Arkabian

Arkabian
17. Berakhir


__ADS_3

"Bu bos kita boleh duduk disini?" Razi dan teman-teman nya berujar meminta izin kepada Luna yang duduk sendirian di kantin.


Luna hanya menganggukan kepalanya pertanda bahwa gadis itu mengizinkannya. Luna heran mengapa mereka semua mau duduk dengannya? Setau Luna inti ALTARES tidak akan mau meninggalkan tempat duduk biasanya yang sudah di klaim ALTARES.


"Tumben kalian mau duduk disini?" Tanya Luna menyeruput jus jeruk yang segar.


"Lo kan udah jadi bagian dari kita, Luna. Masa iya kita biarin bu bos kita sendirian si," ujar Karlo. Cowok itu memesan banyak sekali makanan, ada bakso, mie ayam, batagor. Memang patut jika Karlo mendapatkan julukan Raja Makan.


"Loh teman kalian nggak berangkat juga?" Tanya Luna yang mendapati inti ALTARES ada yang kurang.


"Oh si batu. Dia lagi asik ngurus persiapannya, satu minggu lagi kan dia mau nikah." Jawab Razi lesu


"Lo kenapa jadi lemes? Nggak seneng kembaran lo laku." Tanya Okta yang memperhatikan perubahan ekspresi cowok itu.


Siapa si yang nggak sedih jika ditinggal saudaranya? Razi hanya sedih jika Reza akan meninggalkan nya, ia benar-benar belum siap akan semuanya. Walaupun Reza kakak yang kurang ekspresi namun ia tetap kakak terbaik buat Razi. "Gue cuman belum siap mau pisah sama Reza."


"Itu semua udah takdir, Zi. Kita semua juga bakalan pergi satu persatu, cuman takdir Reza lebih cepat. Walaupun Reza bakalan nikah dia masih bersama kita, cuman bedanya dia udah punya tanggung jawab yang besar setelah nya." Jelas Devano


"Hai semua. Kalian nggak kangen sama gue?" Tiba-tiba Lolly datang dan menggeser paksa kursi Luna. Karena perbuatannya itu hampir saja Luna tersedak karena sedang minum.


Nisa yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas. Drama apalagi yang akan cewek itu lakukan.


"Karlo, lo kok diam aja saat ketemu gue? Biasanya kan lo yang paling heboh saat gue datang." Lolly merasa kesal karena tidak ada satu pun dari mereka yang menggubris dirinya, semua mengacuhkan dirinya sekaan gadis itu tidak ada disana.


"Gue mau ke tempat biasa," ucap Karlo yang sudah selesai dengan makannya, walaupun batagor miliknya tinggal sedikit, melihat Lolly membuat selera makannya hilang.


Karlo pergi dari kantin yang disusul dengan Okta dan Alga. Sekarang dimeja itu hanya terdapat Nisa, Devano, dan juga Luna.


Luna hendak berdiri dan pergi dari kantin, namun Lolly mencekal tangannya secara tiba-tiba.


"Gue mau lo jauhin Arka dan ALTARES!"


Luna tertawa, kenapa dirinya harus melakukan perintah Lolly, memang dia itu siapa. "Lo berani ngetawain gue!" Ucap Lolly kesal.


"Buat apa gue nurutin itu semua? Emang lo siapa bisa ngelarang gue dekat sama siapa saja." Luna menghempaskan secara kasar tangan Lolly yang mencekalnya.


Lolly berniat ingin menampar mulut Luna yang kurang ajar. Namun ia urungkan karena Lolly melihat Arka masuk ke area kantin. Sebuah ide muncul di otaknya, Lolly mengambil tangan Luna lalu mengarahkan ke rambutnya seakan Luna sedang menjambaknya.

__ADS_1


"Luna apa yang lo lakukan, lepasin ini sakit," Lolly mulai berteriak sehingga seluruh kantin melihat adegan ini.


"Lolly lo lagi ngapain? Lepasin tangan gue." Luna berusaha melepaskan tangannya agar semua orang tidak memikir yang tidak-tidak.


"Gue minta maaf kalau gue jadi pengganggu antara lo sama Arka. Gue tau sekarang lo pacarnya, gue cuma mau berteman saja apa itu salah?" Lolly menarik tangan Luna sehingga terlihat seperti mendorong dirinya. Cewek itu berpura-pura jatuh dan tersungkur seperti orang kesakitan.


Arka yang melihat itu semua mengepalkan tangannya. Cowok itu membantu Lolly berdiri


Plak!


Semua orang terkejut. Bahkan Devano dan Nisa sama terkejutnya. Luna memegangi pipinya yang terasa panas karena Arka menampar dirinya didepan banyak orang.


"Gue kiro lo cewek yang baik, yang polos, ternyata gue salah. Lo bahkan berani menjambak dan mendorong Lolly karena lo takut gue bakalan balik lagi sama dia. Itu benar-benar kekanak-kanakan, Luna!!" Bentak Arka dengan nada yang tinggi.


Mata Luna berkaca-kaca sekarang. Dirinya benar-benar tidak bisa jika dibentak, apalagi ini Arka yang membentaknya. Hatinya benar-benar terasa dicabik-cabik, sakit sakit sekali rasanya.


"Arka, lo keterlaluan ini nggak kaya apa yang lo lihat." Kata Nisa tidak terima dengan apa yang Arka buat.


"Gue keterlaluan? Dia yang keterlaluan!" Arka menunjuk Luna dengan telunjuknya. "Mulai sekarang kita putus, gue nggak mau berhubungan apapun itu dengan lo. Gue baik sama lo karena gue kasihan bukan karena cinta!!!"


"Nggak Dev, gue nggak mau dengar apapun itu." Arka memotong ucapan Devano lalu menuntun Lolly pergi dari kantin. Banyak bisik-bisik yang masuk ke telinga Luna. Hati Luna hancur melihat Arka yang seperti ini, Luna yakin dirinya sudah benar-benar mencintai cowok itu.


"Luna—"


"Gue mau sendiri dulu, Ca." Luna pergi berlari meninggalkan Nisa dan Devano disana. Dirinya benar-benar hancur sekarang, ucapan Arka sangat tajam, Luna bahkan tidak pernah berpikir Arka akan melakukan itu semua.


Nisa menatap punggung Luna yang semakin menjauh. Tangannya mengepal menandakan ia sangat marah.


Lo benar-benar mau melakukan kesalahan yang sama, LAGI?


...****...


Reyhan menatap pintu lilac dengan hiasan unicorn yang tertutup. Selepas sekolah Luna sama sekali tidak keluar kamar. Rey sangat khawatir apalagi putrinya tidak makan tadi siang. Pria itu sudah mencoba membujuk Luna, namun tidak berhasil.


"Sayang kamu nggak papa?"


"Ayo makan dulu jangan buat ayah khawatir."

__ADS_1


Rey menghembuskan nafasnya pasrah. Itu semua percuma, tidak ada jawaban sama sekali dari putrinya.


Rey lalu menghubungi seseorang berharap bisa membujuk Luna.


Tak butuh waktu yang lama orang itu sudah berada diperkarangan rumah Rey.


"Luna dimana om?"


"Di dalam kamarnya. Om udah berusaha buat dia keluar, tapi nggak berhasil. Om benar-benar khawatir."


"Om jangan khawatir, Nara akan berusaha semaksimal mungkin buat ngebujuk Luna," ucap Nara meyakinkan Rey. Entah kejadian apa yang Nara lewatkan saat dirinya tidak disekolah, kayaknya Luna hanya perlu pendengar yang baik disampingnya.


Tok tok tok


"Luna, ini gue."


Ceklek


Pintu terbuka memperlihatkan wajah Luna yang kusut, mata nya sembab karena menangis. Luna masuk yang diikuti Nara dari belakang, tak lupa gadis itu menutup kembali pintu kamarnya.


"Lo sakit? Apa ada yang macam-macam sama lo disekolah?" Tanya Nara dan Luna menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Terus apa? Lo nggak mau cerita sama sahabat lo ini hem?"


Luna memeluk Nara dan saat itulah tangisnya pecah kembali. Rasanya sangat menyakitkan. Nara mengelus pelan punggung Luna menyalurkan semangat agar Luna sedikit tenang.


"Arka jahat, gue benci sama Arka. Gue nggak salah, Nara." Racau Luna disela-sela tangisnya.


"Arka?"


Padahal gue udah peringatin dia saat ulang tahunnya, tapi malah cowok brengsek itu lebih cepat nyakitin Luna.


"Nanti malam mau ikut gue nggak?" Tanya Nara saat melepaskan pelukannya.


"Kemana?"


"Ada deh. Pokoknya nanti malam gue bakal bikin lo senyum lagi." Luna hanya memberi anggukan sebagai jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2