Asmara Abad 21

Asmara Abad 21
Bab 16


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang telah direncanakan Syafiq membawa Shera kembali ke mansion utama keluarga Hasyim.


Di ruang keluarga sudah berkumpul, Ken beserta kedua orang tuanya minus Kana yang sejak tadi malam setelah mendapat penanganan dari dokter ia memilih kembali ke Apartement, ia mengurung diri, bahkan ponselnya pun tak bisa dihubungi. Hanya saja keluarga Ken sudah menempatkan seorang pelayan kepercayaan keluarganya untuk menemani Kana.


"Kami sepakat bahwa Ken akan bertanggung jawab atas kehamilanmu, Shera," ujar tuan Hasyim sebagai kalimat pembuka. Ya, setelah perdebatan sengit tadi malam antara Ken dan tuan Hasyim, pada akhirnya Ken mengalah untuk bertanggung jawab atas kehamilan Shera, ia akan menikahi Shera dan memberikan status untuk keturunannya.


"Ma-maksud tuan-" tanya Syafiq yang terkejut dengan penuturan tuan Hasyim.


Mendengar ucapan tuan Hasyim, bibir Shera justru melengkungkan sebuah senyum. "Sudah ku prediksi, tuan Hasyim memang calon mertua yang baik," batin Shera.


"Ken akan menikahi adikmu, Fiq," ujar tuan Hasyim serius. "Bagaimana pun cara keturunanku hadir di rahim Adikmu, di janin itu tetap mengalir garis keturunan kami."

__ADS_1


Bukan begitu, Ken?" tanya tuan Hasyim pada putranya. Ken hanya mengangguk. Usapan lembut tangan wanita yang telah melahirkannya memantapkan ia untuk bertanggung jawab.


"Kapan kau siap menikah, nona Shera?"


"Secepatnya lebih baik tuan, sebelum perutku semakin membesar."


"Aku ingin pernikahan sederhana dan tertutup," ujar Ken. "Aku harap kau bisa mengerti posisiku, She, terlebih ada hati yang harus aku jaga."


Patuh- Shera pun mengangguk. "Aku tahu Ken ini berat untukmu. Tapi, aku tidak mungkin menanggung beban sendirian untuk bayi kita," ujar Shera. Padahal dalam hatinya ia bersorak sorai Shera tidak peduli tentang mewah atau tidaknya acara pernikahannya ia hanya ingin menjadi nyonya dari pria yang sudah lama ia cinta. Menjadi satu-satunya dan di akui oleh dunia.


Sedangkan di dalam Apartementnya Kana tak hentinya menangis sejak tadi malam bahkan perutnya pun belum terisi oleh makanan apa pun semenjak ia terbangun tadi pagi.

__ADS_1


"Non, ayo kita sarapan, bibi sudah siapkan makanan kesukaan Non Kana," ujar seorang pelayan di depan pintu kamar Kana. Pelayan kepercayaan keluarga Hasyim itu memang sudah mengenal Kana sejak lama, bahkan apa pun makanan yang di suka atau tidak di sukai oleh Kana ia sudah hapal.


"Nanti saja, bi. Aku belum lapar," jawab Kana tanpa membuka benda persegi panjang tersebut.


"Ya sudah, bibi simpan di meja makan saja ya, kalo lapar Non bisa langsung makan saja." Akhirnya bibi pelayan mengalah untuk tidak terlalu memaksa Kana. Ia pun segera mengirimkan pesan pada majikannya mengenai kondisi Kana.


Di dalam kamarnya Kana menatap gerimis dari jendela kaca kamarnya. Langit Jakarta hari ini menghitam di iringi gerimis yang tak berhenti sejak tadi malam. Seakan-akan semesta menertawakan nasibnya, kehilangan orang yang dicintainya, terlebih ia adalah laki-laki pertama yang mengambil mahkota kesuciannya.


"Bagaimana aku menjalani hidupku, Ken?" gumam Kana di iringi isak tangis yang memilukan. Kedua tangannya memegang sebuah bingkai foto yang menampilkan kemesraannya bersama kekasih yang mungkin sebentar lagi bukan lagi miliknya. Tangan Kana beralih mengusap perut ratanya.


Deg!

__ADS_1


Muncul kekhawatiran di benak Kana. Ia mengingat betul selama beberapa minggu terakhir mereka bercinta Ken tidak menggunakan pengaman seperti biasanya.


"Bagaimana kalo di dalam sini juga ada benih milikmu, Ken?" tanya Kana.


__ADS_2