
Hari demi hari... Minggu demi Minggu... bulan demi bulan... tahun demi tahun... kehidupan yang menyeramkan di sekolah terus menyelimuti kami semenjak hari itu. Membuat jiwa kami menjerit-jerit, dan menangis untuk meminta keluar dari kehidupan yang menyeramkan selama di sekolah.
Sejak hari itu aku, dan Adrian selalu saja di tindas, dan perlakuan mereka terhadap kami semakin buruk. Mereka dapat menyembunyikan perlakuan mereka di depan guru, dan kalau pun hal itu ketahuan oleh guru. Mereka hanya perlu bekerja sama, dan memikirkan bagaimana caranya keluar dari masalah itu, dan lagi-lagi mereka yang akan menang, dan guru itu tak sekali pun mau mendengarkan perkataan kami.
Karena hal ini juga aku, dan Adrian menjadi jauh dari orang tua kami sendiri. Agar mereka tak khawatir dengan kami yang selalu di tindas, dan selalu meninggalkan bekas luka begitu setiap kami pulang sekolah. Meskipun begitu rasa khawatirnya orang tua masih di berikan kepada kami sebagai anak mereka.
Kami selalu di tindas sangat parah, seperti di ludahi, di pukul, di siram air kotor dari genangan air yang ada di tong sampah. Begitu buruk perlakuan mereka sampai membuat sahabat sejati ku terus menangis. Aku hanya bisa menghibur nya untuk membuatnya tenang. Karena sebentar lagi kami akan keluar dari sekolah yang mengerikan ini, saat ini kami sudah memasuki kelas enam SD.
"Huwaaaa! hiks! kenapa harus kita!? huhu!" tangis Adrian di kamar mandi yang sepi karena sudah dari tadi bel waktu pelajaran sudah berbunyi yang menandakan para siswa sekolah untuk kembali ke kelasnya, dan memulai kembali pembelajaran mereka.
"Tenanglah Adrian... aku tahu apa yang kau rasakan karena kita sama-sama merasakannya. Meski begitu kita masih mendapatkan kehidupan yang damai saat di luar sekolah bukan?" ucapku yang mencoba untuk menghibur Adrian agar membuat dia tenang, dan tak menangis kembali.
"Kau benar... seharusnya aku mencontoh dirimu yang tidak pernah menangis sekali pun" ucap Adrian yang mulai tenang, dan mengusap air matanya yang mengalir dengan deras.
"Sebentar lagi kan kita akan lulus dari sekolah ini, dan kita harus membuat kehidupan yang lebih baik di SMP nanti. Kita harus merebut terlebih dahulu kebahagiaan orang lain, demi kebahagiaan kita saat di SMP nanti" ucapku sambil tersenyum kepada Adrian.
"Kau benar lagi... aku pasti akan merebut nya, agar aku bisa terlepas dari penderitaan di sekolah. Aku akan merebut kebahagiaan di sekolah saat di SMP nanti, hahaha kau benar Ryan" tawa Adrian yang sepertinya hatinya sudah tenang kembali, dan syukurlah itu membuat hatiku menjadi lega kembali setelah melihat tawa, dan senyuman Adrian yang seperti saat dia berada di luar sekolah.
Kemudian setelahnya kami kembali ke kelas, dan karena kami kembali terlambat alhasil kami di hukum untuk belajar di luar kelas. Meskipun begitu hal ini membuat hati kami jauh lebih tenang jika dibandingkan belajar di dalam kelas bersama dengan orang-orang yang membenci kami, dengan suasana yang menyakitkan.
__ADS_1
Akhirnya setelah pembelajaran terakhir berakhir, sudah waktunya waktu yang kami tunggu-tunggu tiba. Yaitu pulang sekolah, tapi... seperti biasanya waktu pulang sekolah kami sangat tidak baik, dan tidak selalu dengan apa yang kami pikirkan.
"Kalian berdua jangan pulang dulu..." ucap Arya yang menghadang kami keluar pintu, dan teman-teman Arya segera menutup pintu kelas, dan gorden jendela dengan rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahui apa yang akan mereka lakukan dengan niat buruk mereka disini.
"Lihat wajah mereka hahaha! hanya seperti ini saja mereka sudah ketakutan, Haha!" tawa Roy yang merupakan salah satu komplotan anak-anak nakal bersama dengan Arya.
"Apa yang akan kalian lakukan pada kami hari ini?" ucapku yang memberanikan diri untuk berbicara, meskipun begitu aku masih takut kepada mereka, dan menurunkan pandangan ku di depan mereka.
"Oh... kau cepat tanggap ya, tentu saja kami akan bersenang-senang dengan kalian, haha" ucap Arya yang tersenyum menyeringai, dan itu membuat kami merinding ketakutan. Karena dia adalah ketua dari semua anak nakal yang ada, dan dia yang paling parah jika sedang merundung kami.
Kemudian Roy membawakan sebuah tepung kepada kami, dan dia membuka dua kantung tepung itu, dan di sebarkan ke tubuh kami melalui kepala setiap satu kantung tepung. Hingga akhirnya rambut, badan, dan pakaian kami berubah menjadi putih karena tepung yang di siramkan oleh Roy. Dia tersenyum, dan tertawa jahat kepada kami, aku melihat wajah Adrian yang sebentar lagi akan menangis.
"Loh... ternyata anak cengeng ini masih belum menangis? padahal biasanya dia langsung menangis begitu kita jahili hahaha!" tawa Yuda yang juga adalah salah-satu orang yang ikut-ikutan menindas kami karena dia merasa senang begitu menindas kami.
"Kau benar Yuda... entah kenapa ini terasa lebih menjengkelkan, dari pada Ryan yang tak pernah menangis" sambung Roy yang ikut merasa kesal karena melihat Adrian yang selalu menangis kini tidak menangis seperti biasanya.
"Oke... baiklah masakan yang sudah ku buat sudah jadi, siapa yang akan memakannya pertama?" ucap Arya yang dari tadi sedang menciptakan makanan dari berbagai sampah yang menjijikkan. Dia memasukkan sebuah tisu kotor ke dalam mangkuk yang berisi air ludah, dan memberinya saus tomat, dan cuka. Tidak hanya itu saja, dia juga memberikan ingus dari hidungnya, yang menjijikkan itu.
"Eh!? ini terlalu gila! wahaha kau semakin gila saja Arya, haha!" tawa Roy dengan terbahak-bahak yang melihat Arya yang semakin paras menindas kami.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya kau menciptakan sesuatu yang mengerikan hahaha! kau mendapatkan ide itu dari mana Haha!" tawa Yuda dengan terbahak-bahak.
"Entahlah tiba-tiba saja aku terpikirkan soal ini, soal menjadi penindas yang hebat" ucap Arya dengan perkataan nya yang tak masuk akal, namun itu membuat yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Sementara itu bagi kami adalah sebuah penghinaan yang kejam.
"Ini... makanlah sup buatan ku ini, Adrian!" ucap Arya sambil tersenyum seringai, dan memberikan mangkuk yang menjijikkan itu kepada Adrian untuk dia minum. Kemudian tiba-tiba saja Adrian menolak sembari menyenggol mangkuk itu hingga isi mangkuk itu tertumpah ke lantai, dan hal itu tentu saja membuat Arya kesal.
"Yah... mangkuknya sudah tumpah, sayang sekali padahal aku ingin melihat seseorang meminum nya" ucap Yuda yang merasa sedih.
"Tenang saja, pegangi dia. Kita akan memaksa dia untuk menjilatinya sampai habis" ucap Arya dengan perkataan kejamnya yang membuat Adrian merinding ketakutan. Kemudian orang-orang itu memegangi Adrian agar tidak memberontak. Adrian berteriak-teriak memohon maaf sambil mencoba lepas dari masalah yang mengenai dirinya.
"Tidak! kumohon hentikan ini! maafkan aku! kumohon!" ucap Adrian yang sebentar lagi akan menangis , dan dia terus meronta-ronta.
"Makanlah ini! hahaha! bagaimana? sup buatan ku enak bukan? hahahaha!" tawa Arya yang mendorong kepala Adrian ke lantai agar Adrian meminum sup buatan nya yang menjijikan. Aku hanya bisa diam saja melihat Adrian di perlakukan begitu buruk oleh mereka, aku yang melihatnya saja merasa muak, dan mau muntah.
"Ohok ohok uakh.... hiks... huhu" tangis Adrian dengan rasa mual, sambil muntah-muntah. Adrian akhirnya mengeluarkan air matanya, dan itu membuat senyuman mereka kembali terukir di wajah mereka. Mereka terus memaksa Adrian untuk menghabiskan sup menjijikan yang tumpang itu sampai habis bersama dengan muntah yang dia keluarkan dari mulutnya.
Benar-benar sesuatu yang tak tertahankan, aku merasa kesal pada diriku. Aku selalu menyalahkan diriku begitu melihat Adrian di tindas seperti ini, bahkan dia selalu di tindas lebih buruk dari pada aku. Ini semua karena Adrian yang membela ku saat itu, karena itulah mereka memperlakukan Adrian lebih parah dari pada aku yang merupakan seorang monster.
Ini semua memang benar-benar kesalahan ku, kalau saja seandainya aku tak membuat Adrian berteman dengan ku. Pasti kehidupan nya akan lebih menyenangkan saat di sekolah. Meskipun Adrian harus menindas ku karena berkumpul dengan orang-orang seperti mereka, aku rela. Karena ini semua adalah salah ku yang telah membuat Adrian terseret ke dalam neraka yang sama dengan ku.
__ADS_1
Ini semua... salahku