
"Nanti pulang sekolah ikut gue yuk, Na."
"Nggak."
"Oke kalau gitu, pulang bareng gue terakhiran." kata Arka mencoba untuk membujuk Luna.
Luna kembali menyeruput jus jeruk kesukaannya, "Nggak, Arka. Gue nggak mau!''
"Nanti gue beliin yogurt deh," ujar Arka mencoba menyogok.
Luna hampir merobohkan pendirinya karena mendengar kata 'yogurt'.
Ya tuhan kuatkan batin Luna. Untung saja dengan cepat Nisa ikut membantu dirinya.
"Lo kenapa si, Ka, maksa banget." kata Nisa pada Arka.
"Ini penting, Ca." jawabnya.
Tiba-tiba Karlo datang dari belakang dan langsung merangkul Arka, "Gue nggak akan biarin lo nyakitin bu bos kita ya."
Sebenarnya inti ALTARES masih kecewa dengan apa yang Arka lakukan tempo hari, namun mereka tidak berhak mengatur apa yang cowok itu mau. Arka sebenarnya sosok orang yang jarang nyakitin perempuan, mungkin karena ini berhubungan dengan Lolly, makanya cowok itu tega menyakiti Luna.
"Iya tau gue salah, tapi gue nggak akan nyakitin Luna." kata Arka mencoba meyakinkan Karlo dan inti ALTARES.
"Kalau sampai lo nyakitin lagi, gimana?" kata Razi ikut-ikutan. Cowok playboy itu sekarang sudah tidak separah dulu. Razi sekarang hanya fokus pada satu perempuan, mungkin.
"Terserah lo mau ngapain gue," kata Arka bersungguh-sungguh.
Semua ALTARES menganggukan kepalanya paham. Arka jika sudah berjanji, cowok itu pasti akan menepatinya. Nara dan Reza tidak ikut ke kantin, mereka berdua berada di taman membutuhkan waktu untuk berdua.
Nisa menyikut lengan Luna yang berada di sampingnya, "Jadi gimana, Lun?" Luna nampak sedang memikirkan sesuatu. "Oke, tapi lo harus traktir gue yogurt selama tiga bulan berturut-turut."
Arka melotot mendengar ucapan Luna. Bukannya dirinya tidak mampu membeli semua itu, bahkan jika mau Arka bisa membeli dengan pabrik-pabriknya. Arka tidak mau jika Luna sakit jika memakan terlalu banyak yogurt . "Gue nggak mau,"
"Ya udah, gue juga nggak mau." jawab Luna pada Arka.
__ADS_1
"Na, gue mohon."
Semua anggota ALTARES melongo seketika, ini kali pertama ketua mereka memohon pada seseorang. Arka itu tipikal orang yang tidak mau memohon dan lebih memilih memaksa, namun saat berhadapan dengan Luna cowok itu nampak seperti bayi kucing yang menggemaskan.
"Gue nggak salah denger apa?" kata Okta lalu cowok itu mengeluarkan ponselnya. "Coba, Ka, lo ngomong lagi biar gue rekam. Soalnya sejarah nih ketua ALTARES memohon seperti itu."
Arka memberi tatapan tajam pada Okta, lalu setelahnya cowok itu tersenyum kikuk dan terpaksa mengantongi kembali ponselnya. Bisa gawat jika Arka sudah berada di mode mengamuk.
"Lo ada niatan buat ngajak Luna balikan, Ka?" tanya Devano. Luna yang mendengar itu tiba-tiba tersedak, Nisa dengan pelan mengusap punggung Luna.
Luna tak habis fikir, kenapa cowok itu bertanya saat ada Luna disini. Kenapa tidak saat Luna menghilang dari hadapan mereka.
"Nggak." jawab Arka.
"Loh kenapa?" tanya Karlo.
"Ya nggak papa, emang harus ada alasannya ya?" kata Arka dengan entengnya. Luna yang mendengar itu hanya tersenyum kecut, hatinya terasa di iris-iris menjadi berkeping-keping. Apakah Arka berniat mempermainkan dirinya.
Luna berdiri dari duduknya. Ia pergi membayar jus yang telah ia minum.
Arka hendak menyusulnya, namun tiba-tiba Lolly datang dengan Liona di sampingnya.
"Aku boleh duduk di sini nggak?" tanya Lolly pada Arka yang menunjuk bangku kosong di sebelahnya.
"Boleh."
"Makasih," baru sebentar Lolly mendaratkan bokongnya di kursi cowok itu bangkit dari duduknya. "Loh kamu mau kemana?'' tanya Lolly.
"Sorry, Lolly. Gue nggak bisa belajar bareng sama lo." kata Arka lalu pergi meninggalkan Lolly, namun baru beberapa langkah kakinya terhenti karena ucapan Liona. "Arka, lo lihat Gilang nggak?"
Arka memutar tubuhnya, "Emang gue peduli dia dimana?" setelah mengatakan itu Arka benar-benar pergi dari sana. Liona nampak kesal karena sifat Arka berbanding balik dengan Gilang. Gilang itu ramah, pengertian, baik, dan itu membuat Liona jatuh hati padanya.
...*****...
"Kayaknya dia benar-benar mau cegat lo deh, Lun." kata Nisa saat melihat Arka di depan pintu kelasnya. Bel sekolah memang sudah berbunyi lima menit yang lalu, Luna sengaja pulang terakhir karena nggak mau bertemu Arka di parkiran, tetapi cowok itu justru mendatangi ke kelasnya.
__ADS_1
"Arka dengan keras kepalanya," kata Luna. Cowok itu tidak mau menyerah begitu saja. Apa yang cowok itu mau pasti harus terwujud.
"Gue duluan ya, udah di tunggu Alga soalnya," Nisa menepuk pundak Luna. "Semoga lo nggak di culik sama Arka." Setelah mengatakan itu Nisa tertawa dan Luna bisa lihat Nisa bicara pada Arka saat melewatinya, Luna bahkan tidak tahu mereka berbicara apa.
Arka berjalan menghampiri Luna dengan tangannya di masukan saku, cowok merangkul Luna sok akrab.
"Ikut gue bentar, ya." kata Arka pada Luna.
"His," Luna menjauhkan tangan cowok itu dari pundaknya. "Gue nggak mau ayah khawatir karena gue pulang telat." kata Luna mencari alasan.
Arka memperlihatkan ponselnya pada Luna. Gadis itu membaca pesan dari ayahnya.
"Jadi ibu bos, gimana?" tanya Arka penuh dengan kemenangan. Arka bisa melihat gadis itu diam saja dan menghembuskan nafasnya pasrah. "Lo diam, gue anggap sebagai iya."
Arka menggandeng Luna sepanjang jalan, Luna hanya pasrah tanpa mau memberontak. Melawan Arka hanya mengurus tenaganya.
Bukannya Arka membawa Luna ke parkiran, cowok itu justru membawa Luna ke lapangan di dalam ruangan. Luna hanya patuh dan mengikuti apa yang Arka mau.
"Buat apa?" tanya Luna saat Arka memberikan ponsel cowok itu padanya.
"Tolong rekam gue saat gue main." perintah Arka. Cowok itu pergi ganti baju lalu segera main basket. Arka ingin mengirim video ini pada ayahnya, ia akan menunjukkan bahwa dirinya bisa berlatih sendiri tanpa haru dilatih ayahnya.
Luna di buat kagum dengan permainan Arka, cowok itu sangat mudah dalam mengendalikan bola. Luna akui bahwa Arka adalah kapten basket yang sesungguhnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Arka sudah selesai dengan permainan nya. Luna menghampiri dengan memberikan sebotol air minum.
"Lo hebat, kenapa berhenti main basket?" tanya Luna lalu duduk disamping Arka.
Arka meneguk minum dari Luna hingga menyisakan setengah, "Karena lo.''
"Kok gue?" kata Luna bingung.
"Karena gue sibuk ngejaga lo," jawab Arka.
__ADS_1
"Karena ayah?" Luna berdiri dari duduknya. "Cuman gara-gara ayah gue pernah menjadi ketua geng, lo mau ngelakuin itu semua?"
Luna tak habis pikir tentang pemikiran cowok itu. Apakah Arka tidak melihat resiko dari sifat dia ke Luna.