
Arka bergegas pulang setelah berhasil mengantar putri Rey dengan selamat. Hari ini cukup melelahkan baginya, semesta benar-benar membiarkan Arka melakukan pekerjaan berat hari ini. Tapi hari ini belum berakhir, pasti nanti dirinya akan mendapat omelan dari Ayahnya dirumah.
Arka memarkir motor kebesarannya dan mulai memasuki rumah yang lumayan besar. Kakinya melangkahkan dan bertemu Clara disana.
"Ya ampun sayang, kepala kamu kenapa?" Tanya sang ibu saat melihat putranya memiliki banyak lebam serta perban dikepala.
"Nggak papa Bun, cuma luka kecil kok," Arka tersenyum tulus, setidaknya ada Clara yang masih sayang sama dirinya. Walaupun kadang Clara tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan Prama.
"Ya udah kamu mandi ya, nanti bunda buatkan minuman hangat."
"Ehem,"
Itu suara Prama, namun pria paruh baya itu hanya melewati Arka di ruang tamu. Apa ini? Biasanya pria itu akan mengomel jika melihat Arka dengan keadaan seperti ini, apalagi dirinya melewatkan pertandingan basket nya.
Entah magic apa yang telah menyihirnya. Dan Gilang, Arka tidak melihat cowok itu disini. Biasanya mereka bertiga akan berkumpul di tamu bercanda ria tanpa adanya Arka, dan disini Prama benar-benar tidak melihat keberadaan Arka biasanya.
"Ayah udah tau semuanya. Tadi Abang kamu udah jelasin semuanya," ujar Clara yang mengerti kebingungan Arka. "Ayahmu sempat marah namun Gilang berhasil membujuknya agar tidak tersulut emosi," lanjutnya.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Arka karena tidak menemukan batang hidung Gilang.
"Ada di kamarnya. Sebentar lagi kan ada ujian, Gilang sedang belajar." Jawab Clara lalu wanita itu pergi ke dapur berniat membuat teh hangat untuk putranya.
Arka menaiki anak tangga berniat beristirahat di kamarnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti didepan kamar Gilang yang notabennya adalah kakaknya. Itu suara orang yang sedang menangis.
"Apa dia menangis?" Gumam Arka.
Cowok itu hampir mengetuk pintu kamar Gilang, namun tiba-tiba tangannya berhenti diudara .
"Nggak mungkin orang kayak dia nangis, palingan lagi nonton drama." Arka berjalan melewati kamar itu menuju kamarnya.
Untuk apa Gilang menangis? Cowok itu sudah mendapatkan semuanya. Keluarga, prestasi, bahkan kasih sayang, itu semua sudah dia dapatkan. Padahal Gilang itu bukan darah dagingnya.
Singkat cerita Prama dan Clara sudah lama menikah namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Jadi mereka mengadopsi Gilang dari panti asuhan sebagai pancingan. Dan benar saja, satu tahun mereka merawat Gilang kabar gembira itu datang, Arka hadir dalam kehidupan mereka berdua.
Namun sekarang ini kenapa Gilang yang paling disayang? Pertanyaan itu yang terus hadir dalam benak Arka.
Arka berhenti didepan kamarnya karena teringat sesuatu. "Cih, katanya belajar tapi malah nonton drama,"
Setelah itu Arka masuk ke kamar dan beristirahat.
Drtt
Arka tertawa membaca pesan terakhir dari temannya. Masih saja Reza dengan dinginnya ya seperti beruang kutub ataupun kulkas berjalan. Atau mungkin dia butuh seseorang disampingnya? Agar balok-balok es itu segera mencari.
Memang ada cewek yang mau sama dia?
Cowok itu begitu menutup dirinya tidak seperti Razi kembarannya. Entah alasan apa dulu Arka menyetujui cowok itu bergabung ke ALTARES? Apapun alasannya, pasti itu sudah dipikirkan dengan baik.
__ADS_1
...*****...
Minggu pagi yang cerah, seperti biasanya Luna berkunjung ke makan ibunya. Gundukan tanah itu cantik dengan beberapa bunga kesukaan wanita cantik itu. Bukan hanya setiap Minggu Luna kesini, melainkan jika dirinya merasakan rindu yang tak terbendung.
"Ibu, Luna kangen."
Hidup kurang dari kasih sayang seorang ibu, walaupun Rey menyanyangi nya sepenuh hati, menjadi seorang ayah sekaligus ibu buat Luna. Tetapi semua itu tetap lah berbeda, posisi seorang ibu bagi anaknya tidak akan bisa digantikan oleh siapapun.
Malaikat tak bersayap yang memberikan rasa aman untuk putri kecilnya, malaikatnya tak bersayap yang menuntun jari kecil itu untuk berjalan. Memori dirinya bersamanya terlintas kembali dikepala Luna.
Andai waktu bisa diputar, ini pasti tidak akan terjadi jika dulu dirinya tidak bermain dijalan sembarangan.
"Ibu tau nggak? Ada cowok menyebalkan disekolah Luna," Luna jongkok dan mengelus batu nisan ibunya. "Kadang dia baik tapi kadang juga menjengkelkan, Bu."
Mengingat sikap Arka yang berubah-ubah membuat Luna sulit mengartikan itu semua. Dirinya tidak boleh dengan cepat mengambil kesimpulan, agar tidak ada kecewa yang akan datang.
"Ibu di surga baik-baik aja 'kan?"
"Disini Luna sama Ayah juga baik, Bu."
Lama Luna memandang dan mengelus batu nisan itu, berbagi cerita sehari-hari. Tengah hari awan hitam mulai berhamburan, pertanda hujan akan segera mengguyur bumi kita. Luna bangkit dan berniat pulang walaupun langkahnya berat meninggalkan tempat ini.
"Kenapa takdir jahat banget,''
Deg!
Samar-samar Luna mendengar suara laki-laki. Siapa? Apakah ada hantu di siang bolong ini? Pemakaman ini memang sepi jika di hari Minggu, dan kebanyakan orang mendatangi pemakaman di sore hari.
"Kok suaranya kayak kenal, ya." Gumamnya.
Mata Luna terus menelusuri seluruh pelosok pemakaman, dan matanya menangkap sosok orang yang memang dirinya kenal di sekolah.
Cowok itu terlihat sedih dan sedang bicara dengan gundukan tanah itu.
Cowok yang menurut Luna tidak memiliki perasaan, ternyata bisa merasakan sedih juga. Ya walaupun itu adalah perasaan alami manusia, tapi Luna masih heran dengan itu.
Langkah demi langkah Luna mendekat.
"Em, hai." Sapa Luna
Cowok itu menoleh dengan wajah dingin lalu fokus kembali ke gundukan tanah yang bertuliskan Maria Gayatri.
Luna ikut berjongkok menyamakan dirinya, dalam hatinya ia bertanya siapa Maria ini? Apakah ini orang tuannya?
"Lo sering kesini?'' tanya Luna kembali.
"Lalu ini—"
"Bacot! Bisa diem gak." Suara keras Arka mampu membuat Luna diam. Iya, cowok itu adalah Arka cowok yang Luna sebut menyebalkan.
Luna bungkam seketika
__ADS_1
Tetes demi tetes hujan mulai berjatuhan, mungkin bumi ini sedang dilanda sedih seperti hati seseorang.
Dengan terpaksa Arka berdiri dan harus meninggalkan tempat ini.
Dirinya terus melangkah namun di langkah ke 10 dirinya berhenti.
"Lo nggak lihat hujan?" Seru Arka saat melihat Luna masih berdiri di depan makam Maria Gayatri.
"Hah?"
"Cari penyakit, lo." Arka menarik pergelangan Luna dan membawa cewek itu berteduh, ia tidak bisa membiarkan hujan menyakitinya. Bagaimana nanti jika om Rey tahu.
Arka membawa Luna keluar pemakaman dan membawanya ke halte tempat dirinya meninggalkan motor kebesarannya. Arka melirik Luna yang nampak kedinginan, bisa dilihat cewek itu menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.
Arka berinisiatif melepas jaket miliknya lalu memasangkan ke pundak Luna. "Pakai biar lo nggak kedinginan."
Luna terkejut dengan pergerakan Arka, namun setelahnya ia tersenyum. "Makasih."
Lalu mereka terdiam bersama-sama, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Luna yang terus berpikir atas perlakuan baik Arka, ketua geng yang Luna pikir tidak memiliki perasaan dan keras kepala.
Sedangkan Arka tiba-tiba teringat dengan perkataan Bayu waktu itu.
"Lo sering kesini?" Tanya Arka
"Iya, kalau lagi kangen ibu." Jawab Luna mengangguk. "Lo sendiri?"
"Dulu sering, tapi sekarang jarang." Mengingat tentang perilaku Prama yang melarang Arka keluar rumah sembarangan, apalagi pria paruh baya itu terus menerus memaksa dirinya untuk berlatih basket.
"Maria Gayatri itu?''
"Nenek gue, nenek kesayangan gue Na."
"Na?" Tanya Luna bingung
Arka menatap mata Luna, mata yang Arka pikir mengingatkan akan seseorang. Namun jika dilihat lagi mereka berbeda, sangat sangat berbeda dengan kelebihan masing-masing.
Arka mengangguk. "Gak papa 'kan gue manggil lo dengan panggilan Una?"
Karena menurut Arka lucu saja jika menyebut nama itu. Panggilan khusus darinya, dari ketua besar ALTARES.
Hari demi hari jarak diantara Arka dan Luna mulai terkikis. Arka merasa ada yang istimewa dari cewek ini.
Semoga saja kelak tidak ada hati yang tersakiti karena salah mengartikan.
Dan tidak ada titik hitam yang melingkari sisi bahagia milik mereka.
"Boleh kok."
Tidak ada percakapan setelah itu, hanya tetesan hujan yang membasahi bumi ini, tidak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Tiba-tiba ponsel Arka bergetar mendandakan ada panggilan masuk, Arka melihat nama yang tertera lalu memasukan kembali ke dalam sakunya tanpa ada niat mengangkatnya.
Lolly Aureliani is calling you
__ADS_1