Arkabian

Arkabian
12. Arka Dan Una


__ADS_3

"Iya tan, ini Luna udah sampai sama Nara. Tante Gita nggak usah khawatir ya, tante juga hati-hati dijalan."


Itulah percakapan terakhir Luna lewat telepon pagi ini. Tante Gita harus menjemput suaminya yang datang dari luar negeri di bandara, makanya wanita itu mengabari Luna, dan mungkin Tante Gita akan pulang ke rumahnya lagi bukan ke rumah Luna.


"Tante lo mau kemana?" Tanya Nara, mereka sekarang sedang berjalan di koridor menuju kelas mereka.


"Ke bandara. Suaminya pulang dari luar negeri," Tante Gita memang sering ditinggal kerja oleh om Rudi karena urusan kantor. Tetapi hubungan mereka tetap baik-baik saja meski terhalang oleh jarak, mengabari saja hanya sesekali, karena kurangnya waktu.


"Hai Luna, Nara." Sapa Nisa yang menghampiri mereka secara tiba-tiba dari belakang.


"Hai juga," mereka berdua berbalik dan menyapa.


"Gue boleh ngomong bentar nggak sama Nara? Gue mau di ajarin bela diri sama dia," Tanya Nisa menatap mereka berdua.


Luna dan Nara saling menatap namun setelahnya mengangguk. Dengan cepat Nisa menarik Nara berlari menjauh.


"Have fun, Luna." Teriak Nisa


"Hah maksudnya?" Luna tidak mengerti arti ucapan Nisa? Have fun? Untuk apa? Tanpa memikirkan nya lagi Luna berbalik hendak berjalan menuju kelas, namun laki-laki didepannya membuat Luna terkejut.


Untung saja Luna tidak punya riwayat penyakit jantung jadi aman.


"Arka, ngagetin tau nggak." Luna memegang dadanya karena refleks


"Buat lo," bukannya menjawab Arka justru memberikan kertas putih yang digulung serta dihiasi pita merah muda. Luna bingung namun tetap mengambil kertas itu dari Arka.


"Ini apa?"


Arka mengangkat kedua bahunya lalu pergi meninggalkan Luna yang dilanda kebingungan. Ini masih pagi, tapi Luna diberi sesuatu seperti ini. Dengan rasa penasaran ia membuka kertas pemberian Arka, namun beberapa saat setelah itu matanya membuat betapa terkejutnya Luna membaca kertas itu.


"SURAT PERNYATAAN?"


...SURAT PERNYATAAN BERPACARAN...


Mulai hari ini tanggal 24 Mei 2020, Arkabian Selat Muara menyatakan bahwa Aluna Tasya Aprilia menjadi pacarnya mulai detik ini.


Dengan ini pihak pertama tidak mau menerima penolakan dalam bentuk apapun.


Pihak pertama: Arkabian Selat Muara

__ADS_1


Pihak kedua: Aluna Tasya Aprilia


Apa-apaan ini? Arka tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi pacarnya 'kan? Sebenarnya ini bukan semua salah Arka, Luna menyesal kenapa tadi malam ia melempar pertanyaan seperti itu pada Arka, dan sekarang adalah buah dari perbuatannya.


"Pacaran dengan Arka? Ketua ALTARES,"


...******...


"Guys-guys, ada kabar menggemparkan." Tiba-tiba Razi datang dan membuat seisi kelas IPS 1 penasaran. Laki-laki itu tidak sengaja melihat kejadian tadi pagi di koridor.


"Kabar Reza mau nikah?"


"Yaelah bukan itu tapi—" ucapan Razi terpotong, "Tunggu dulu, Reza mau nikah?"


Karlo menutup mulutnya karena keceplosan. Ia mengetahui Reza mau menikah dari Devano, laki-laki itu satu-satunya yang dekat dengan Reza.


Karlo meringis, karena kecerobohannya seisi kelas sekarang tahu berita ini. Bahkan Razi saudara kembarnya saja tidak mengetahui ini semua. Razi menghampiri kembarannya yang duduk santai seolah tidak ada apa-apa.


"Beneran Za? Sama siapa?"


"Bukan urusan lo."


Kecewa?


Itu yang Razi rasakan saat ini. Iya merasa gagal menjadi adik yang baik, bahkan dirinya mengetahui kabar penting dari temannya, bukan dari saudaranya langsung.


"Kenapa Za, jawab!!" Razi mengguncangkan tubuh Reza. Nampak terlihat Reza, laki-laki itu hanya pasrah tubuhnya diguncang saudara kembarnya.


"Udah Zi, mungkin Reza membutuhkan waktu yang tepat buat bilang sama lo." Devano berusaha membuat Razi mengerti, Reza sempat bercerita padanya. Tentang dirinya yang akan menikah bulan depan, laki-laki itu sangat frustasi dan menghampiri rumah Devano tengah malam. Siapa yang tidak frustasi, disaat remaja lainnya menikmati hidup mereka tapi Reza harus memikul beban dengan menikahi seseorang, bukankah itu tanggung jawab yang sangat besar.


Reza menghembuskan nafasnya kasar, lalu laki-laki itu pergi meninggalkan kelas. Ia benci kehidupannya, kenapa dirinya tidak seberuntung orang lain? Reza pergi ke taman sekolah untuk menenangkan diri. Razi dan temannya hanya pasrah melihat Reza keluar kelas dan hilang dibalik pintu.


"Udahlah nggak usah dipikirin," Okta mendekat dan duduk disebelah Razi yang masih memandang lurus kedepan. "Mungkin dia perlu waktu,"


"Okta, gue ngerasa gagal jadi saudaranya."


Devano merangkul pundak Razi. "Gak usah mikir gitu. Lo itu udah jadi yang terbaik, Lo juga harus ngasih Reza waktu buat renungin ini semua."


"Nah betul itu. Eh btw tadi lo mau ngasih kabar apa?" Ucap Karlo mencoba mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Oh iya gue sampai lupa," Razi menepuk jidatnya sendiri. "Di kelas kita ada yang baru jadian loh."


Perunturan Razi membuat inti ALTARES heboh. Semua mendekat ke arah Razi dan memasang baik-baik telinga mereka. Berbeda dengan Arka, cowok itu nampak santai memakan permen dimulutnya. Tak heran si, Arka tak sengaja melihat Razi saat bertemu Luna tadi jadi ia bisa menebak apa yang akan laki-laki itu katakan.


"Lo nggak mau tau, Ka?" Tanya Razi sengaja menggodanya


"Gue tau Lo mau ngomong apa."


Razi hanya tertawa pelan berbeda dengan yang lain yang merasa bingung dan penasaran.


"Buruan apa, gue mau denger." Ucapan Karlo mendapat anggukan oleh inti ALTARES dan teman kelasnya yang diam-diam menguping.


"Ketua kita jadian sama Luna, mana sweet banget lagi di kasih bunga sama coklat," tutur Razi melebih-lebihkan. Tentu saja Razi mendapatkan tatapan tajam dari Arka. Menembak seseorang dengan bunga dan coklat? Itu bukan Arka banget.


"Si Rama jadian?" Tanya Devano


"Lah kok gue?" Rama Radhitya selaku ketua kelas 11 IPS 1 merasa bingung. Rama itu anaknya judes, galak, namun baik dan tanggung jawab. Dirinya jarang bergaul dengan perempuan, oleh sebab itu banyak yang menganggap dirinya homo.


Dan sekarang Razi bilang Rama menembak siapa tadi Luna? Bahkan dirinya tidak tahu siapa itu Luna.


"Yaelah bukan ketua kelas kita, tapi ketua ALTARES kita." Jawab Razi meluruskan.


"Wow beneran, KA?"


"Jadi Lo udah jatuh cinta lagi?"


"Sweet banget lagi caranya,"


"Ciee udah nggak gamon lagii."


"Gimana ceritanya dari awal?"


Begitu banyak pertanyaan yang temannya lontarkan. Arka hanya malas menanggapi pertanyaan tidak penting itu. Seperti Razi sudah merubah profesinya dari seorang playboy menjadi tukang gosip.


Arka memijat pangkal hidungnya karena pusing, temannya benar-benar ingin tahu apa yang terjadi. Sebenarnya Arka juga bingung, apakah yang dilakukan Arka ini benar atau salah? Yang jelas Arka tidak ingin Luna kenapa-kenapa.


"Sama siapa, Ka?" Tanya Devano penasaran


"Una," jawabnya singkat

__ADS_1


"Wah bahkan Arka punya panggilan kesayangan nya sendiri," goda Razi menaikturunkan alisnya.


__ADS_2