Apakah Takdir Harus Seperti Ini?

Apakah Takdir Harus Seperti Ini?
Kau Aneh Sekali...


__ADS_3

Setelah aku pulang bermain basket bersama teman-teman ku Kasta, dan Alan, aku berpamitan dengan teman-teman baru kau untuk segera pulang ke rumah. Karena hari sudah sore, aku takut ibuku akan mengkhawatirkan ku karena pergi terlalu lama sejak tadi pagi. Namun begitu aku sampai di rumah, aku melihat Adrian berdiri di depan pintu rumah sambil menatapku tajam.


Karena Adrian sudah tak mempedulikan ku lagi, dan tak mau lagi berteman dengan ku. Aku tetap berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa berbicara, atau pun meliriknya. Aku sudah tak mau lagi membuat dirinya terganggu oleh keberadaan ku. Tapi meski begitu aku masih menganggap dia sebagai sahabat ku, meski sifat yang di tujukan kepada ku telah berubah total.


"Habis dari mana kau?" ucap Adrian tiba-tiba yang masih berdiri di depan pintu begitu aku sudah berjalan melewatinya.


"Aku hanya bermain bersama seseorang yang ku sebut sebagai teman" ucapku yang berusaha untuk menyindirnya dengan kata-kata yang ku ucapkan.


"Teman? jadi dia bukan sahabat mu kan?" ucap Adrian yang terus berbicara tanpa menghadap ku yang berada di belakangnya.


"Iya, dia hanya temanku... aku sangat beruntung kalau ada orang lain yang masih mau menerima apapun kekurangan ku. Meski aku adalah monster sekali pun" ucapku yang terus menyindirnya, dan lalu aku pergi meninggalkannya yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah.


Kemudian setelahnya kami tak berbicara lagi untuk sementara waktu. Karena aku habis berolahraga, dan tubuhku lengket karena penuh dengan keringat saat bermain bola basket bersama teman-teman ku di teriknya matahari. Aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.

__ADS_1


Dan setelahnya aku pergi makan, ibuku sudah menyiapkan berbagai hidangan yang lezat di meja makan. Baunya sangat harum, tidak salah lagi ini adalah masakan ibuku yang terbaik. Saat aku sedang makan, ibuku pergi menghampiri ku, dan duduk di sebelah ku yang sedang asik makan.


"Ryan... ibu mau bertanya padamu... apa hubungan mu dengan Adrian sedang kurang baik?" ucap ibuku yang tiba-tiba menanyakan hal yang sensitif bagiku. Karena itu aku tersedak makanan yang ku makan.


"Uhuk! uhuk!... apa maksud ibu? hubungan ku dengan Adrian baik-baik saja kok" ucapku yang mencoba untuk membohongi ibu, dan sambil menyantap makanan di piring ku dengan lahap.


"Tapi... kenapa akhir-akhir ini kalian jadi jarang bermain, atau mengobrol. Dan kalian... terlihat sedang marah" ucap ibuku yang mengkhawatirkan hubungan pertemanan ku dengan Adrian yang sedari kecil. Ibu juga telah menganggap Adrian sebagai anaknya sendiri sejak saat itu, mungkin karena itulah ibu menanyakan hal ini sambil memasang wajah sedih, dan khawatir.


"Sudah ku bilang ibu, hubungan kami baik-baik saja kok. Ibu tak perlu khawatir, Adrian menjadi seperti itu karena dia sedang fokus untuk belajar. Karena sebentar lagi kan adalah ulangan akhir semester, dan juga kami akan segera lulus" ucapku yang terus membohongi ibuku, sebenarnya aku tak tega untuk membohongi ibuku seperti ini.


"Baiklah kalau begitu... makanlah yang banyak, masih ada yang belum ibu bereskan" ucap ibuku yang beranjak dari meja makan, dan segera pergi meninggalkan ku setelah mengusap-usap kepalaku. Setelah itu aku segera menyelesaikan sarapan ku, dan segera pergi untuk membantu ibuku yang masih sedang membereskan sesuatu di rumah ini.


Namun begitu aku turun dari kursi untuk meninggalkan meja makan. Aku terkejut begitu melihat kalai Adrian sudah berada di belakang ku sedari tadi sambil menatap ku dengan tajam. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, kenapa dia terus menghalangi jalan ku, dengan tatapan yang aneh itu. Sebenarnya apa maunya? aku benar-benar tak mengerti dengan yang dia lakukan padaku hari ini.

__ADS_1


"Kenapa kau masih saja berbohong pada ibumu? kenapa kau tidak menceritakan saja semuanya sekarang?" ucap Adrian yang mencoba untuk menghalangi ku untuk pergi dari meja makan untuk menaruh piring makan ku ke wastafel.


"Biarkan aku lewat... tidak ada gunanya menjawab pertanyaan ku" ucapku yang merasa sedikit kesal karena Adrian terus menghalangi ku untuk lewat.


"Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku akan membiarkan mu untuk lewat" ucap Adrian dengan serius padaku. Mau tak mau sepertinya aku harus menjawab pertanyaan nya itu. Meskipun dia sudah tahu alasannya, aku akan menjawab hal yang sama padanya.


"Seperti biasa... aku tak ingin ibuku khawatir, dan jatuh sakit" jawabku, yang kemudian setelahnya aku berjalan untuk melewatinya. Namun Adrian tak menepati perkataannya, dia masih saja menghalangi ku untuk lewat. Aku benar-benar kesal di buatnya, wajahnya masih saja datar saat menatap ku.


"Apa hanya itu saja alasan mu? bukankah akan lebih baik jika kau jujur, dan mengatakan yang sebenarnya" ucap Adrian yang sepertinya masih belum puas dengan jawaban yang ku berikan kepadanya.


"Lebih baik ya? kau tahu apa tentang masa depan? jika kau tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya meski satu detik pun. Lebih baik kau diam, dan jangan sok tahu, terkadang kita harus mengambil jalan kebohongan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk bersama" ucapku sambil menggigit gigiku karena kesal dengan ucapan Adrian barusan.


Setelah mendengar kata-kata itu Adrian langsung terdiam, dan membiarkan ku untuk lewat. Lagi-lagi dia masih saja bersikap aneh begitu aku meninggalkannya. Dia hanya diam saja mematung di tempat terakhir dia berdiri begitu aku aku selesai berbicara dengannya. Dia benar-benar orang yang aneh sekali, sebenarnya ada apa denganmu Adrian?. Aku pura-pura tak mempedulikannya, dan segera masuk ke kamarku untuk beristirahat, dan melepaskan penat.

__ADS_1


Namun wajah Adrian tadi saat aku mengatakan hal itu di akhir pembicaraan. Dia terlihat aneh... lebih tepatnya... tiba-tiba saja dia memasang wajah sedih. Namun sepertinya aku salah liat karena setelahnya aku segera berjalan, dan meninggalkannya di tempat. Padahal dia sudah memiliki kehidupan yang dia inginkan, tapi kenapa dia masih saja mengganggu ku.


Apakah itu adalah sifat asli orang-orang yang jahat? karena mereka masih mencari kesenangan lain meskipun mereka sudah mendapatkan kesenangannya masing-masing. Seperti geng Arya yang mencari kesenangan lain dengan cara memperbudak, dan merundung kami di sekolah. Mereka yang bernama orang jahat, tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka akan terus mencari kesenangan yang mereka inginkan tanpa peduli dengan yang lain.


__ADS_2