Arkabian

Arkabian
27. Menghindar


__ADS_3

Satu minggu kemudian para siswa-siswi SMA NEGERI BANGSA melakukan kegiatan setiap tahunnya, yaitu ujian.


Kegiatan ini untuk menguji para siswa sampai mana mereka memahami apa yang telah mereka pelajari.


Luna dan teman-teman nya melihat pengumuman di mading depan kelasnya. Gadis itu sedang mencari namanya disana.


"Sepertinya sekarang lo yang berada di atas gue, Lun." kata Nara pada Luna. Mereka berdua memang terkadang naik turun nilainya, kemarin Nara yang berada di peringkat dua dan Luna diperingkat ke tiga. Tapi sekarang Luna yang berada di tingkat dua dan Nara berada dibawahnya.


"Seperti biasa, dan posisi pertama selalu diperoleh Alga," ujar Luna. Cowok itu memang selalu mendapatkan peringkat pertama selama ini, Alga adalah spek cowok idaman kaum hawa.


"Eh minggir," Nisa berlari membelah keruman dan segera mencari namanya di mading yang disusul Alga. "Jangan lari-lari, Ica." kata Alga memperingati.


Matanya berbinar seolah tidak percaya, "Gue di peringkat empat, lihat ini, Aga." kata Nisa menarik-narik tangan Alga.


"Anak pintar," kata Alga mengelus pucuk kepala Nisa.


Suara langkah kaki terdengar, itu adalah anak kelas 11 IPS 1. Mereka menghampiri Alga dan yang lainnya di depan kelas 11 MIPA 2.


"Gimana, Al?" tanya Devano pada Alga.


Alga tersenyum, "Seperti biasa." jawabnya.


"Otak Alga emang udah di modif sejak bayi ya guys," kata Razi tak heran dengan prestasi temannya.


"Lo gimana, Ca?" tanya Devano pada Nisa.


"Gue ikut lima besar dong," jawab Nisa.


Saat berada di sekolah lamanya memang cewek itu selalu mendapatkan nilai rendah. Orang tuanya sampai pusing mengajari anak perempuannya. Namun sekarang nampaknya Nisa mengalami kemajuan, ini semua berkat bantuan teman-temannya dan usahanya untuk menghilangkan rasa malasnya.


"Arka, lo gimana?" tanya Alga pada Arka. Cowok itu memasang wajah datar dan menyorot tajam pada seseorang.


"Peringkat sepuluh," jawab Arka.


"Wah, Arka selamat ya. Lo—"


"Dari belakang." lanjut Arka memotong ucapan Nisa. Semua orang di situ menatap iba pada ketuanya. Mereka tau pasti Arka akan mendapat hukuman dari ayahnya, oleh sebab itu Arka kadang harus benar-benar sempurna fimata ayahnya.


Arka berjalan menatap Luna tanpa berkedip, tatapannya tidak bisa Luna jelaskan. Ada sedikit amarah yang menguasai cowok itu.


"Ikut gue!" kata Arka menarik paksa pergelangan tangan Luna.


Nara menghadang mereka, "Heh, lo mau bawa teman gue kemana?"

__ADS_1


"Minggir. Atau lo mau nggak bisa jalan sebulan!" kata Arka dengan nada tak mengenakan.


"Gue—" tiba-tiba Reza menarik Nara agar tidak menghalangi mereka berdua. "Reza, itu temen gue." Reza justru menuntun Nara agar pergi dari sini. Cowok itu tidak mau jika Nara menjadi amukan Arka nantinya.


Inti ALTARES hanya diam, melihat Arka menarik ke belakang sekolah. Sudah dipastikan cowok itu mengajak Luna ke taman belakang sekolah, itu sebabnya mereka tidak menghentikan Arka.


"Arka, lepasin." Luna menghempaskan tangan Arka dengan kasar setelah mereka sampai di belakang.


"Lo kenapa?"


"Kenapa apanya?"


Arka mengacak rambutnya frustasi. "Lo seminggu ini ngilang tanpa kabar, Luna. Lo berniat ngejauh dari gue, hah?"


"Gue nggak ngejauh, kita kan memang nggak dekat." jawab Luna tanpa mau melihat mata Arka.


Selama seminggu ini Arka uring-uringan karena Luna tiba-tiba sulit dikabari. Arka bahkan sampai melewatkan latihannya demi mencari gadis itu. Cowok itu sudah berkali-kali ke rumah Luna, namun disana hanya ada ayahnya saja.


"Selama seminggu ini lo kemana?"


"Gue nginap di rumah Tante Gita, gue juga ngajarin Ba—" Luna menutup mulutnya karena hampir saja ia keceplosan.


"Ngajarin siapa?" tanya Arka menatap tajam Luna.


Arka memegang kedua pundak Luna dan sedikit menekannya, "Gue tanya sekali lagi. Lo ngajarin siapa?" tanya Arka menekan setiap katanya.


Luna meringis karena kuku Arka menekan kuat pundaknya. "S-sakit, Arka."


"SIAPA?"


Luna tidak berani menatap Arka, cowok itu sekarang dalam mode serigala ganas. Luna hanya berdoa dalam hati agar ia di kuatkan lagi oleh Tuhan.


''LUNA, LO NGGAK TULI KAN!" teriak Arka tepat di depan Luna. Mata Luna sekarang sudah berkaca-kaca, mungkin jika ia berkedip air matanya akan jatuh detik itu juga.


"Orang yang pernah nyulik gue."


...******...


Arka menghabiskan waktunya di rooftop sekolah. Cowok itu berdiri di dekat pembatas sambil menghisap rokok di tangannya. Bayangan di taman masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tak habis pikir, kenapa gadis itu bisa melakukan itu semua.


"Sebenarnya hati lo terbuat dari apa?" gumam Arka.


Arka benar-benar kecawa mendengar pengakuan Luna. Bagaimana bisa gadis itu mengajari seseorang yang udah pernah menyulik dirinya.

__ADS_1


"Arka." panggilan seseorang yang tak asing bagi Arka. Cowok itu hanya menoleh lalu fokus kembali ke depan.


"Besok kamu ada waktu nggak?"


"Kenapa?"


"Aku mau ngajak kamu datang ke pernikahan Nara sama Reza. Kata Nara yang datang wajib harus bersama pasangan nya."


"Lo mau bareng gue?" tanya Arka lalu berbalik menatap cewek di depannya.


"Mau dong. Apapun itu kalau sama kamu, aku mau." jawab Lolly. Sebenarnya cewek itu tidak di undang, jadi ia akan datang bersama Arka, karena Lolly yakin ALTARES pasti akan di undang. Soal mereka harus datang dengan pasangan nya itu benar, Lolly tidak sengaja mendengar itu dari beberapa siswa.


"Oke,"


"Makasih, Ka—"


"Lo boleh pergi sekarang." ucap Arka yang memang membutuhkan waktu untuk sendiri.


Lolly sempat terkejut, namun ia senang karena Arka mau datang dengannya. Lolly keluar dari rooftop menuju kelas Liona, namun di perjalanan cewek itu berhenti karena di hadang seseorang.


"Lo?"


"Lolly, gue mau ngomong sama lo."


"Gue nggak ada waktu," Lolly hendak pergi, namun baru satu langkah tangannya sudah dicekal oleh cowok itu.


"Gue mohon."


"Putra, lepasin." Lolly mencoba melepaskan tangannya. "Lo mau ngomong apa si?"


"Gue cinta sama lo, Lolly. Lo nggak lupa kan sama ucapan Daddy Lo," kata Putra pada Lolly.


"Stop. Gue cuman cinta sama, Arka. Soal perjodohan gue nggak akan pernah setuju, Putra.''


Putra tersenyum meremehkan, "Emang Arka cinta balik sama lo? Apalagi setelah semua apa yang lo lakuin pada ALTARES."


Lolly mengepalkan tangannya menandakan gadis itu kesal. Lolly memang banyak sekali berbuat kesalahan, tetapi cewek itu tetap percaya diri untuk mendekati Arka.


"Gue yakin, lama-lama Arka bakalan luluh kembali sama gue." ucap Lolly penuh percaya diri.


"Kok gue nggak yakin, ya. Apalagi setelah Luna masuk ke dalam duni Arka." kata Putra meremehkan.


"Lo lihat aja nanti, gue bakal nyingkirin Luna dari hidup Arka." kata Lolly. "Minggir lo," Lolly menabrak pundak Putra dan berjalan meninggalkan cowok itu sendiri. Putra hanya bisa bersabar menghadapi Lolly, apalagi cintanya bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


Lolly, Gue harap lo cepat sadar.


__ADS_2