
"Arka ayo makan. Razi sama gado-gadonya udah di bawah," itu suara Nisa. Cewek itu berniat menghampiri Arka di balkon.
Cowok itu sibuk dengan rokok ditangannya, membiarkan angin dingin menembus kulitnya. Merasa tidak ada jawaban, Nisa ikut mendudukan dirinya disamping Arka. Tatapan Arka lurus kedepan sana, Nisa mengikuti arah tatapan itu.
Nisa melihat Luna dan Devano yang berada di halte tak jauh dari basecamp mereka. Jadi dari tadi Arka terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Ka, ayo makan." ajak Nisa kembali.
"Gue nggak laper, Ca." Jawab Arka membuang putung rokoknya.
"Gue tau siapa Luna itu," ujar Nisa melihat kearah dua orang dihalte.
"Memang dia siapa?" Tanya Arka menoleh dan fokus menatap Nisa
Nisa menatap Arka "Putri tunggal om Reyhan 'kan?" Lalu Nisa kembali fokus ke depan. "Ini juga alasan kenapa lo sampai khawatir saat tahu Luna hilang, Lo bahkan sampai terluka demi dia."
Nisa sebenarnya sudah tahu lama tentang hal ini. Dia mengetahui nya karena tidak sengaja melihat isi raport milik Luna waktu itu. Disana
Tercetak jelas nama Ayah dari Aluna Tasya Aprilia. Nisa juga tau siapa itu Reyhan, dan Nisa juga menebak dan menggabungkan kemungkinan itu dengan perilaku Arka belakangan ini dengan Luna, dan memang ternyata dugaannya benar.
Arka terdiam beberapa saat. "Iya karena itu gue ngelindungin dia. Dan gue cuma kasihan karena cewek itu mempunyai penyakit."
"Perhatian sama kasihan itu beda, Arka." Nisa tertawa dalam hati. Mana ada kasihan sampai segitunya bahkan sampai hampir kehilangan nyawanya.
"Maksud lo, Ca? Gue nggak ngerti."
"Wujud kasihan lo itu berlebihan. Jangan pernah nyentuh hidup seseorang kalau lo bakal nyakitin, lo nggak pernah mikir kalau Luna bisa saja salah artikan sikap lo ke dia?"
"Gue cuman menjalankan amanat buat ngelindungin dia, itu aja. Luna juga nggak mungkin baper 'kan sama orang kayak gue."
"Emang lo tau tentang hati seseorang?" Tanya Nisa dengan serius
"Apa?"
"Dia itu cewek, Ka. Dia bisa aja baper sama apa yang lo lakuin. Mungkin kalau gue yang ada diposisi Luna, itu yang akan gue rasain." Nisa berdiri dan menepuk bahu Arka. "Jangan pernah mempermainkan perempuan ya, Ka. Itu sama aja lo nyakitin gue."
Setelah mengatakan itu Nisa turun kebawah bergabung dengan inti ALTARES yang lain. Tentu saja Arka tidak akan menyakiti Nisa, ia menyayangi cewek itu seperti adiknya. Tapi Luna, apakah dirinya benar menyakitinya nanti?
Drtt
^^^
Arka melirik Luna yang berada di halte. Cewek itu nampak beberapa kali mengecek ponselnya, mungkin menunggu ojek online nya datang. Dan disampingnya ada Devano yang setia menjaga Luna agar cewek itu aman, selamat tidak terluka sedikitpun.^^^
__ADS_1
Arka memasukan ponselnya kembali dan turun kebawah. Disana Anggota ALTARES sibuk mengunyah makanan yang Razi belikan. Tetapi ada satu yang kurang disana. Si kulkas?
Arka mendekat dan bertanya pada Alga yang sedang menyuapi Nisa. "Al, si Reza kemana?"
"Nggak tau. Dia pergi gitu aja setelah nerima telfon tadi. Kita juga nggak tau siapa yang malam-malam gini ganggu Reza." Jawab Alga
Arka hanya mengedikan bahunya acuh, mungkin itu urusan pribadi cowok itu, Arka tidak berhak mencampuri urusan orang lain. Arka kembali berjalan keluar, saat berada diambang pintu suara Okta menghentikan langkahnya.
"Ka, tadi Abang lo kesini." Ujar Okta yang sudah selesai memakan makanannya.
Tidak ada respon yang Arka berikan, namun cowok itu tetap diam ditempat menunggu kalimat berikutnya.
"Katanya lo disuruh pulang, bokap lo nyariin,'' itulah yang Okta dengar tadi saat Gilang kesini dan mencari Arka.
Arka tersenyum kecut, ia tahu betul apa yang akan terjadi saat dirinya pulang. Ini semuanya ada hubungannya dengan dirinya yang melewatkan pertandingan basket siang tadi. Memang, dirinya tidak pernah terlihat dimata Ayahnya. Bahkan prestasi yang dirinya dapatkan, tidak sekalipun pria paruh baya itu lihat.
Hidup dikeluarga seperti ini tidak pernah Arka inginkan. Mengingat itu semua Akra jadi teringat nenek kesayangannya. Andai nenek Maria masih ada disisinya, mungkin Ayahnya tidak terlalu keras seperti sekarang.
Arka berdehem sebelum bicara. "Gue mau nganterin Luna, kalau kalian pulang jangan lupa beresin ini semua lalu kunci basecamp nya,"
Setelah mengatakan itu Arka benar-benar pergi menghampiri Luna di halte.
"Kenapa nggak dari tadi Arka nganterin tuh cewek pulang?" Tanya Razi mengeluarkan unek-uneknya.
"Mungkin Arka dapet pencerahan," ujar Nisa. "Aga suapin lagi."
"Dasar bucin," cibir Karlo
"Huuuu," teriak Razi, Okta, dan Karlo.
...******...
Sebuah motor dengan jaket warna hijau menghampiri Luna dan Devano. Arka yakin itu adalah ojek online yang Luna pesan. Dengan cepat Arka datang dan membuka dompetnya.
"Cancel aja, lo pulang bareng gue," Arka menyodorkan uang seratus ribu pada tukang ojek itu. "Gimana, cukup kan?"
"Ini kelebihan mas," Ucap Abang ojek
"Kembaliannya ambil aja buat beli rokok." Jawab Arka. Uang seratus ribu baginya tidak ada apa-apanya.
Arka berbalik dan menatap temannya,"Thanks udah temenin dia, lo bisa pulang sekarang."
Sebelum Devano menjawab, Arka sudah menarik pergelangan Luna untuk mendekat ke motornya. Arka segera memakaikan helm sebelum cewek itu menolaknya. Devano hanya tersenyum melihat tingkah Arka kali ini, lalu ia segera kembali kedalam basecamp.
"Naik," perintah Arka
"Iya."
__ADS_1
Sebenarnya Luna sedikit malas, namun karena Luna tidak ingin berdebat dengan cowok itu dirinya lebih baik menurut saja kali ini.
Ingat pemenangnya adalah Arka dan keras kepalanya.
Hawa dingin menyelimuti kota Jakarta. Lampu warna-warni menghiasi malam jalanan yang tidak terlalu ramai. Langit hari ini dihiasi oleh bintang yang bertaburan.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara tembakan yang cukup keras.
DOR!
Luna sungguh kaget dengan suara itu, dirinya melirik ke belakang dan ternyata ada orang tidak dikenal sedang mengikuti dirinya dan Arka. Mereka juga banyak membawa pistol ditangannya. Apakah hari yang berat ini belum juga berakhir?
"Gue takut Arka, mereka bawa pistol."
Arka melihat ke spion, jumlah mereka tidak terlalu banyak hanya saja mereka membawa senjata itu bisa saja melukai Luna. Arka terus memperhatikan mereka, orang asing. Arka tidak mengenali salah satu dari mereka. Lalu alasan apa mereka mengejarnya seperti ini? Apakah mereka anak buah dari pesaing bisnis om Rey? Jika iya, mereka pasti mengincar Luna sekarang.
"Lo pegangan, gue mau ngebut!" Perintah Luna.
"Hah? Tapi gue takut, Ka."
"Percaya sama gue kali ini aja. Lo mau selamat dari mereka 'kan? Ini jalan salah satunya," ujar Arka yang terus mengawasi mereka lewat spion motornya.
Dengan ragu Luna melingkarkan tangannya ke pinggang Arka, sedangkan Arka yang merasa Luna sudah menurutinya, ia segera menancapkan gas bergerak dengan cepat menghindari dari mereka.
Di perempatan Arka memilih belok ke arah kanan, itu adalah jalan pintas. Namun sepertinya orang-orang itu masih cepat dalam mengejar Arka dan Luna. Arka harus memikirkan sesuatu, jika dirinya terus berkendara seperti ini ada kemungkinan mereka tertangkap.
Ayo Arka pikirkan sesuatu.
Arka mempercepat lajunya dan berhenti di gang depan yang lumayan sepi, dia memberhentikan motornya dan segera menyuruh Luna turun.
"Ka, kenapa berhenti?"
Namun Arka tidak menjawab pertanyaan Luna dirinya menyembunyikan motornya dibalik tumpukan beberapa sampah, tepatnya barang yang tak terpakai disekitar sana. Lalu dengan cepat menarik Luna agar bersembunyi dengannya.
Orang-orang itu berhenti persis didepan mereka. Karena salah satu dari mereka yakin jika targetnya masih ada disini.
"Kita kehilangannya jejaknya," ucap pria berkacamata.
"Pasti mereka masih ada disekitar sini, ayo cari." Ujar pemimpinnya.
Tubuh Luna bergetar karena takut, Arka memeluk Luna agar cewek itu sedikit tenang. Luna benar-benar tidak tahu mengapa banyak sekali ora yang jahat padanya hari ini. Apakah semesta sedang marah padanya? Apakah dirinya melakukan kesalahan?
"Gue takut, Arka." Lirih Luna dalam pelukannya.
Arka mengelus kepala Luna berharap cewek itu bisa sedikit tenang dan menghilangkan rasa takutnya. "Jangan khawatir, ada gue disini."
Luna sedikit tenang, namun dirinya tidak bisa menjabarkan sikap Arka kali ini. Sikap yang bisa Luna salah artikan. Cowok itu dengan suka rela melindunginya, namun kadang Arka juga sangat menyebalkan dan tidak peduli dengan sekitar. Namun yang ada dihadapannya sekarang adalah seorang malaikat yang dikirim untuk menjaganya.
__ADS_1
"Lo aman sama gue," kata Arka lagi.
Semoga tidak ada hati yang salah mengartikan disini