Arkabian

Arkabian
24. Mak Lampir


__ADS_3

"Arka mana?"


"Kalian budeg apa gimana si!"


Lolly. Gadis itu kesal karena anak ALTARES tidak ada yang menjawab pertanyaan nya. Baru saja mereka sampai parkiran, tetapi Lolly sudah menanyakan banyak hal tentang Arka.


"Heh Lolipop, emang gue bapaknya apa," kesal Okta yang mendengar ocehan cewek itu.


"Tau nih, pagi-pagi udah cosplay jadi mak lampir." kata Razi ikut-ikutan.


Lolly semakin kesal karena mereka sekarang tidak menghargai dirinya. Lolly menatap satu cewek yang bersama Reza disana. Lalu dengan cepat Lolly menjambak rambut cewek itu. "Heh Arka pasti lagi sama temen lo yang centil itu kan, ngaku deh lo! Bilangin sama dia nggak usah ngarep jadi nomor satu di hati Arka!."


Nara kaget karena tiba-tiba rambutnya di jambak. Reza yang melihat itu langsung melepaskan tangan Lolly dan menghempaskan secara kasar. "Stres lo!" maki Nara. Untung pagi ini ia sudah sarapan, kalau belum pasti udah di makan tuh mak lampir jadi-jadian.


"Kita hajar aja, Ra. Lo kan jago bela diri, di sengol dikit aja pasti udah dibawa ambulans." kata Nisa yang muak melihat muka Lolly lama-lama.


Wajah Lolly memerah karena menahan emosi, "Lo—"


Suara deruman motor yang memasuki parkiran SMANBA mengalihkan perhatian banyak orang, termasuk Lolly. Cewek itu mengepalkan tangannya saat Arka datang dengan seseorang di belakangnya.


Luna sendiri sudah mau muntah saat melihat Lolly di parkiran. Arka memarkirkan motornya dan Luna menghampiri Nara dan Nisa di sana.


"Kok bisa barengan?" tanya Nara yang masih kesal karena Arka sudah membuat Luna menangis waktu itu.


"Ini karena ayah gue." jawab Luna seadanya.


Arka datang dan melakukan tos dengan ALTARES. Arka bahkan tak sadar jika didepannya ada Lolly yang berusaha tersenyum walau hatinya menolak itu semua. "Loh, Lolly lo sejak kapan di situ?"


"Lo?" Lolly tertegun. Biasanya Arka akan memanggilnya aku-kamu namun sekarang berubah menjadi lo-gue? "Iya kan lo yang namanya Lolly," kata Arka.


"Em aku belum lama kok," Lolly menahan dirinya agar tidak berubah menjadi monster di depan Arka. "Aku nyariin kamu."


"Nyari gue, ngapain?" tanya Arka bingung.

__ADS_1


Tanpa rasa malu, Lolly menggandeng lengan kanan Arka. "Kata ayah kamu, aku disuruh ngajarin mata pelajaran yang nggak kamu ngerti, biar nilai kamu sempurna."


Luna tidak tahan dengan sikap sok manja gadis itu, "Nara, gue mau ke kelas." kata Luna lalu berlenggang pergi yang di ikuti Nara di belakangnya.


"Guys gue ikut!" teriak Nisa lalu berlari menyusul mereka berdua.


Lolly bersorak dalam hati melihat Luna pergi begitu saja. Namun senyum nya luntur begitu saja saat Arka melepaskan tangannya seakan tidak berminat. "Sorry, Lolly, gue nggak bisa." kata Arka lalu pergi menuju kelas.


Inti ALTARES tertawa melihat adegan di depan mereka. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Lolly sendiri dengan menertawakan gadis itu tentunya.


"Cie yang di tolak nih, katanya primadona SMANBA, tapi kayaknya Arka udah nggak berminat sama lo deh," ejek Razi saat cowok itu melewati Lolly.


"Semangat ngemisnya," kata Okta.


"Kalau lo butuh bantuan kaya biasa jangan hubungi gue. Makanan yang lo tawarkan udah nggak bikin gue berselera, yang ada gue keracunan." kata Karlo dengan nada dingin.


"Mati lo!" ujar Reza cowok bermuka datar. Cowok itu kesal karena tunangannya di jambak begitu saja. Alga hanya melewati Lolly tanpa minat mengatai gadis itu, Alga hanya menunjukkan rasa kasihan saat melihat sosok perempuan yang menyakiti temannya dulu.


Saat Lolly hendak pergi ke kelas, tiba-tiba ada seseorang gadis yang mendekati nya, umurnya bisa dibilang lebih tua satu tahun darinya.


"Mereka masih nggak mau maafin lo?" tanya perempuan itu.


"Ya seperti yang lo lihat kak," kata Lolly lalu berjalan menuju kelas.


"Bukannya kesalahan lo hanya ninggalin Arka doang ya? Sampai segitunya mereka benci sama lo." heran perempuan itu. Lolly menghentikan langkah lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Bukan cuman itu, kak Liona. Kesalahan gue banyak di mata mereka." kata Lolly pada perempuan bernama Liona, mantan wakil ketua osis.


...*****...


Luna menatap malas cowok yang berada di depannya. Sedari tadi cowok itu mengikuti Luna ke dalam kelas, dan sekarang dengan entengnya duduk di depan Luna sambil terus memandanginya terus-menerus.


''Lo nggak punya pekerjaan lain apa?" tanya Luna yang merasa risih.

__ADS_1


"Kerjaan gue ngejaga lo," jawabnya enteng.


"Hanya karena permintaan dari ayah gue lo jadi kaya gini? Sikap lo berlebihan, Arka." kata Luna yang takut terluka lagi. Bahkan bekas luka yang kemarin belum sepenuhnya sembuh.


Nara mulai kesal karena belajarnya terganggu, "Arka, Lo bisa diam nggak?" Nara menatap Alga yang berada disamping Arka. "Lo kenapa diam aja, Al? Lo selaku ketua OSIS dan ketua kelas seharusnya usir Arka dong. Ini udah mau masuk lima menit lagi."


Alga melihat jam dinding yang berada di atas papan tulis, "Mending lo balik, Ka. Lo nggak mau kan gue catet terus masuk BK?"


"Masih kurang lima menit, Al." ujar Arka yang tak mau meninggalkan kelas ini.


Arka melihat cowo itu mengambil kertas dan pulpen, Arka sontak berdiri karena tak mau menambah nama di ruang BK. " Iya iya, Al, gue pergi ini. Gue nitip Una, ya. Jangan sampai ada yang ngedeketin dia."


"Yaelah. Kemarin nyakitin, sekarang bertingkah seakan Luna itu milik lo." sembur Nisa yang menggeser Arka agar pergi dari tempat duduknya.


Arka mati kutu tak bisa menyangkal perkataan Nisa. Arka sebenarnya tidak tahu perasaannya ini untuk siapa. Tetapi jika berdekatan dengan Luna, ia merasa hidup kembali setelah beberapa tahun mati.


"Waktu itu gue minta maaf, Na, karena udah ngebentak lo sama udah nyakitin hati lo," kata Arka meminta maaf pada Luna. Namun gadis itu hanya acuh, fokus membaca buku yang ada di tangannya.


"Na, gue—"


Nara dengan cepat mendorong Arka keluar dari kelasnya, cowok itu hendak protes saat sudah di luar kelas, namun perkataan Nara membuat nyalinya tak berkutik.


"Mau apa lo?" tanya Nara garang.


"Cuman sebentar, Ra."


"Kembali ke kelas lo, atau gue panggil Reza buat nyeret lo dari sini." ancam Nara. Tentu saja Arka menurutinya, walaupun dirinya ketua ALTARES, jika melawan dengan Reza ia kan tetap kalah. Kekuatan Reza itu berpuluh-puluh gajah gemuk.


"Mau aja lo tunangan sama batu,"


"Apa Lo bilang??" teriak Nara hampir memukul wajah Arka jika saja cowok itu tidak pergi dari sini. Arka memang benar, Reza itu ibarat batu berjalan, beruang kutub, si muka datar, kulkas dua pintu, dan masih banyak panggilan lainnya yang cocok.


Bagaimanapun, Reza adalah seseorang yang Nara suka. Cowok berjuta misteri.

__ADS_1


__ADS_2