
"Permisi, tuan nyonya, di luar ada tamu mencari tuan besar." Seorang pelayan datang menghampiri keempat orang yang sedang menikmati makan malam. Merasa tidak mengundang atau pun ada temu janji dengan siapa pun Papi Hasyim mengernyitkan dahinya.
Ketiganya tampak bingung, karna tidak biasanya Papinya mengundang tamu tanpa jamuan makan malam.
"Aku temui dulu tamuku, kalian lanjutkan saja."
Di saat mendekati ruang tamu, tuan Hasyim merasa bingung mengapa asisten Ken yang dari Jepang justru ingin menemuinya. "Apa ada masalah yang besar di perusahaan cabang sampai kau ingin menemuiku, Syafiq?" Tuan Hasyim pun duduk setelah sebelumnya berjabat tangan. Mata tuan Hasyim melirik pada wanita cantik di sebelahnya, sungguh ia bingung untuk memulai dari mana. Karena kedua orang di hadapannya hanya diam.
"Apa yang membawamu ke sini, Syafiq?"
"Tu-tuan, saya mengantar adik saya untuk menemui, tuan."
"Apa kita saling mengenal? atau pernah bertemu sebelumnya, nona?" tanya tuan Hasyim pada Shera. Namun Shera menggelengkan kepalanya.
"Lalu, untuk apa anda ingin menemuiku, nona?"
"Tuan, sebelumnya aku minta maaf." Sejenak Shera mengambil napas dalam untuk membuang rasa gugupnya. "Saya ingin mengatakan sesuatu tentang hubungan saya dengan putra tuan,"
__ADS_1
Tuan Hasyim lagi-lagi terheran-heran apa sesungguhnya yang terjadi. Yang ia ketahui, Kana masih satu-satunya wanita yang di cintai Ken, lalu hubungan apa yang di maksud wanita di hadapannya ini.
"To the point saja, nona. Apa yang ingin kau sampaikan,"
"Aku mengandung anak dari putra tuan," ujar Shera.
Tuan Hasyim terlihat kaget, namun sesaat kemudian ia bisa menguasai dirinya kembali. "Kau ingin Ken bertanggungjawab?"
Shera punn mengangguk. Sedangkan Syafiq yang duduk di sebelah Shera justru hatinya tidak tenang, ia sangat takut akan kemarahan tuannya. Beberapa tahun bekerja dengan Ken, ia susah hafal betul bagaimana jika tuannya murka.
"Aku tidak bisa memberikan keputusan. Jika memang benar janin yang ada di rahimmu milik putraku, dia pasti akan bertanggungjawab."
***
Mami Keiko, Ken dan Kana sedang bersenda gurau di gazebo belakang rumahnya sambil membicarakan tentang pernikahan Ken dan Kana. Ketiganya langsung menoleh saat pelayan datang menghampirinya.
"Baby, aku menemui tamu Papi dulu, ya." Kwn sekilas mengecup kening Kana. "Mi titip calon istriku ya." Mami Keiko mengacungkan jempol menandakan setuju.
__ADS_1
***
"Shera-" Ken merasa sesuatu yang buruk saat ia melihat tamu Papinya ternyata wanita yang sangat ia hindari. Hatinya mulai gelisah, ia takut apa yang ia perkirakan yang membawa Shera menemuinya. Ken juga baru menyadari keberadaan Syafiq- asistennya.
"Ken, duduklah." Tuan Hasyim menepuk sofa agar Ken duduk disebelahnya. "Jadilah laki-laki sejati, jelaskan apa yang terjadi."
Dengan perasaan hancur, karna ia tak ingin mengingat malam itu. Ken pada akhirnya menceritakan semuanya, detail tanpa terlewatkan setiap menit kejadian yang ia alami. Setelah ia bercerita, Ken menunduk, air matanya pun jatuh menandakan ia menyesalinya, merutuki kebodohannya.
"Maafkan aku, She. Tapi, ku harap Kau bisa melupakan semuanya."
"Bagaimana aku bisa melupakan semuanya, Ken. Kalau di dalam sini sudah tumbuh buah cinta kita." Ujar Shera sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"****!" umpat Ken. Raut wajahnya mulai memerah, memancarkan kemarahan. "Bagaimana kau bisa mengatakan itu buah cintaku, jika kau menjebakku!" ujar Ken sambil mencekik leher Shera.
Tuan Hasyim dan Syafiq pun berusaha menyelamatkan Shera dari amukan Ken.
"Tuan, lepaskan. Adikku bisa mati!" teriak Syafiq.
__ADS_1
"Adikmu?" tanya Ken sambil memberikan tatapan tajam pada asistennya.