Arkabian

Arkabian
21. Rumah Sakit


__ADS_3

Di Lorong rumah sakit Bunda Citra ada tiga anak laki-laki yang berdiri cemas. Mereka bergerak mondar-mandir kesana kemari bak setrika listrik. Pintu putih ruangan itu terbuka menampilkan dokter yang bernama Dr. Faisal.


"Gimana keadaan teman saya dok?" Tanya Alga khawatir.


"Dia cuman kecapean, apa akhir-akhir ini dia sering ikut balapan?"


"Kadang-kadang. Terakhir balapan kemarin." jawab Reza. Walaupun Reza irit bicara seperti batu hidup, cowok itu sangat peduli dengan siapapun, apalagi dengan Devano.


Reza di telepon bu Sri tadi pagi, cowok itu sempat kaget mendengar kabar kalau Devano pingsan di panti.


Lalu cowok itu membawa Devano ke rumah sakit dan memanggil Alga namun sepertinya Alga juga ikut memanggilnya Arka.


"Lebih baik kurangin balapan, jaga pola makannya dan jangan biarkan dia sampai kecapean. Saya pamit dulu, saya ada jadwal dengan pasien saya." jelas dokter Faisal


"Makasih, dok." kata Arka, Alga, dan Reza.


Mereka bertiga masuk satu persatu ke ruangan Devano. Cowok itu terlihat lemas dengan wajahnya yang sangat pucat seperti mayat. Walaupun sedang sakit, Devano masih saja menebar senyum pada orang-orang sekitar.


"Kenapa lo senyum-senyum? Sakit lo." ujar Arka lalu duduk di sofa.


"Gue kan emang sakit, Ka," jawab Devano.


Reza memberikan minum kepada Devano, "Lo nggak sakit, lo cuman kecapean itu yang dokter bilang."


"Makasih, Za." Devano menerima gelas itu lalu meneguknya hingga setengah.


"Kenapa lo nggak bilang kalau lo suka kecapean? Kita ini bukannya udah kaya keluarga ya, Dev." kata Alga. Cowok itu duduk di kursi dekat brankar.


"Gue nggak apa-apa, Al. Gue cuman telat makan sama kurang istirahat aja kok," jawab Devano dengan lemah. Cowok itu seperti tidak memiliki tenaga hanya untuk berbicara.


"Sekarang lo udah makan?" tanya Alga menaikan alisnya. Namun hanya di balas cengiran oleh Devano. Laki-laki itu memang belum sempat sarapan karena terburu-buru ingin menemui Kiko dan Dafa di panti.


"Kalau gitu gue keluar bentar," ujar Reza namun di tahan oleh Arka.

__ADS_1


"Gue aja, Za. Kebetulan gue mau beli sesuatu di luar. Lo jaga aja tuh temen lo yang ngeyel." kata Arka lalu cowok itu keluar dari ruangan ini.


...*****...


Luna. Sekarang gadis itu berada di rumah sakit, setelah pulang dari rumah Nisa ia langsung menghubungi dokter Faisal agar segera memeriksanya. Dirinya benar-benar lemas sekarang, Luna tidak mau membuat ayahnya khawatir jadi ia berinisiatif ke rumah sakit sendiri.


"Kenapa alergi kamu datang lagi?"


"Luna nggak sengaja makan udang, dok." jawab Luna mengingat ia makan bolu-bolu udang buatan mamihnya Nisa.


"Ayah kamu tau?" tanya dokter yang sedang menulis beberapa resep obat.


"Ayah nggak tahu. Luna juga minta sama dokter jangan kasih tau ayah, ya. Luna nggak mau ayah khawatir." kata Luna meminta agar dokter Faisal bisa menjaga rahasia ini.


Dokter Faisal tersenyum menanggapi perkataan Luna. Dokter Faisal itu bukan sembarangan dokter, melainkan teman dekat Rey dan dokter kepercayaan keluarga Luna.


"Ini kamu bisa tebus obatnya di apotik, lain kali kamu harus lebih hati-hati ya."


Saat di koridor rumah sakit Luna tanpa sengaja menabrak seseorang. Mata Luna melotot saat melihat siapa yang di tabrak. Luna tak mau membuang waktunya, jadi ia meneruskan jalannya.


"Lo sakit?" tiba-tiba tangan Luna di cekal begitu saja.


"Bukan urusan lo," Luna menghempaskan kasar tangan yang menahannya lalu hendak pergi, namun gagal karena tangannya kembali di tahan.


"Gue nanya, Luna." cowok itu berdiri dihadapan Luna lalu melihat wajah yang membuat dirinya damai. "Lo sakit apa? Kenapa lo ada disini?"


"Alergi gue kambuh." jawab Luna cuek


"Kok bisa kambuh? Lo nggak jaga pola makan lo ya, lo jangan buat gue khawatir, Luna. Kalau lo sakit gue gagal ngejaga lo, terus—"


"Stop, Arka!" Luna mulai lelah dengan Arka yang berpura-pura baik padanya. "Nggak usah terlalu ikut campur di kehidupan orang lain. Gue tau lo kasihan sama gue, tapi gue nggak semenyedihkan itu."


"Nggak gitu, gue—"

__ADS_1


"Gue bilang stop!" Luna mengacungkan jari telunjuknya di dekat bibir Arka. "Gue nggak mau dengar apapun itu. Gue mau mulai sekarang lo stop gangguin hidup gue, Lolly udah datang kan jadi stop seolah-olah lo ngasih harapan buat gue."


"Gue disini cuman peran pengganti kan di hidup lo," lanjut Luna. Dengan mata yang berkaca-kaca Luna pergi meninggalkan Arka yang terdiam karena tak bisa melawan kata-kata Luna.


Luna menangis bukan karena sedih, ini pertama kalinya Luna berbicara dengan nada tinggi. Entah kenapa jika ia berbicara dengan suara keras itu akan membuat matanya berkaca-kaca padahal ia tidak ingin menangis.


Sedangkan Arka, cowok itu kembali ke ruangan Devano. Cowok itu memberikan bubur yang ia beli kepada Devano.


"Lo kenapa lemes? Sakit juga." tanya Alga yang melihat perubahan itu.


"Gue nggak papa, Al." jawab Arka menyenderkan badannya pada sofa empuk itu.


"Jangan percaya, Al, dibalik kata 'nggak papa' itu pasti ada apa-apanya." kata Devano ikut campur dalam pembicaraan itu. Sedangkan Reza sibuk menyiapkan bubur itu untuk Devano.


"Sok tau lo, Dev." Arka berdiri dan mengangkat telepon dari seseorang. Butuh waktu beberapa menit bagi Arka untuk berbicara dengan lawan bicaranya. Cowok itu langsung pamit setelah menerima telepon.


"Mau kemana?" tanya Alga.


"Gue ada urusan, Al." Arka memakai jaketnya lalu menghampiri Devano dan menepuk pundak nya. "Gue pulang dulu, lo istirahat yang cukup soal administrasi udah gue urus."


"Makasih, Ka.'' kata Devano lalu tersenyum. Devano hanya merasa tidak enak dengan teman-teman nya, ia tidak mau merepotkan ALTARES.


Arka pamit lalu pergi menghilang di balik pintu itu. Devano merasa ada yang aneh dengan perilaku Arka, Devano tahu betul apa yang sedang Arka rasakan.


"Makan," kata Reza memberikan satu mangkuk bubur ayam yang tidak menarik. Devano mencicipi satu sendok lalu memberikan mangkuk itu kembali ke Reza.


"Nggak enak, Za, gue nggak mau." tolak Devano. Entah mengapa rasa bubur itu sangat hambar. Mungkin karena bubur itu tidak di kasih apa-apa, tidak ada saus tidak ada kecap, tidak ada kerupuk. Benar-benar tidak menarik.


"Makan sendiri atau gue suapin?" kata Reza menekan setiap katanya.


"Reza, lo gay?" kata Alga bergidik ngeri membayangkan jika Reza benar-benar suka sesama pisang.


Ucapan Alga tersebut mengundang bantal yang melayang ke wajahnya karena perbuatan Devano.

__ADS_1


__ADS_2