Arkabian

Arkabian
20. Panti Asuhan


__ADS_3


Luna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, sesuai permintaan Nisa, sekarang Luna sedang bersiap berangkat menuju rumah Nisa.


Hari ini Luna berniat memakai motor scoopy lilac miliknya. Luna sudah lama tidak menaiki kendaraannya karena sering memakai mobil, selain itu Nara hampir setiap hari menjemput dirinya.


"Oke sudah siap, sekarang jalan," kata Luna pada dirinya sendiri.


Luna mulai menyalakan motornya dan melaju, angin lembut menerpa rambutnya yang panjang. Pada hari minggu jalanan kota tidak terlalu ramai, banyak yang menghabiskan hari liburnya untuk istirahat.


Saat di pertigaan jalan Luna melihat sosok yang tidak asing baginya, "Kok kaya kenal, ya."


Karena penasaran Luna berniat mengikuti orang tersebut. Luna memberhentikan motornya di depan rumah sederhana, lali gadis itu melepaskan helm nya.


"Panti asuhan gembira?" Luna mengeja tulisan besar di depannya.


Luna melihat seorang anak laki-laki menghampiri orang yang Luna ikuti. Mereka nampak dekat dan bahagia.


"Yey bang Deva datang lagi," teriak anak laki-laki dengan lesung pipi, nama anak itu adalah Kiko.


"Main bareng-bareng yuk, bang." kata anak dengan kacamata hitam, anak itu bernama Dafa.


Devano mengelus kepala kedua anak itu. "Iya nanti kita main bareng lagi ya, abang Dev kan udah janji mau kesini, jadi abang harus nepatin."


"Bang Deva bawa pacar, ya?" kata Kiko melihat Luna jalan mendekat. Sedangkan Devano yang tadinya berjongkok sekarang berdiri dan berbalik. Devano sempat kaget dengan kehadiran Luna, namun setelahnya cowok itu tersenyum.


"Maaf ya Dev, gue nggak sengaja liat Lo terus karena penasaran gue ngikutin lo." kata Luna merasa tidak enak.


"Nggak papa kok, justru gue kaget karena lo kesini pakai motor.'' karena selama sekolah di SMANBA Devano belum pernah liat Luna pakai motor.


"Gue bisa pakai motor, Dev. Cuman Ayah gue nggak izinin gue pakai motor untuk sehari-hari."


"Nak Dev udah datang,'' wanita paruh baya itu keluar dari dalam. "Eh ada tamu ya?" katanya saat melihat Luna disana. Luna dengan sopan menyalimi wanita itu.


"Ini teman Dev, bu, namanya Luna." kata Devano. "Luna, ini Bu Sri pemilik panti asuhan ini."


"Kiko dan Dafa sarapan dulu yuk, nanti main sama kakak-kakak ini." ucap Bu Sri pada kedua anak itu. "Mari nak Dev, mari nak Luna. Kalau mau sarapan ayo ada di dalam."

__ADS_1


"Iya bu makasih, Luna udah sarapan tadi." kata Luna menolak dengan lembut ajakan ibu Sri. Wanita itu mengangguk lalu masuk ke dalam menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti. Sedangkan Devano mengajak Luna duduk di gazebo.


"Oh ya, tadi lo bilang ayah lo nggak ngizinin naik motor?" tanya Devano pada Luna.


"Gue punya asma, Dev. Ayah takut kalau gue kena polusi dari kendaraan yang kotor." kata Luna lemah. Luna memandang asal kedepan. "Gue sebenarnya banyak penyakitnya. Gue nggak kaya orang-orang, Dev."


Devano diam. Cowok itu tidak menyangka gadis yang ceria ini memiliki banyak penyakit, jadi karena ini om Rey menyuruh Arka untuk selalu menjaga Luna.


"Lo nggak sendirian, Lun. Lo selalu di kelilingi orang yang sayang sama lo. Lo harus kuat buat ngelawan penyakit itu, tunjukin ke orang yang lo sayang kalau lo bisa sembuh."


"Gue tau lo orang yang kuat.'' jelas Devano. Luna tersenyum mendengar penjelasan Devano. Cowok itu selalu membawa kebahagiaan pada orang sekitar. Diantara ALTARES Devano yang cukup dekat dengan Luna, bukan hanya Luna melainkan ke semua orang.


Ting!



Setelah membaca pesan dari Nara, Luna sekarang ingat ia harus pergi ke rumah Nisa. Luna benar-benar terlambat sekarang.



Luna memasukkan kembali ponselnya setelah mengetikan pesan terakhir. "Dev, gue nggak bisa lama-lama, gue harus pergi ke rumah Ica."


"Iya, kemarin Ica ngajak belajar bareng, katanya kalau belajar sendiri bikin bosan." jawab Luna.


"Oh bagus deh biar nilai Ica meningkat. Mau gue anter, Lun?" Devano menawarkan diri untuk mengantar Luna. Dev tau jika ini pertama kalinya Luna datang ke rumah Nisa, oleh sebab itu Devano menawarkan diri agar Luna tidak tersesat.


Luna berdiri, "Makasih Dev, gue bisa sendiri. Gue titip salam buat bu Sri sama anak-anak panti."


Devano mengangguk lalu mengantar Luna menuju motornya, cowok itu memperhatikan Luna sampai punggung Luna tidak terlihat lagi.


Saat hendak kembali ke panti tiba-tiba Devano merasa pusing dan tak sadarkan diri.


...*****...


"Kenapa lama, lo nggak nyasar kan?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut Nara dan Nisa saat Luna baru sampai. Ternyata di sana juga terdapat Alga yang sedang duduk di sofa memperhatikan Nisa.

__ADS_1


"Nggak kok. Tadi gue mampir dulu ke suatu tempat," jawab Luna lalu mengeluarkan buku fisika miliknya.


"Kemana?" tanya Nara penasaran.


"Ada deh," jawab Luna membuat Nara penasaran. "Alga juga ikut belajar?" tanya Luna pada Alga.


"Terus?"


"Alga emang setiap hari main ke rumah gue, Lun. Rumah Alga kan itu di depan." jawab Nisa. Alga memang sering datang ke rumah Nisa begitu pun sebaliknya. Hubungan keduanya sudah sangat dekat, bahkan mereka sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua mereka.


Mereka mulai belajar bersama, Nisa belajar matematika diajari Nara lalu bergantian dengan mata pelajaran fisika Nisa meminta Luna mengajarinya. Nisa benar-benar tidak bisa menangkap kedua mata pelajaran itu. Saat dijelaskan Alga pun hanya masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.


"Ca, gue keluar bentar." kata Alga setelah menerima pesan dari seseorang.


"Aga mau kemana?" tanya Nisa.


"Keluar sebentar, Ica. Arka mau ketemu."


"Ya udah hati-hati, Aga sayang." Alga tersenyum sebelum meninggalkan mereka. Nara dan Luna hanya geleng-geleng kepala melihat Nisa, ternyata selain ratu dari ALTARES Nisa juga bisa dibilang ratu bucin.


"Tutor biar pacar kita bucin dong, Ca." tanya Nara pada Nisa.


"Buat apa? Lo kan mau nikah, Ra." kata Nisa.


"Buat Reza lah. Walaupun udah mau nikah tapi sifat dia udah kaya batu berjalan anjir. Masa iya nanti serumah nggak pernah ngobrol kaya Mr. Bean dong." kata Nara. Luna dan Nisa tertawa karena mendengar ocehan tak jelas Nara.


"Hih kok kalian ketawa si, gue—"


"Seru banget ya belajarnya sambil ngobrol. Nih tante bikin cemilan buat nemenin belajar kalian biar tambah semangat." kata Clara mamih Nisa. Wanita itu membawa cemilan berbentuk lingkaran.


"Makasih tante," kata Luna dan Nara.


"Sama-sama, tante ke belakang lagi ya, kalian kalau udah belajarnya nanti makan bareng ya, tante lagi masak soalnya." kata Clara lalu pergi ke dapur. Mereka berdua mulai makan cemilan yang dibuat mamihnya Nisa. Entah kenapa Luna tiba-tiba merasa tidak enak.


"Ih enak banget, ini namanya apa si, Ca?" heboh Nara saat merasakan satu gigitan lembut dari cemilan itu.


"Oh ini namanya bolu-bolu udang, Ra." jawab Nisa santai. Sedangkan Luna wajahnya tiba-tiba panik dan pucat. Gadis itu segera mengemas tasnya bergegas pulang.

__ADS_1


"Maaf Ca, kayaknya gue harus pulang deh." kata Luna pada Nisa. "Nara gue duluan!" Luna berlari dengan tergesa-gesa. Nisa dan Nara saling pandang bingung dengan sikap Luna kali ini.


Luna kenapa?. Batin Nara.


__ADS_2