Arkabian

Arkabian
18. Pasar Malam


__ADS_3


Suasana lapangan kota sangat ramai karena terdapat pasar malam yang diselenggarakan setiap tanggal enam setiap bulannya. Disini lah sekarang Nara dan Luna, Nara berniat membawa Luna jalan-jalan menikmati berbagai wahana di sini.


"Gue jadi pengin naik kuda-kudaan deh," kata Nara melihat wahana kuda yang berputar, disana banyak anak-anak yang bermain didampingi oleh orang tuanya.


"Yang ada kudanya nggak jalan karena keberatan, Ra." Ejek Luna


"Lo mah gitu," Nara cemberut namun setelahnya Nara menggandeng Luna saat matanya melihat seseorang yang tak asing.


"Loh kalian disini?" Tanya Nara kepada kedua orang itu. Ternyata Reza diam-diam mengikuti Nara pergi ke sini, cowok itu juga tidak sendiri melainkan mengajak Gilang.


"Cowok lo yang ngajak, Ra. Katanya takut lo kenapa-kenapa," kata Gilang namun Reza hanya diam lalu menggandeng Nara pergi menjauh meninggalkan Luna dan Gilang sendiri.


"Hai, Luna." Sapa Gilang.


"Hallo kak," jawab Luna sedikit canggung.


"Mau naik sesuatu, Lun?" tanya Gilang pada Luna.


Luna mengedarkan pandangannya.


Mencari wahana kesukaannya saat bersama orang tuanya dulu. Tak butuh waktu lama, mata Luna berbinar melihat bianglala cantik yang terhiasi lampu warna-warni. "Gue mau naik itu kak," tunjuk Luna.


Gilang mengandeng Luna untuk membeli tiket. Jantung Luna berdetak tak karuan karena digandeng Gilang. Tapi dengan cepat Luna mengatur ekspresinya agar terlihat biasa saja.


"Berapa ya, pak?" tanya Gilang kepada petugas wahana bianglala.


"Untuk berapa orang?" petugas itu kembali bertanya.


"Dua orang, pak."


"Untuk dua orang, jadinya empat puluh ribu,'' jawab petugas itu. Gilang menuntun Luna masuk ke wahana itu, mata Luna benar-benar berbinar saat menaiki wahana kesukaannya. Sudah lama rasanya perempuan itu tidak naik bianglala.


Bianglala itu mulai berputar, menjadikan kabin yang di bawah menjadi di atas. Dari atas sini Luna bisa melihat keramaian pasar malam dari atas, pemandangan yang cantik.


"Lo sering naik ini, Lun?" tanya Gilang melihat wajah Luna yang nampak senang.


"Iya. Dulu gue sering naik ini, kak," kata Luna. "Seneng aja gitu, bisa lihat sesuatu yang indah dari atas sini. Contohnya kota Jakarta ini, jika dilihat dari atas semuanya nampak indah kerena dihiasi lampu malam."


''Jadi sekarang lo senang?" tanya Gilang.

__ADS_1


Luna menganggukkan kepalanya, "Senang, kak."


"Soal kejadian di sekolah, gue minta maaf atas nama Arka, Lun. Gue tau Arka benar-benar keterlaluan." Gilang tentu saja melihat kejadian dimana Arka menampar Luna didepan semua orang. Gilang tidak menyangka Arka akan memutuskan hubungannya dengan Luna saat itu juga.


"Nggak papa kok, kak, gue udah lupain itu. Lagian kan emang dari awal Arka nggak suka sama gue." Jawab Luna memandang Lurus kesamping, ia tidak mau Gilang melihat matanya yang berkaca-kaca.


"Tapi gue harap lo selalu di sisi Arka, Luna," Gilang meraih tangan Luna. "Cuma lo yang gue percaya buat ngejaga Arka, gue mohon jangan ngejauh dari dia."


Luna melepaskan genggamannya, "Maaf, kak. Soal itu gue butuh waktu."


Gilang tersenyum, membiarkan sedikit ruang untuk Luna. Ia tau sakit yang Arka perbuat itu begitu dalam sehingga membekas di hati Luna.


Setelah beberapa kali berputar akhirnya mereka berdua turun dari bianglala.


"Ada yang mau lo beli nggak?" tanya Gilang pada Luna.


"Gue mau permen kapas, kak," jawab Luna hendak mengambil uang dari sakunya, namun ditahan oleh Gilang.


"Biar gue yang beliin."


"Tapi, kak—"


"Pamali, Lun, nolak pemberian seseorang." kata Gilang menirukan perkataan Luna tempo hari.


Hari semakin malam, suasana pasar malam kini semakin ramai. Banyak sekali orang yang berdesak-desakan mengantri tiket wahana di sini. Luna duduk di kursi memakan permen kapas yang dibelikan kak Gilang. Cowok itu pamit pulang duluan karena ada urusan.


Bola mata Luna menyipit, menangkap sosok seseorang yang ia kenali. Orang itu bergandeng tangan berjalan hendak melewati Luna.


"Hai Luna. Gue minta maaf ya atas kejadian di kantin," tiba-tiba Lolly mendekatinya dengan Arka yang memalingkan wajahnya.


"Kenapa lo yang minta maaf, kan gue yang Jambak lo sampai jatuh." jawab Luna.


"Karena perbuatan Arka, gue tau dia keterlaluan. Gue—"


"Gue udah lupain itu semua," kata Luna memotong perkataan Lolly. Luna berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua. Mood nya akan jelek lagi jika terus berada di sekitar orang itu.


Luna menghentikan langkahnya saat melihat dua anak kecil dengan pakaiannya yang agak usang. Luna berjongkok untuk menyamakan tingginya.


"Hallo, namaku Luna." kata Luna menjulurkan tangannya. Sepertinya mereka takut dengan orang asing, karena anak itu diam saja, Luna kembali menarik tangannya.


"Luna," panggil Arka. Cowok itu tiba-tiba mengikuti Luna dan meninggalkan Lolly sendiri. Luna hanya diam tidak memberi respon

__ADS_1


Arka ikut berjongkok menatap dua anak kecil tersebut, "Hei jagoan, nama kalian siapa?"


"Nama aku Ciko." jawab anak laki-laki itu.


"Oh Ciko. Kalau yang cantik ini namanya siapa?"


"Ini Dela, ini adik aku kak. Tapi dia sedikit pemalu." jawabnya kembali. Luna tidak percaya Arka bisa membuat dua anak itu berbicara padanya, bahkan dirinya tidak bisa.


"Ciko, Dela, kalian kenapa? Kok Kayanya sedih," tanya Luna.


"Adik aku ingin naik wahana itu kak," Ciko menunjuk wahana bianglala yang sempat Luna naiki. "Tapi aku nggak punya uang."


Hati Luna merasa tersentuh, ia hendak mengambil uang dari sakunya namun kalah cepat dengan Arka. Cowok itu memberi uang seratus ribu kepada Ciko. "Ini kebanyakan kak."


"Nggak papa sekalian buat jajan kalian," Arka mengelus kedua anak itu. Karena senang mereka memeluk Arka dan matanya berkaca-kaca seakan tidak menyangka dengan semua ini.


"Makasih ya, kak. Kakak orang baik, semoga kalian berdua tetap bersama-sama ya." ucap Ciko. Luna dan Arka saling memandang.


"Oh iya, Dela nggak punya apa-apa. Tapi Dela punya ini buat kakak cantik." anak perempuan itu memberikan sesuatu kepada Arka.



"Pakein, pakein." sorak kedua anak itu. Arka memandang Luna disampingnya, ada perasaan aneh sejak cowok itu mengenal Luna. Ia sedikit menyesal karena berbuat kasar pada gadis itu.


Melihat Luna yang diam saja, Arka memakaikan bando unicorn itu sesuai keinginan anak-anak. Kedua anak itu merasa senang lalu pamit untuk bermain di wahana itu.


"Kakak cantik deh, semoga semesta tidak memisahkan kalian ya." kata Ciko lalu menarik adiknya membeli tiket bianglala.


Luna dan Arka sempat terdiam dengan ucapan anak-anak itu. Apakah benar semesta akan menyatukan mereka kembali? Atau justru akan menjauhkannya?


Luna hendak melangkah pergi namun Arka menahan pergelangan tangannya.


"Lo pulang bareng siapa?" tanya Arka pada Luna.


Luna melepaskan tangannya yang dicekal Arka, "Sendiri." jawab Luna cuek.


"Gue anterin." kata Arka.


"Gue bisa sendiri," ulang Luna dengan menekan setiap katanya.


Arka nampak berpikir cepat agar Luna mau pulang dengannya. Arka mendap ide dan langsung menarik Luna.

__ADS_1


"Arka—"


"Ayo beli yogurt," ajaib, Luna sama sekali tidak memberontak saat mendengar kata 'yogurt'. Sepertinya rasa sakit yang Luna rasakan tidak lebih besar dari keinginan meminum yogurt kesukaannya.


__ADS_2