Arkabian

Arkabian
19. Rooftop


__ADS_3

"Seragam lo masukin! Habis itu push up seratus kali."


Sepagi ini Alga sudah memarahi beberapa siswa yang melanggar aturan. Cowok itu selain menjadi wakil dari ALTARES, ia juga sebagai ketua OSIS di SMANBA.


Alga benar-benar capek harus menghadapi siswa yang tidak pernah berubah, jika melakukan kesalahan seharusnya diperbaiki, ini tidak besok pasti akan mengulanginya lagi.


Alga menatap lima siswa yang baru datang, ia menatap jam tangannya lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Kalian telat lima belas menit."


"Yaelah telat dikit, Al." Jawab Razi


"Kalian berdiri di lapangan satu jam dengan mengangkat kaki kalian! Kaki kalian nggak boleh turun sebelum waktu hukuman kalian habis." Kata Alga.


"Pagi-pagi udah kayak padi aja di jemur," kata Karlo yang sedang memakan cemilan.


"Lima menit aja ya, Al." Tawar Okta berharap Alga meringankan hukumannya. Namun ini Alga, cowok itu tidak memandang siapa yang dihukum, peraturan tetaplah peraturan.


Mereka berjalan menuju lapangan menjalankan hukumannya, jika mereka menundanya bisa-bisa Alga akan menambah hukumannya sekarang.


"Arka," panggil Alga saat cowok itu hendak melewatinya.


"Kenapa, Al?"


"Sehabis istirahat lo temuin gue di rooftop, gue mau ngomong penting." kata Alga lalu cowok itu pergi ke ruang BK untuk menyetor nama-nama siswa yang tidak patuh aturan hari ini. Sedangkan Arka menyusul teman-temannya yang sudah berada di lapangan.


Sedangkan di kelas MIPA 2, Luna baru saja memasuki kelas yang disambut suara cempreng Nara.


"Lunaaaa!" Nara langsung merangkul Luna dan membawanya ke tempat duduk. "Tumben lo telat?"


"Gue kesiangan, Nara," jawab Luna. Gadis itu tidak bisa tidur tadi malam karena banyak yang masuk ke dalam pikirannya. "Kok nggak ada guru, Ra?"


"Kata Alga jam kos," ucap Nara dengan gembira. Tiba-tiba saja ada satu siswi datang menggemparkan kelas MIPA 2.


"Guys-guys, ada kabar hot hari ini!" Teriak Rengganis yang biasa di panggil Rere. Cewek ini memang biang gosip nomor satu di SMANBA.


"Kabar apa si, Rengginang?" tanya Nara pada Rere.


Rere melototi Nara, ''Nama gue Rengganis, Ra, bukan Rengginang."

__ADS_1


"Sama aja, Re." jawab Nara malas.


"Jadi kabar apa woi?" tanya siswa lainnya yang merasa tak sabar.


"Jadi gini, King dan Queen sekolah kita comeback." Heboh Rere. "Tadi pagi gue liat mereka berangkat bareng."


Nisa yang semula sedang melamun langsung pucat, dia menoleh dan menatap Nara dan Rere bergantian. Semoga saja mereka tidak melanjutkan apa yang akan mereka katakan.


"King dan Queen, maksudnya?" tanya Luna bingung.


"King itu Arka, Luna. Sedangkan Queen—" Nara menutup mulutnya karena ia hampir keceplosan.


"Queen itu gue," kata Nisa. "ALTARES kan pernah bilang gue itu ratunya mereka, Queen Nisa.''


Nisa melototi Rere yang hendak protes dengan ucapannya. Nisa tau yang dimaksud Rere itu Lolly. Walaupun Nisa itu murid pindahan, tetapi gadis itu tahu banyak tentang sekolah ini.


Lolly disebut Queen karena cewek itu primadona di sekolah itu, selain itu Lolly juga termasuk siswi yang pintar dan cantik. Bahkan tak sedikit fans yang cewek itu miliki.


"Oh gitu.'' jawab Luna.


Nisa berdiri dari duduknya lalu menghampiri Luna dan Nara. "Luna, lo mau nggak ngajarin gue? bentar lagi kan ujian gue nggak yakin kalau gue bisa ngerjain."


"Boleh, Nara juga harus ikut, Ca. Dia itu jagoan matematika loh." kata Luna menyenggol perut Nara. Sedangkan Nara hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya Nara tidak sepandai yang Luna ceritakan, namun karena cewek itu akhir-akhir ini rajin belajar, makanya nilai matematika nya jauh di atas Luna.


"Gue ayo aja. Terus belajarnya mau di rumah siapa?" tanya Nara.


"Rumah gue aja, gimana? Nanti kalian gue kenalin sama Bubu gue deh," kata Nisa dengan gembira.


"Hah, Bubu?" beo Nara dan Luna yang berasa bingung.


Nisa membuka bungkus permen karet lalu memakannya, "Iya, Bubu itu boneka bebek kesayangan gue. Dia itu lucu pake banget deh."


"Oke deh," kata Luna dan Nara mengajungkan jempol mereka.


...*****...


"Di sekolah di larang merokok, Ka."

__ADS_1


Alga baru saja sampai di rooftop, ternyata disana sudah ada Arka yang duduk santai menghisap rokok ditangannya. Di antara ALTARES hanya Alga dan Devano yang tidak merokok, kata mereka rokok itu tidak ada manfaatnya, itu hanya akan menambah penyakit pada tubuh kita.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Arka yang mematikan putung rokonya lalu melemparkan asal ke tong sampah sebelahnya.


"Ini tentang Luna," kata Alga yang ikut duduk disebelah Arka.


Arka membenarkan posisi duduknya dan sering mendengarkan apa yang akan Alga bicarakan.


"Kemarin om Rey nemuin gue. Dia bilang Luna akhir-akhir ini sering nangis dan ngurung diri di kamar. Dia juga pernah nyebut-nyebut nama lo saat nangis,"


"Gue tau om Rey pasti khawatir, Ka. Lo di amanahkan untuk menjaga putrinya, tapi kenapa lo malah ngebuat anak orang nangis. Sebenarnya lo suka sama siapa? Luna apa Lolly?" jelas Alga panjang lebar.


Arka nampak diam sebentar. Cowok itu memandang lurus ke depan menatap langit yang biru tak berawan. "Gue bingung, Al."


"Maksud lo?"


"Gue nggak mau jauh sama Luna, gue mau ngejaga dia. Tapi di sisi lain gue juga nggak mau Lolly pergi setelah sekian lama dia ninggalin gue, Al." kata Arka lemas. Arka bingung jika harus memilih diantara mereka berdua.


"Lo laki-laki, Arka." Alga menepuk pundak cowok itu. "Lo harus lebih bijaksana dalam memilih, jika lo ragu dengarkan saja apa isi hatimu itu pasti yang terbaik buat lo.


"Gue nggak mau nyakitin mereka, Al." Kata Arka.


"Nggak usah serakah, lo harus milih sekarang." Tegas Alga sekali lagi.


Saat Arka sibuk mengobrol dengan Alga, tiba-tiba saja Lolly datang tak diundang. Cewek itu hanya merindukan Arka yang dulu.


"Arka ternyata kamu ada disini," kata Lolly mendekat lalu duduk disebelahnya.


"Arka, Lo harus ingat kata-kata gue." kata Alga lalu cowok itu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Emang apa yang Alga katakan?'' tanya Lolly penasaran. Cewek itu tidak mau jika Alga menghasut agar Arka menjauhinya. Lolly khawatir jika Arka membencinya.


Arka mengelus pucuk kepala Lolly, "Nggak, bukan apa-apa kok."


"Beneran?"


"Benar, Lolly."

__ADS_1


Tanpa persetujuan Arka, Lolly secara tiba-tiba memeuk cowok itu. Ada perasaan aneh yang Arka rasakan.


Rasa itu berbeda saat Luna yang memeluk dirinya. Pelukan Lolly saat ini tidak seperti pelukannya yang terakhir kali.


__ADS_2