
Matahari mulai menampakan cahaya, mengusik lelap seorang wanita di kamar sebuah hotel mewah. Ia meraba mencari seseorang yang tadi malam sudah menghabiskan malam indah bersamanya. Ia tak hentinya tersenyum kala mengingat betapa nikmat dan seksinya laki-laki yang menggagahinya tadi malam.
"Ken, kali ini kamu milikku," ucapnya sambil mengelus perut ratanya.
Ya, Shera memang telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Sebulan lalu ia mendatangi dokter kandungan untuk berkonsultasi dan meminta obat penyubur kandungan. Ia tak ingin melewatkan kesempatan yang langka untuk bersama sang pujaan hatinya. Ia mengklaim Ken sebagai pujaan hati sejak pertama kali ia jatuh hati pada sosok lelaki tampan itu.
Keadaan yang berbanding terbalik. Di saat ken menyesali kejadian yang menimpanya. Shera justru menunjukan binar bahagia di wajahnya. Setelah ia membersihkan diri, Shera bergegas kembali ke Mansion milik kakaknya.
“Kau baru kembali?” Tanya Syafiq saat berpapasan dengan Shera.
“Terima kasih, Kak.” Bukannya menjawab, Shera justru mengucapkan terima kasihnya kepada sang kakak dan berlalu begitu saja menuju kamarnya di lantai atas.
__ADS_1
“She...” panggilan Syafiq menghentikan langkah Shera. “Kau baik-baik saja?”
Shera pun berbalik dan tersenyum bahagia, meski masih tampak lelah. “Aku hanya capek, Kak.” Kata Shera. “Terima kasih atas bantuanmu, ku harap akan segera tumbuh keponakan yang lucu untukmu,” ucap Shera sambil mengelus perutnya.
***
Sedangkan di perusahaan Hasyim Corp, Ken sedang berkutat dengan beberapa dokumen yang harus ia periksa dengan teliti. Ia ingin segera menuntaskan pekerjaannya dan segera kembali ke Jakarta, ia sudah sangat merindukan wanitanya.
“Permisi, tuan. Anda memanggil saya?” Ken beralih menatap sekretaris yang tadi ia hubungi untuk datang keruangannya.
“Agenda hari ini hanya temu janji dengan nona Shera pengacara yang menangani proyek yang bermasalah, namun jadwalnya di undur, baru saja sekretaris nona Shera mengabarkan bosnya kurang sehat,” ujar Robert.
__ADS_1
Mendengar ucapan sekretarisnya, seketika kepala Ken berdenyut. Sungguh ia pusing bukan kepalang, ia merasa bersalah terhadap Shera, di sisi lain ia juga merasa berdosa telah mengkhianati tunangannya.
“Tuan anda baik-baik saja?” tanya Robert yang melihat tuannya tampak lelah.
“Kau boleh pergi,” Ken tidak menjawab pertanyaan sekretarisnya. “Dan untuk pertemuan dengan pengacara Shera, tolong sampaikan pada wakilku untuk menggantikan aku.”
“Baik, tuan,”
***
Tiga minggu berlalu Ken benar-benar menghindari Shera, ia hanya fokus mengerjakan pekerjaan di dalam ruangannya, dan untuk segala aktifitas lapangan dan pertemuan di luar kantor diwakilkan pada orang kepercayaannya. Ia pun mengabaikan pesan yang di kirim oleh Shera yang meminta untuk bertemu dengannya. Ia benar-benar tidak ingin terlibat lagi dengan Shera, terserah jika ia di anggap laki-laki brengsek yang tidak bertanggung jawab setelah merenggut kegadisan teman lamanya.
__ADS_1
“Ku harap benihku tidak akan pernah tumbuh dirahimnya. Hanya Kana yang berhak mengandung benihku,” gumam Ken sambil menatap pemandangan indah di atas awan. Ya, setelah tiga minggu meninggalkan kekasihnya, kini ia berada di pesawat pribadi milik keluarganya menikmati perjalanan menuju Jakarta sambil berbalas pesan dengan wanitanya.
Tak jauh berbeda dengan Ken, bibir Kana tak berhenti tersenyum bahagia. Hari ini, setelah beberapa minggu berlalu, ia akan bertemu dengan kekasihnya. Tanpa Kana tahu, sesuatu yang besar akan terjadi pada hubungan ia dan kekasih.