... ya... aku juga... sudah tidak sabar" ucap Adrian dengan terbata-bata, dan setelah mengatakan hal itu dia langsung membuang muka untuk sementara waktu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian yang ada pada pikiran nya saat ini? sepertinya dia sedang dalam masalah.


Aku tak bisa membantunya karena dia tak mau menceritakan masalah nya itu. Setiap kali aku bertanya tentang masalah yang ia rasakan, dia selalu berkata kalau dia baik-baik saja. Namun sebenarnya aku merasa sedikit sedih, dan kecewa karena dia tak mau menceritakan masalah nya padaku. Adrian yang ku kenal... sedikit berbeda dari yang biasanya.

__ADS_1


Biasanya setiap dia mengalami masalah, dia selalu bercerita padaku tentang masalah yang harus ia hadapi itu. Namun entah kenapa dia akhir-akhir ini setelah dia mendapatkan perundungan yang sangat parah saat itu. Dia mulai menyembunyikan masalahnya dariku, entah karena apa dia menyembunyikan masalahnya itu dari.


Mungkin dia menyembunyikan masalahnya itu dariku karena dia tak mau aku terlibat, dan khawatir padanya. Meskipun aku sudah berulang kali untuk bertanya tentang masalah nya, lagi-lagi dia menjawab hal yang sama. Semoga dia baik-baik saja, dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat.


__ADS_2