
Kana mematut dirinya di depan cermin, malam ini ia terlihat sangat memesona, tubuh indahnya berbalut dengan dress berwarna peach yang mampu memancarkan warna kulit putihnya tak ketinggalan sebuah kalung dengan design elegan yang bertahtakan liontin berlian menambah pancaran kecantikan alaminya.
tak jauh berbeda dengan penampilan kekasihnya, Ken malam ini terlihat sangat tampan. Tubuh atletisnya berbalut dengan stelan jas mewah koleksi designer kenamaan.
"Sudah siap, baby?" Ken menghampiri Kana yang masih saja merapikan penampilannya. Seulas senyum terlihat dari pantulan cermin, Kana beranjak dan langsung menyambut gandengan tangan prianya. Sepasang kekasih itu akhirnya bergegas menuju basement Apartemen tempat dimana terparkir kendaraan mahal prianya. Sepanjang perjalanan menuju mansion Ken tak pernah melepaskan genggaman tangannya, bahkan sesekali ia mengecup mesra punggung tangan wanitanya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, sepasang kekasih itu pun tiba di mansion utama keluarga Hasyim. Keduanya langsung di sambut oleh para pelayan yang menanti kedatangannya. Tidak ada kecanggungan bagi Kana menapaki mansion mewah tersebut karna ia sudah beberapa kali menghadiri acara keluarga besar prianya.
Tampak dari kejauhan seorang wanita cantik dengan balutan busana elegant tersenyum hangat menyambut sepasang kekasih itu. Kedua wanita berbeda generasi itu pun langsung berhambur dan saling memeluk. "Selamat untuk kelulusanmu, sayang," ujar Mami Keiko dengan tulus.
"Mi, kenapa hanya Kana yang di peluk? Mami tidak merindukan anak Mami yang tampan ini?"
__ADS_1
"Dasar kamu anak nakal!" bukan sebuah pelukan yang di dapat dari Mami tercinta, Ken malah mendapat pukulan ringan di lengannya. "Kamu ini pulang dari Jepang malah nyangkut di Apartemement Kana. Kau buat secapek apa Kana setiap hari?"
"Hahaha," Ken tergelak mendengar ucapan Maminya. "Mami ini seperti tidak pernah muda saja."
"Ayo, kita temui papi."
***
Aneka macam hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Disana tampak sang papi sudah duduk dengan tenang menanti tamu undangannya. Kana langsung mendekat dan menyalami ayah prianya.
Mereka pun memulai makan malamnya dan sepanjang makan hanya terdengar dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring.
"Jadi, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" pertanyaan Papi Hasyim memecah keheningan di sela acara makan malam.
__ADS_1
"Secepatnya, Pi. Iya, kan, baby?" Ken menjawab mantap, pandangannya beralih pada wanita yang duduk disampingnya. Kana pun mengangguk mengiyakan.
"Syukurlah. Segera persiapkan semuanya." Ujar Papi Hasyim. "Jangan sampai cucuku sudah tumbuh, kalian belum menikah juga. Apa kata rekan bisnisku nanti."
deg!
Meski Papi Hasyim mengucapkannya dengan nada yang datar tetap saja membuat Kana malu. Artinya kedua orang tua kekasihnya memang sudah tahu, bahwa hubungannya dengan Ken memang sudah seintim itu. Kana menggigit bibir bawahnya, seketika ia juga menunduk karena malu.
"Hey, it's okay," Ken meraih tangan Kana dan menggenggamnya erat, menyalurkan ketenangan untuk mengurangi kegugupan Kana.
"Pi, jangan membuat Kana takut." Ken menegur Papinya yang seolah sedang menakuti Kana.
"Hahaha." Kali ini Papi Hasyim tergelak. Kana yang mendengar tawa dari calon ayah mertuanya pun mengangkat wajahnya dan menatap sang calon mertua laki-lakinya.
__ADS_1
"Aku hanya mengingatkan kalian."
"Permisi, tuan nyonya, di luar ada tamu mencari tuan besar." Seorang pelayan datang menghampiri keempat orang yang sedang menikmati makan malam. Merasa tidak mengundang atau pun ada temu janji dengan siapa pun Papi Hasyim mengernyitkan dahinya.