
“Aku mengeluarkannya di dalam,” bisik Ken di telinga Kana.
“Tidak masalah, tugas akhirku sudah selesai.” Untuk pertama kalinya Kana seolah setuju jika ia hamil membuat Ken menatap wajah wanitanya.
“Benarkah, kau tidak keberatan jika di dalam sini tumbuh benihku?” tanya Ken sambil mengelus perut Kana.
“Aku mencintaimu, baik sekarang atau nanti, di rahimku hanya akan tumbuh benihmu, bukan?”
“Terima kasih, baby, ” Ken yang terharu tak terasa menitikkan air mata. Ya, ia akui hubungan mereka salah, tapi begitulah cinta. Selama bersama Kana, Ken selalu mencuri kesempatan saat bercinta agar bisa mengisi rahim Kana dengan benihnya. Sayangnya, selama ini selalu gagal, karna Kana yang selalu mengingatkannya. Ken berpikir jika ada anak di antara mereka, Kana akan terikat dengannya dalam sebuah pernikahan. Kana akan menjadi miliknya dan hanya satu-satunya pemilik jiwa raganya. Sepasang kekasih itu pun akhirnya terlelap menyelami mimpi indah yang bisa saja menghampirinya.
__ADS_1
***
Di tempat yang berbeda, Shera tersenyum semringah. Beberapa hari terlambat kedatangan tamu bulanannya, ia pun berinisiatif untuk melakukan tes kehamilam sendiri dan hasilnya tentu membuat hatinya berbunga-bungan karena garis dua yang ditunjukan menandakan ia benar-benar mengandung benih lelaki pujaan hatinya. Meski cara yang digunakan Shera memang salah, namun ia benar-benar sepenuh hati mencintai Ken. Bahkan, ia belajar dengan giat demi mengimbangi keluarga Ken dan merubah penampilannya menjadi semenarik mungkin. Untuk memastikan kehamilannya Shera berniat menemui seorang dokter kandungan siang ini di sebuah Rumah sakit di Jepang. Kali ini ia yakin, Ken hanya akan terikat dengannya, tugasnya hanyalah menjaga benih yang sedang tumbuh di rahimnya agar tetap ada dan tumbuh dengan baik.
Shera mencoba menghubungi Ken, namun lagi-lagi panggilannya tidak dapat terhubung. Entah memang sibuk atau memang Sengaja, Ken benar-benar menghindarinya semenjak tidur bersamanya.
“Tidak masalah, Ken. Mau tidak mau, suka atau pun tidak, kau akan tetap menjadi milikku,” gumam Shera sambil mengelus perut ratanya. Shera pun beranjak untuk membersihkan diri dan bersiap untuk memeriksakan kehamilannya, namun sebelumnya ia akan terlebih dahulu singgah ke kantor tempat Kakaknya bekerja dan mengabarkan berita kehamilannya.
***
__ADS_1
Shera melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri memasuki perusahaan Hasyim Corp. Namun baik resepsionis mau pun para pegawai yang berpapasan dengannya hanya bersikap biasa saja, layaknya pengunjung biasa. Shera yang merasa sudah di atas angin, tentu menginginkan sapaan dan penghormatan atas kedatangannya ke perusahaan ini karna ia sedang mengandung calon pewaris perusahaan Hasyim Corp. “Datar sekali sikap mereka. Awas saja, ku tandai wajahnya, harusnya mereka menghormatiku sebagai calon nyonya pemilik perusahaan,” batin Shera.
Keluar dari lift Shera langsung masuk ke ruangan Kakanya tanpa mengetuk pintu.
“Kak!” teriakan Shera menggema di ruangan Syafiq- Kakaknya.
“Harusnya, kau ketuk pintu dulu, She. Belajarlah untuk lebih sopan.” Ujar Syafiq. “Jadi, apa yang membawamu ke sini di pagi hari?”
“Ini.” Shera memberikan sebuah kotak kecil kepada Syafiq. “Buka lah, Kak. Ini kejutan manis untukmu.” Syafiq mengernyitkan dahi dan karna rasa penasarannya tentang kejutan dari sang adik, ia mulai membuka kotak pemberian Shera.
__ADS_1
“She, kau gila!” itu lah kata pertama yang diucapkan Syafiq ketika ia melihat dengan jelas benda yang dipegangnya.