Arkabian

Arkabian
22. Rumah Ternyaman Adalah?


__ADS_3

Arka menatap malas ayahnya yang berada di depannya. Kini keluarga Prama sedang makan malam bersama, walaupun sikap Prama tidak seburuk dulu, namun Arka tetap membenci pria itu. Pria yang melakukan apapun dengan seenak hati tanpa memikirkan orang lain bagaimana.


"Gilang, kamu udah belajar kan?" tanya Prama pada anak pertamanya.


"Udah kok yah," jawab Gilang dengan seulas senyum di bibirnya.


"Bagus. Jangan buang waktumu buat hal-hal nggak jelas, apalagi ikut geng-geng sembarangan." kata Prama sedikit menyindir Arka.


Arka mengeratkan genggaman nya pada sendok, garpu yang ada di tangannya. Ini alasan Arka tidak betah berada di rumah, rumah yang katanya tempat pulang ternyaman, namun bukan untuk Arka.


"Arka, sekolahnya gimana?" tanya Clara.


"Baik, bun." jawab Arka mencoba menahan amarahnya.


"Minggu depan kan kamu ujian, jadi mulai sekarang harus rajin ya belajarnya," ujar Clara memberi semangat pada Arka.


"Minimal nilai kamu sembilan puluh sembilan, dan sekolah kamu setiap kegiatan classmate pasti ngadain lomba basket, kamu harus menang besok." kata Prama tanpa mau di bantah. Arka benar-benar capek, ia juga manusia bukanya robot. Kenapa pria itu nekat ingin menjadikan dirinya sempurna.


"Arka udah nggak main basket," jawab Arka dengan jujur. Ia memang sudah lama tidak bermain basket saat dekat dengan Luna. Toh Arka juga sudah lelah jika dituntut harus menang, padahal setiap pertandingan pasti ada kalah ada menang, tidak selamanya kita akan berada di atas terus.


"Mulai besok kamu berlatih sama ayah, dan buat ujian kamu, ayah akan bilang sama Lolly buat ngajarin kamu. Ayah harap kamu bisa menjadi sepintar gadis itu." kata Prama tanpa mau memikirkan perasaan Arka.


"Tapi yah—"


"Cukup, Gilang. Untuk kali ini kamu nggak bisa bantu Arka." potong Prama cepat. Gilang memang selalu membela Arka, namun cowok itu di anggap sok pahlawan okeh Arka. Lagian Arka pikir pasti Gilang senang karena hidup tanpa di atur oleh ayahnya.


"Gimana, Ka?" tanya Prama pada Arka.


Arka menghabiskan suapan terakhir nya, "Ayah tau jawabannya, walaupun Arka nolak itu nggak ngebuat ayah berubah pikiran kan." Arka berdiri berniat pergi dari meja makan. "Ayah emang selalu egois."


"Arkaaa!!!" teriak Prama. Emosinya semakin memuncak saat melihat Arka rapih dengan jaket kebanggaan nya, "Nggak usah pulang sekalian kamu, Arka!!!"


"Mas, udah." Clara mencoba membujuk suaminya agar tidak tersulut emosi. Sedangkan Gilang pamit pergi ke kamarnya dan melanjutkan belajar nya.


Gilang melihat langit malam melalui jendela kamarnya. Dari atas sini Gilang bisa melihat Arka yang hendak melaju dengan motornya, lalu perlahan hilang di telan jalanan.


"Sabar ya, Ka. Gue tau lo pasti kuat."

__ADS_1


...******...


"Nenek, Arka kangen."


"Ayah jahat, nek."


"Kalau nenek ada disini, pasti nenek udah ngejewer ayah kan,"


Arka bercerita di depan batu nisan milik neneknya. Ada rasa rindu yang Arka pendam, nenek Maria adalah segalanya bagi Arka.


Tujuan Arka adalah basecamp, namun mengingat hanya neneknya yang bisa ngertiin Arka, cowok itu mampir sebentar walau hanya mengeluh pada gundukan tanah itu.


"Nenek waktu jauh dari kakek rasanya gimana?"


''Apa rasanya sesak?"


Tiba-tiba memori tentang Luna di rumah sakit muncul di kepala nya. Mengingat sikap Luna yang mencoba menjauhinya membuat Arka ingin marah. Arka tidak tahu ada apa dengan dirinya, padahal ia sendiri yang memutuskan hubungan dengan Luna waktu itu, bahkan Arka sempat membentak Luna di depan semua orang.


"Apa Arka jatuh cinta lagi ya, nek?"


Cukup lama Arka terdiam menatap batu nisan itu, sekarang Arka pergi meninggalkan istirahat terakhir neneknya, lalu Arka pergi ke suatu tempat membeli sesuatu.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban sama sekali. Arka kembali mengetuk, disaat ketukan ketiga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan gadis yang lucu di depannya.


"Hai," sapa Arka.


Saat pintu akan ditutup kembali dengan cepat Arka menahannya dengan kaki, "Gue mau ngomong sebentar, Lun."


"Pergi dari rumah gue, Arka." Luna terus menerus mendorong pintu berharap ia bisa menutupnya.


"Gue mau minta maaf sama lo," kata Arka pada Luna.


"Gue benci sama lo."


"Gue mau ketemu om Rey, Lun." ucapan Arka yang terakhir membuat Luna membiarkan pintu terbuka, bagaimana cowok itu bisa mengenal ayahnya? Padahal Arka dekat dengannya hanya baru-baru ini, itupun hanya sebentar.

__ADS_1


"Lo kenal sama ayah gue?" tanya Luna bingung.


"Bukan cuman kenal, Lun. Ayah lo itu mantan ketua ALTARES pada masanya, semua anak ALTARES tau siapa om Rey itu." jelas Arka.


Ayah, ketua geng motor?


"Jadi gue boleh masuk nggak?" tanya Arka membuyarkan lamunan Luna.


Luna menghela nafasnya pasrah, "Silakan masuk, gue panggil ayah sebentar."


Saat Luna hendak menaiki tangga untuk memanggil ayahnya, Arka mencekal tangan Luna dan memberikan sekressk cemilan pada Luna.


"Buat lo, semoga lo sukaa,'' Luna mencoba mengintip kantung krese tersebut. Ternyata isinya beberapa snack dan yah, ada yogurt juga didalamnya . Luna dengan cepat mengubah ekspresi nya agar terlihat biasa saja.


"Lo bisa duduk disana," Luna menunjuk sofa panjang di ruang tamu. "Gue mau panggil ayah dulu."


Sudah lama Luna naik namun belum juga turun, karena bosan Arka melihat-lihat beberapa foto yang di pajang di dinding. Ada satu foto yang menarik perhatian Arka. "Lucu,"


Arka melihat Luna kecil dengan bando unicorn dan baju warna Lilac. Ternyata sesuka itu Luna pada hewan bertanduk satu. "Lo emang cantik dari kecil ya, Na. Muka lo di situ benar-benar lucu."


Suara langkah kaki membuat Arka kembali ke tempat duduknya, ia bisa melihat om Rey datang dengan Luna di sampingnya.


''Kata Luna, kamu mau ketemu sama om. Ada apa, Ka?" tanya Rey kepada Arka.


"Arka mau ngomong empat mata, om." kata Arka yang melihat Luna masih berada di samping Reyhan.


Luna memutar bola matanya malas, "Oke, Luna ke kamar." Namun Rey menghentikan langkahnya Luna dengan ucapannya. "Kenapa ke kamar? Ayo buatkan minum buat Arka, Luna."


"Oke, ayah." Luna berjalan malas menuju dapur. Mengapa cowok itu bertamu di malam-malam seperti ini, Luna takut jika Arka menertawakan dirinya karena Luna sekarang memakai piyama bergambar unicorn.


Sementara Luna sibuk dengan alat dapur, Arka memulai percakapan nya dengan Rey. "Arka minta maaf om,"


"Maaf buat apa?" tanya Rey bingung.


"Arka gagal ngejaga anak om, Arka juga udah ngebuat anak om nangis. Arka udah bikin hati Luna sakit dengan ngebentak nya di depan semua orang." kata Arka penuh dengan penyesalan.


"Nggak apa-apa, Ka. Kamu udah ngelakuin apa yang kamu mampu. Om tau ini berat bagi kamu, apalagi kamu masih punya perasaan sama orang lama." kata Rey yang memang tahu tentang Arka. Rey juga tahu jika Lolly itu cinta pertama Arka.

__ADS_1


"Tapi om, Arka gagal ngejaga Luna sampai-sampai anak om masuk rumah sakit karena alergi nya."


"Apa?"


__ADS_2