
Bel sekolah sudah berbunyi 1 menit yang lalu, Luna dan Nara tengah berjalan menuju parkiran. Hari ini Luna akan menginap dirumah Nara, tadi siang ia sudah memberitahu tante Gita ia akan menginap. Terlebih lagi Nara berhutang penjelasan padanya, yang mengakibatkan dirinya dihukum pagi tadi.
"Lo pulang bareng gue," tiba-tiba Arka datang dan langsung mencekal tangan Luna saat berada di parkiran.
"Nggak, gue mau nginap dirumah Nara." Luna mencoba melepas cengkraman itu namun tenaganya tidak sekuat Arka.
"Lo nggak boleh nginap—"
"Gue udah izin sama tante Gita juga Ayah, katanya boleh kok." Ujar Luna menampilkan puppy eyes. Sepertinya cara ini berhasil. Buktinya Arka mau melepaskan tangannya meski berat. Namun setelahnya cowok itu berujar kembali.
"Oke. Kalau udah sampai kabarin gue, kalau ada apa-apa telepon gue, ingat."
"Iya, Arka bawel banget."
"Good girl," Arka mengelus pucuk kelapa Luna gemas. Setelahnya Arka pergi meninggalkan Luna dan Nara. Nampaknya Arka dan ALTARES akan pergi ke suatu tempat. Terlihat ketika Alga menuntun agar ALTARES mengikutinya dari belakang.
Setelah ALTARES sudah benar-benar tidak ada disana tiba-tiba saja Nara berteriak. "Aaaaaa....Luna demi apa? Itu tadi Arka 'kan?? Kok bisa lunak banget sama lo?"
"Ceritanya panjang."
"Gue punya banyak waktu kok." Luna menghembus nafasnya pasrah. Mereka berdua dalam perjalanan pulang. Luna berhutang satu penjelasan begitu juga dengan Nara, mungkin nanti malam mereka berdua akan begadang.
...****...
"Siapa yang bikin lo kayak gini?" Tanya Arka dengan nada serius
"Gue nggak tau, Ka. Mereka semua pakai masker." Cowok itu menyenderkan badannya dikepala ranjang, "Tapi yang gue ingat, salah satu dari mereka ada yang memakai jaket dengan logo naga,"
"DRAGON," semua mata tertuju pada Devano. "Iya cuma geng mereka yang nggak suka sama kita, terlebih lagi Naga adalah simbol dari persatuan mereka 'kan. Gue nggak nyangka mereka sampai bikin Karlo Kya gini, ini benar-benar kelewatan." Ucap Devano panjang lebar.
Inti dari ALTARES berada di rumah sakit, karena mendapat info bahwa Karlo berada disana. ALTARES dengan DRAGON memang tidak baik hubungannya, namun siapa sangka kelakuan mereka kali ini benar-benar keterlaluan. Begitu pengecutnya mereka sehingga main keroyokan begini.
"Gimana, Ka? kita harus balas mereka 'kan?" Razi benar-benar kesal saat ini telinga cowok itu bahkan sudah memerah sekarang.
"Tangan gue udah gatal." Geram Reza
"Ayok gue mah ngikut aja, iya 'kan, Ca?" Devano menatap Nisa seakan menantang cewek itu lewat tatapannya. Tentu saja itu dibalas anggukan olehnya.
Arka menatap Alga sekilas, dan dilihatnya cowok itu mengangguk seakan setuju dengan ucapan temannya. Arka juga tidak habis pikir, bisa-bisanya mereka menyerang dari belakang, padahal mereka dulu sangatlah Akrab. "Oke, besok kita kumpul di basecamp buat nentuin strategi. Kita bakal hajar habis-habisan mereka."
Sepertinya pertempuran besar akan terjadi esok hari. DRAGON adalah gang motor yang jarang membuat onar, namun belakangan ini gerombolan itu terlihat tidak suka dengan ALTARES. Tidak ada asap jika tidak ada api, pasti ada sesuatu yang menjadi perselisihan diantara mereka. Arka bahkan sampai tidak habis pikir, apa kesalahan yang diperbuat oleh ALTARES padanya.
Sementara di rumah yang sederhana ada dua cewek yang sama-sama terkejut dengan beberapa fakta. Fakta dimana Luna bisa dekat dengan Arka, dan Fakta tentang Nara yang dekat dengan cowok idamannya.
"Lo serius?" Nara menatap tak percaya, cewek itu menopangkan dagunya di kedua tangannya
"Gue serius, tiba-tiba aja Arka deket sama gue. Gue juga kayak ngelihat sisi lain darinya. Gue pernah ketemu Arka di pemakaman, dan itu gue benar-benar ngerasa itu bukan Arka sumpah," jelas Luna. Arka yang katanya menyeramkan dan begitu ditakuti, tetapi akhir-akhir ini bukan itu yang Luna temui. Arka yang perhatian, Arka yang lembut, namun keras kepalanya masih melekat tak mau hilang.
__ADS_1
Nara mengangguk-angguk seakan mengerti. "Tapi lo juga harus hati-hati, takutnya ada udang di balik batu. Siapa tau dia cuma mau manfaatin lo."
"Manfaatin gimana?"
"Nih ya, Arka itu punya mantan namanya Loly. Mereka itu udah lama pacaran, dan Loly cinta pertama Arka. Lo tau 'kan kalau cinta pertama itu nggak gampang hilangnya. Gue takut Arka deketin lo buat pelampiasan,"
Luna nampak berfikir. Mana mungkin Arka menyukai cewek sepertinya, dari sekian banyak cewek di SMANBA Luna itu bukan apa-apa 'kan. Tapi jika dipikir-pikir Nara ada benarnya, lalu untuk apa perlakuan manis itu Arka berikan padanya?
Untuk balas dendam? Untuk pelampiasan? Atau untuk tempat singgah sementara karena pemeran utama sedang tidak dalam jangkauan? Ah sudah lah. Luna harus pandai-pandai mengendalikan perasaannya, jangan sampai ia memberikan perasaannya pada orang yang salah.
"Nara, lagian yah gue nggak suka sama Arka. Cowok diluar sana itu banyak bukan cuma dia aja."
"Nyenyenye."
Reflek Luna menampol pipi Nara karena kesal. "Gantian, sekarang lo yang harus jelasin semuanya ke gue!''
Nara menarik nafas panjang-panjang dan mulai bercerita. Luna menjadi pendengar yang baik, dirinya benar-benar kaget mendapat berita yang mendadak seperti ini. Nara itu sahabat baiknya, Luna memang memiliki teman banyak di SMANBA namun yang seperti Nara tidak ada.
"Jadi kapan lo nikah?" Tanya Luna setelah mendengar semua penjelasan Nara.
"Setelah ujian, dan niatnya liburan nanti bakal buat bulan madu gue" ucap Nara binar.
Luna yang sedang meminum jus jeruk tiba-tiba tersedak. "Lo serius? Apa itu nggak kecepatan?"
"Gue si nggak keberatan, ini semua kemauan Papi gue, Lun."
"Ya iya lah, cowoknya tuh dingin banget kayak kutub Utara. Gue aja nyetok sabar banyak banget." Ucap Nara mengingat bagaimana ia berusaha menerobos masuk ke dalam cowok idamannya. Entah terbuat dari apa hati yang cowok itu miliki. Sepertinya saat cowok itu diciptakan bumi sedang dilanda badai salju.
Drtt drtt drtt
Ayah♥️
|Hallo princess
|Gimana hari ini?
^^^Luna^^^
^^^|Nggak ada yang spesial:(^^^
^^^|Kangen ayah^^^
^^^|Kapan pulang?^^^
Ayah♥️
|Kayaknya agak lama, sabar ya
__ADS_1
^^^Luna^^^
^^^|Iya:(^^^
Ada perasaan tidak enak yang Luna rasakan, semoga saja ini bukan pertanda buruk. Ayah adalah segalanya bagi Luna, ia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang sekali lagi. Walaupun sudah mencoba ikhlas, rasa sakit pasti muncul kembali disana.
Saat semua orang disuapin ibunya saat kecil, Luna TIDAK. Saat semua orang bermain dengan ibunya, Luna TIDAK. Saat itu hanya ada Rey yang juga rapuh, Rey yang mencoba menghibur Luna putri kecilnya. Mengingat itu semua membuat Luna sedih, dan tak terasa air mata mulai turun membasahi pipinya.
"Luna, lo nangis?"
"Mata gue pedih, gue gak nyangka sahabat gue bakal jadi istri orang," Bohong Luna. Ia mencoba menghapus air matanya yang jatuh tanpa perizinan dari sang pemilik.
Setelah itu Luna izin ke balkon milik Nara. Tempatnya sejuk hampir sama dengan balkon kamar miliknya. Ditatapnya sang rembulan dan beberapa bintang yang gemerlap, ada satu bintang kecil yang sangat terang seakan tersenyum padanya.
"Luna tau itu pasti Ibu 'kan?" Sibuk dengan lamunannya tiba-tiba saja ponsel milik Luna bergetar. Dengan malas Luna menggeser tombol hijau itu.
"Hallo, ada apa—"
"Kenapa lo belum tidur? Ini jam berapa, tidur sana! Lo udah makan 'kan? Jangan sampai lo sakit gara-gara tuh cacing pesta diperut lo." Potong seseorang diseberang sana
"Jangan lupa—"
"Arka, lo bawel banget si. Kalau ngomong satu-satu kenapa si." Protes Luna, entah ada dengan cowok itu belakangan ini. Luna hanya takut jika ia berharap lebih pada Arka. Luna itu cewek normal, siapa yang nggak baper jika diperlakukan seperti ini oleh cowok.
Sepertinya Arka berhenti bicara sekarang, bisa Luna dengar cowok itu menghembuskan nafasnya kasar. Apakah sedang ada masalah yang menyapanya?
"Oke," hanya itu yang Arka katakan
Entah kenapa ada rasa tidak enak pada Luna. Mungkin niat cowok itu baik tetapi Luna hanya tidak mau memberikan celah untuk seseorang jika ingin menyakitinya nanti, karena harapan bisa saja menjadi kelemahan seseorang.
"Arka, bisa nggak lo jangan terlalu dekat sama gue? Dan lo juga jangan memperhatikan gue berlebihan seperti ini,"
"Kenapa?"
Jantung Luna berdetak lebih cepat sekarang. Pertanyaan Arka benar-benar menebarkan, walaupun hanya satu kata dan enam huruf. Luna menggigit bibirnya karena tidak tahu harus membalas apa agar Arka tidak tersinggung.
"Kita 'kan nggak pacaran," Luna mewanti-wanti jawaban yang akan Arka berikan. Keringat bercucuran di dahinya. Semoga saja ketua Gang ALTARES itu tidak melakukan hal² yang tidak ingin merugikan dirinya.
"Oh."
Tut Tut tut
Tiba-tiba saja panggilan terputus oleh Arka. Luna hampir tidak percaya hanya itu respon yang Arka berikan. Luna berharap Arka bisa mengerti keadaannya. Tanpa ingin memikirkannya lagi Luna masuk ke dalam dan langsung tidur.
Namun di seberang sana ada seseorang yang tidak bisa memejamkan matanya. Lalu ia pergi ke meja belajarnya dan mengambil kertas lalu menulis beberapa kalimat yang cocok untuk seseorang besok pagi.
"Gue nggak tau caranya. Tapi ini nggak terlalu alay 'kan."
__ADS_1