Arkabian

Arkabian
10. Arka Dan Perasaannya?


__ADS_3

"Kayaknya hari ini bunga lagi bermekaran ya?" Ucap Luna saat berada dikelas


Pasalnya saat Luna bertemu Nara, cewek itu senyum-senyum gak jelas sepanjang koridor. Dan sekarang Nara duduk melamun tidak mendengar penjelasannya Bu Lilis guru kimia.


Baru pertama ini Luna melihat jika Nara benar-benar terlihat sebahagia ini. Cewek itu mencoret-coret buku tulisnya dan matanya menerawang asal kedepan.


"Kianara," panggil Luna dengan lirih agar Bu Lilis tidak mendengar. Bahaya jika dirinya mendapatkan hukuman berdiri di tiang Bendera.


"Akhirnya gue sama dia bisa bersatu, Luna." Itulah kata pertama yang Nara ucapkan.


"Dia siapa?"


Nara belakang ini memang sering menceritakan cowok yang dia sukai, tetapi Luna sama sekali tidak tahu siapa. Nara bercerita tidak menyebutkan nama cowok yang disukainya.


Nara menceritakan semuanya sambil berbisik-bisik, dia tidak mau semua orang tahu berita ini. Bukan saat ini, suatu saat pasti Nara akan mempublikasikan nya. Saking terkejutnya dan tidak percaya Luna kelepasan.


"APA? LO SERIUS?"


Sontak seisi kelas memusatkan perhatiannya pada Luna yang tiba-tiba berteriak, apalagi sekarang Bu Lilis juga menatapnya garang.


"Ada apa Luna?" Tanya Bu Lilis


"Eh nggak ada apa-apa Bu, it-u anu."


"Kamu tidak memperhatikan Ibu ya?" Nampaknya Bu Lilis hampir mengeluarkan tanduknya, mukanya merah menahan emosi.


"Dengar kok Bu, Luna cuma—"


"Keluar sekarang! Hormat tiang bendera sampai istirahat!!"


Semua meringis mendengar itu, biasanya seseorang dihukum sampai pelajaran itu berakhir, tetapi ini sampai istirahat. Nara merasa bersalah andaikan dirinya menceritakan semuanya sewaktu istirahat ini pasti tidak akan terjadi.


Nara itu tipe teman yang setia yang Luna punya, saat Nara menawarkan dirinya untuk menemani Luna dihukum, Luna dengan tegas menolaknya. Biarkan saja Luna menanggung ini sendiri, ia juga salah karena tidak bisa mengendalikan diri di kelas dan situasi yang tepat.


''Baik Bu.''


Luna pergi keluar kelas sendiri, Bu Lilis beralih ke meja pojok depan sebelah kanan.


"Kamu anak Baru?"


"Iya Bu, Nama saya Anisa Ratu Mayla. Ibu bisa panggil saya Nisa.'' jawabnya


''Kenapa kamu duduk dengan Alga? Pindah sama Nara sekarang." Pasalnya hanya Nisa yang duduk dengan lawan jenis di kelas ini. Bu Lilis hanya tidak mau hal-hal yang diluar pikirannya terjadi.


"Alga pacar saya Bu," dengan entengnya Nisa memperkenalkan status hubungannya di depan Bu Lilis, tentu saja itu bukan kesan yang baik.


Alga hanya menghembuskan nafasnya kasar, pacarnya ini memang tidak bisa mengontrol bicaranya. Sama seperti di sekolahnya yang dulu, tetapi ada alasan lain kenapa Nisa melakukan ini semua.


"Pacar ya, sekarang kamu keluar dan sapu halaman sampai bersih!!"

__ADS_1


Nisa hanya tersenyum mendengarnya tanpa mau membantah, dengan segera berdiri bangun dan keluar menuju halaman tetapi saat di depan pintu cewek itu berhenti dan berbalik.


"Aga yang rajin ya belajarnya, Ica mau menyelesaikan misi," setelah itu Nisa benar-benar keluar dari kelas. Bu Lilis masih terheran-heran, pasalnya Alga anak yang rajin dan berprestasi tetapi mendapatkan pacar yang petakilan seperti ini.


Bukan tanpa sebab Nisa berbuat seperti ini, seperti katanya tadi ia harus menyelesaikan misi hari ini. Cewek dengan rambut yang dikuncir kuda itu berjalan menuju kelas 11IPS 1.


Didepan pintu kelas itu sudah berdiri seseorang yang akan ditemui Nisa.


"Jadi ada info apa?" Tanya Nisa pelan, karena ia tidak mau guru yang sedang mengajar di kelas itu mendengarnya.


"Lima hari lagi dia bakal datang," cowok itu bersandar di dinding dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku.


"Lo masih sama 'kan kaya dulu? Dan lo pasti tahu harus ngapain." Ucap Nisa sesekali melihat jendela kelas. Ia bisa melihat Arka yang balik memandangnya, dirinya hanya tersenyum melihat ketua ALTARES itu.


"Iya," cowok itu mengangguk. "Gue nggak mau melakukan kesalahan lagi, gue nggak mau menyiakan kesempatan ini." Seseorang memang harus belajar dari kesalahannya, walaupun manusia memang tidak lepas dari semua kesalahan.


Tidak ada percakapan lagi, cowok itu pergi menuju toilet, dan Nisa berjalan menuju kantin. Dengan hukuman itu, Nisa tidak peduli toh halaman sekolah juga sudah dibersihkan sama petugas sekolah tadi pagi. Dari pada membuang waktu lebih baik ia gunakan untuk makan makanan favoritnya di kantin SMANBA. Saat di tengah jalan Nisa bisa melihat Luna yang berdiri ditengah lapangan sambil hormat bendera. Matahari di jam setengah sembilan memang belum terlalu terik, tetapi jika berlama-lama juga akan membuat keringat bercucuran.


Seakan mendapatkan ide Nisa mengulas senyum di bibirnya, cewek itu mengambil ponselnya dan jarinya mengetikan sesuatu. "Misi kedua dijalankan."


...****...


Rasa kantuk memenuhi kelas 11IPS 1, termasuk Arka. Cowok itu tidak fokus dengan pelajaran yang sedang dijelaskan. Bahasa Indonesia itu seperti berdongeng menidurkan siswa-siswi. Lihat saja Razi dan Reza yang tengah asik memakan camilan di bangku belakang, sedangkan Devano nampak fokus dengan penjelasan guru didepan, dan Okta yang sudah berada di pulau kapuk.


Arka tidak sengaja melihat Nisa didepan kelasnya melalui jendela, sedang apa cewek itu dijam pelajaran ini. Nisa tersenyum padanya lalu pergi begitu saja. Tak lama setelah itu ponsel milik Arka bergetar.


Drt drt



"Pak," Arka mengangkat tangannya, sontak semua orang memusatkan perhatiannya pada Arka


"Iya, Arka, apa jawabannya?"


"Anu, saya mau ijin ke toilet." Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bisa melihat pak guru menggelengkan kepalanya atas tingkah dirinya. Setelah itu Arka mendapatkan izin untuk keluar. Sebenarnya tujuannya bukan toilet melainkan lapangan.


Arka tersenyum saat melihat Luna yang berada dilapangan tak jauh darinya. Mata cewek itu sedikit menyipit karena silau sang matahari. Arka semakin mendekat, kini ia semakin jelas melihat Luna. Tunggu, cewek itu nampak pucat, keringat membasahi tubuhnya. Tiba-tiba saja Luna kehilangan keseimbangannya, untung denga cepat Arka berlari dan memapahnya.


"Una, bangun." Arka terus menepuk pipi Luna pelan. Nampaknya Luna pingsan dan tak sadarkan diri. Arka berdiri membopong tubuh mungil Luna ke UKS. Ada rasa khawatir yang menggerogoti hatinya, mengenal Luna bebera hari ini membuat suana berbeda dari biasanya.


Bel istirahat sudah berbunyi namun Luna masih enggan membuka matanya, Arka sampai bolak balik ditempat karena cemas. Petugas kesehatan bilang Luna hanya kecapean, tetapi sudah 45 menit cewek itu memejamkan matanya.


"Kenapa gue khawatir sama dia?'' Arka mencoba duduk di kursi dekat brankar milik Luna. Ia amati wajah damai dan cantik itu. Luna selalu bisa membuka Arka tenang. "Masa iya, gue suka sama cewek ini?" Arka menggeleng dengan cepat. Tugas dia hanya menjaga anak dari om Reyhan tidak lebih, ia tidak boleh menaruh perasaan disini.


Tetapi apakah bisa menjaga tanpa perasaan?


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, Luna akhirnya membuka mata. Sekarang dirinya berada dikantin dengan Arka juga dengan ALTARES lainnya. Nara cewek itu sedang pergi ke perpustakaan untuk mencari buku yang dibutuhkannya. Semua ALTARES kompak memesan batagor pedas buatan Bi Jinah, terkecuali Luna. Arka memesankn cewek itu semangkuk bubur ayam, karena menurut Arka tidak baik Luna memakan makanan pedas apalagi cewek itu habis pingsan.


"Arka, gue mau bakso." Ucapnya lesu. Luna bahkan sama sekali tidak menyentuh bubur dihadapannya. Luna tidak bisa makan bubur karena suatu kejadian. Sewaktu kecil dirinya pernah keracunan akibat memakan bubur ayam, sejak saat itu ia tidak pernah menyentuh makanan itu barang sedikitpun.

__ADS_1


"Nggak boleh! lo nggak boleh makan pedes. Kalau lo kenapa-napa gue yang repot." Jawab Arka tanpa menoleh sedikitpun, jarinya sibuk dengan ponselnya.


"Gue nggak suka bubur,"


"Gue nggak peduli." Final Arka


''Jahat banget lo, Ka." Itu suara Devano yang sedari tadi fokus memperhatikan mereka berdua


"Iya, kayak orang tuannya aja lo. Anak orang sebegitunya lo urusin," Ucap Razi setuju dengan Devan. "Ntar cinta."


Cinta? Ah tidak mungkin. Arka pasti tahu dimana harus menaruh hati dan kapan. Arka tidak mungkin suka seseorang sembarangan, tidak ada yang bisa meluluhkan ketua ALTARES itu kecuali satu perempuan dulu. Jika diingat-ingat itu membuat Arka pusing. Dirinya melirik Luna yang nampak tak minat melihat bubur didepannya. Bibirnya manyun dan sedikit menunduk, lucu.


Sedangkan Okta, cowok itu nampak tak minat dalam obrolan kali ini. Cowok itu lebih memilih menyantap makanannya. Arka benar-benar lelah, cowok itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Udah si, Ka, nggak papa. Dari pada dia nggak makan sama sekali, kasihan nanti malah tambah drop." Alga tidak tega Luna seperti itu, jika Nisa yang berada di posisi itu, dengan cepat Alfa akan memenuhi semua permintaan cewek itu.


"Arka," Ujar Luna


"Nggak papa, Lun, pesen aja. Kalau Arka marah nanti gue jewer kupingnya. Lo nggak boleh sakit, kasihan orang yang sayang sama lo pasti mereka khawatir." Boro-boro menjewer, Devan justru akan kabur jika membuat Arka marah dan mengamuk.


"Emang dibolehin, Arka?" Luna melirik Arka yang juga tengah menatapnya.


"Boleh, iya 'kan, Ka." Devano menyenggol lengan Arka yang memang duduk disampingnya.


"Terserah."


Luna menatap Arka binar. Cewek itu langsung memesan bakso kesukaannya. Bahkan dirinya sudah lupa kapan terakhir makan bakso.


Kadang Ayahnya itu sibuk jadi jarang makan bersama dengannya, kadang juga sering pulang larut malam. Luna tahu, itu semua demi dirinya. Demi Luna hidup layak, seorang Ayah pasti akan melakukan apapun untuk anaknya.


Arka memperhatikan cara Luna makan, lucu. Cewek itu seperti tidak makan satu abad saja. Tanpa sadar bibir Arka tersenyum tipis, tipis sekali sampai tidak ada yang bisa mengetahuinya.


Nisa juga ikut memperhatikan Luna makan, dirinya belum terlalu akrab dengan cewek itu. Tetapi misi tetaplah misi. "Kalian ngerasa ada yang kurang nggak?" Tanya Nisa merasa aneh.


"Lo pasti nemu duit gue yang jatuh 'kan, sini balikin!" Todong Okta pada Razi


"Duit lo? Utang aja masih banyak dikantin. Lagian gue orang kaya, gue lebih baik sedekah dari pada ngambil uang orang." Jawab Razi sok alim, Okta mendengus mendengar jawaban Razi, meskipun itu benar adanya.


"Tapi serius guys, yang Ica katakan benar. Kaya ada yang hilang diantara kita." Devano mengangguk setuju dan sedang berpikir apa itu yang hilang.


Semua nampak serius sekarang, memang beberapa hari ini mereka seperti hampa, seperti lebah tanpa madu. Sedangkan Luna tidak memikirkan apa yang sedang ALTARES ini bahas, meski begitu ia memasang kupingnya lebar-lebar.


"KARLO!!" Arka, Alga, Devano, dan Razi kompak meneriaki nama itu, berbeda dengan Reza yang nampak tenang sedari tadi. Luna yang sedang menyeruput kuah bakso tiba-tiba tersedak karena suara mereka. Dengan cepat Arka memberikan minumnya pada cewek itu. "Makasih, Ka."


Jika diingat-ingat, Karlo memang tidak terlihat belakangan ini. Apakah cowok itu sakit? Tapi jika benar, kenapa cowok itu tidak memberitahunya. Bukan kah mereka ini keluarganya.


"Apa Karlo lagi ada masalah?" Gumam Arka yang masih bisa di dengar temannya.


"Coba gue hubungi dia dulu," Alga menekan kontak Karlo dan mulai memanggilnya namun suara yang terdengar bukan suara Karlo melainkan.

__ADS_1


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi


__ADS_2