Arkabian

Arkabian
23. Tidur Serumah


__ADS_3

"Kenapa, ayah kasih ijin dia tidur di sini si?"


"Arka itu anak baik, Luna."


Luna menatap Arka yang sedang tersenyum tanpa ada rasa bersalah, cowok itu dengan enteng mengangkat kakinya satu sambil meminum kopi yang Luna buatkan tadi. Luna mengejar Rey, memintanya agar segera memulangkan Arka.


"Luna nggak suka sama dia," kata Luna yang berhasil menghentikan langkah Reyhan.


"Kenapa?" tanya Rey menatap putrinya.


Luna kelagapan, mana mungkin Luna mengatakan jika ia tidak suka kalau Arka berdekatan dengan Lolly. Rey juga tidak tahu kalau Arka pernah menjadi pacarnya walaupun hanya sebentar.


"D-dia pernah ngebentak Luna," jawab Luna. Ia juga merasa sakit saat cowok itu membentak nya, walaupun ini bukan pertama kali Arka berbicara dengan nada tinggi padanya.


"Kamu suka sama Arka?" tanya Reyhan secara tiba-tiba.


"Hah? Nggak. Mana mungkin Luna suka sama dia," jawab Luna mengelak.


Reyhan mengelus kepala Luna, "Ayah nggak ngelarang kamu suka sama siapa, Luna. Yang terpenting adalah kebahagiaan putri ayah ini."


"Ayah, Luna nggak suka sama Arka."


Luna memang tidak pernah berpacaran selama ia sekolah, saat dengan Arka percaya lah itu adalah yang pertama bagi Luna. Bukannya tidak ada yang mau dengan Luna, namun tidak ada yang berhasil menarik hati Luna saat itu.


"Ya udah sekarang tidur, ya. Besok kan sekolah." ucap Reyhan lalu mencium kening Luna. Sedangkan Luna pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Mulai sekarang kita putus, gue nggak mau berhubungan apapun itu dengan lo. Gue baik sama lo karena gue kasihan bukan karena cinta!!!


Memori menyakitkan itu terus berputar di otak Luna. Jadi selama ini Arka hanya kasihan padanya, perhatian yang selama ini Arka berikan karena perintah dari ayahnya?


Kenapa cowok itu tega melakukannya. Luna akui, ia sempat menaruh perasaan pada Arka. Namun semua itu tidak lagi ada karena rasa kecewa yang banyak.


"Gue kok bodoh, ya." Luna menertawakan dirinya sendiri. Luna merasa suhu di kamarnya terasa panas, padahal ac dikamar nya sudah di nyalakan.

__ADS_1


"Kok jadi haus ya," Luna pergi ke dapur untuk mengambil minum, tanpa sengaja Luna melihat Arka tidur di ruang tengah di sofa panjang.


Arka bergerak tidak nyaman karena posisi tidurnya. "Kenapa gue harus peduli?" Luna kembali melanjutkan mengambil minum di dapur. Setelah meneguk segelas air, Luna kembali ke kamarnya, namun suara Arka tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Nenek, Arka pengin nyusul nenek." kata Arka dalam tidurnya.


"Semua jahat, nek. Nggak ada yang sayang sama Arka."


Luna hanya memperhatikan Arka yang berbicara dalam tidurnya. Ada rasa kasihan saat melihat Arka dalam mode seperti ini. Luna memang tidak tahu banyak tentang Arka, namun ia teringat kembali perkataan Gilang, yang menyuruh nya untuk selalu di samping cowok itu.


"Gue benci sama lo, Ka." Luna berjalan melewati Arka dan mengambil sesuatu dari kamarnya lalu kembali lagi ke bawah. Luna memberikan Arka bantal dan selimut agar tidur cowok itu nyenyak.


Saat hendak kembali ke kamar, tangan Luna di cekal oleh Arka. "Jangan pergi," lirihnya. Luna menatap Arka yang masih terpejam. Cowok itu pasti merindukan nenek nya sampai-sampai terbawa mimpi.


Tiba-tiba ponsel Arka berbunyi di atas meja. Karena penasaran Luna mengambilnya dan menatap malas ponsel tersebut saat nama seseorang terpapar disana. Luna mematikan ponsel Arka tetapi setelahnya berdering kembali. "Gue benci sama lo, Ka."


Lolly Aureliani is calling


...*****...


"Hari ini ayah nggak ada pekerjaan, jadi ayah mau istirahat." kata Reyhan memberikan Luna sepotong roti dengan selai strawberry.


Luna memasukkan roti itu kedalam kotak bekal, "Luna berangkat ya ,yah.''


"Loh rotinya nggak dimakan?''


"Luna buru-buru. Nanti Luna makan di sekolah." kata Luna. Namun pergerakannya terhenti karena Rey mengatakan sesuatu.


"Berangkat bareng Arka, ya." kata Reyhan. Pagi ini memang Luna tidak melihat Arka dirumahnya, ia senang karena tidak melihat cowok itu pagi ini, namun sepertinya kesenangan itu hanya sesaat. Buktinya saat ayahnya selesai dengan kalimatnya, Arka sudah berada di halaman rumah Luna dan membunyikan klakson.


"Tapi yah, Luna bisa naik mobil. Kata ayah Luna nggak boleh naik motor kan." kata Luna mengingat perkataan Reyhan saat pria itu melarangnya karena takut Luna menghitup udara kotor karena polusi yang tak sehat.


"Kalau sama Arka, ayah rasa kamu aman."

__ADS_1


Mau tidak mau Luna menurut hari ini, Luna tidak mau di kutuk jadi batu karena tidak mau menuruti perintah orang tuannya. Luna menyalimi tangan Reyhan dan menghampiri Arka yang memasang senyum lebar sejak tadi.


"Gigi lo garing kebanyakan nyengir," kata Luna mengejek Arka.


"Pepsodent murah, gue bisa beli sekalian sama pabriknya." jawab Arka menaikan sebelah alisnya.


"Dasar sombong," kata Luna lalu memakai helm. Saat ingin menaiki motor, Arka menurunkan pijakan kakinya dengan tangannya. Luna sempat di buat baper oleh cowok itu, namun dengan cepat Luna menepis semua itu dari kepalanya.


Ayolah Luna ini masih pagi


"Ayo berangkat," kata Luna pada Arka.


"Gue bukan tukang ojek," Arka meraih tangan Luna yang berada di pundaknya agar melingkarkan tangannya pada pinggangnya. "Gini aja biar nggak jatuh."


"Arka berangkat dulu om." pamit Arka pada Reyhan yang masih menatapnya.


"Hati-hati dijalan jangan ngebut, Ka." kata Reyhan pada Arka.


"Siap komandan!''


Motor Arka berjalan membelah padatnya jalanan. Cowok itu terus memperhatikan Luna dari kaca spion nya. Wajah Luna yang cemberut sangatlah lucu bagi Arka.


Sesuatu yang sederhana namun membuat Arka bahagia. Luna yang merasa Arka memperhatikan nya terus menerus, ia menegur cowok itu.


"Gue tau gue cantik, tapi stop ngeliatin gue kaya gitu!" teriak Luna.


"Hah lentik? Bulu mata Lo kurang lentik?" teriak Arka karena suara angin yang membuat perkataan Luna samar-samar.


"Bukan lentik tapi cantik, dasar Arka jelek!" teriak Luna kembali.


"Iya gue tau, gue emang ganteng, Na." jawab Arka dengan pedenya. Luna terdiam sejenak, ada rasa aneh saat Arka memanggil dirinya dengan sebutan Una.


Luna jadi teringat saat pertama kali cowok itu memanggil dengan sebutan itu, saat itu Luna sedang ngambek karena Arka tidak mengizinkan ia membeli yogurt yang banyak. Namun setelahnya Arka memborong yogurt hanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Hih dasar jelekkk!" teriak Luna saat memori itu malah muncul di kepalanya. Sebenarnya Arka dengar saat Luna mengatainya jelek, Arka justru menolak pernyataan itu.


Arka itu ganteng, siapa si yang berani menolak pesona Arkabian Selat Muara. Ya mungkin untuk sekarang orang itu adalah Aluna Tasya Aprilia.


__ADS_2